Showing posts with label Public Opinion. Show all posts
Showing posts with label Public Opinion. Show all posts

Monday, May 17, 2021

Pentingnya Pengkinian Cita-Cita

Sebagai orang yang realistis, salah satu hambatan terbesar saya dalam merangkai cita-cita ialah selalu bermain di zona aman. Saya cenderung menuliskan hal-hal yang paling mungkin dicapai dan seringkali tidak berani menuliskan hal yang out of the box. Bukan, bukan berarti cita-cita saya rendah. Namun, saya memilih yang paling mudah digapai. Misalnya, dalam lima tahun kedepan saya bercita-cita memiliki rumah. Namun, saya tidak berani menuliskan standar rumah yang tinggi seperti rumah yang dikembangkan oleh Agung Podomoro atau Agung Sedayu. Bagi saya, rumah kecil di pinggiran kota sudah cukup. Begitu pula dengan cita-cita kuliah S2. Saya tidak berani menuliskan syarat kampus ivy league dengan jalur full scholarship. Alhasil, saya sudah cukup puas dengan kuliah master di dalam negeri.

Lalu, apakah hal ini sesuatu yang buruk? Sebenarnya tidak juga. Saya sangat bersyukur dapat mewujudkan satu demi satu mimpi meski secara perlahan. Namun, keinginan untuk terus menantang diri sendiri agar jadi pribadi yang lebih baik muncul begitu saja. Salah satu penyebabnya, saya teringat pada selembar kertas yang saya tulisi dengan harapan dan cita-cita dalam beberapa periode kedepan, seperti tiga tahun lagi, lima tahun lagi, sepuluh tahun, dan seterusnya. Kertas tersebut saya tulis bukan sepenuhnya atas kesadaran diri sendiri, namun diminta oleh salah seorang trainer yang memberi materi di kantor saat saya baru mulai bekerja.

Saya ingat sekali dengan beberapa hal yang saya tulis, diantaranya, mendapat promosi jabatan dari kantor, memiliki rumah sendiri (meski kredit), dan melanjutkan studi ke jenjang S2. Ajaibnya, sebelum lima tahun bekerja mimpi-mimpi tersebut telah tercapai. Meski ya itu tadi, dengan standar yang minim. Makannya saya jadi overthinking, kenapa sih dulu tidak saya tulis saja cita-cita masuk Forbes Under 30, beli rumah di Menteng, atau kuliah S2 di Harvard sekalian. Ya, namanya juga manusia, sudah jadi sifatnya untuk tidak pernah puas. Tapi tenang saja, meski begitu saya selalu bersyukur atas pencapaian saat ini.

By the way, saking tidak percaya diri dan malunya saya saat menuliskan cita-cita tersebut, sampai-sampai kertas itu akhirnya saya buang. Setelah itu, saya baru kepikiran dan menyesal kenapa dibuang, padahal bisa jadi kertas bersejarah kelak ketika semuanya sudah terwujud. Kertas itu pula yang akhirnya menginspirasi saya untuk menulis lagi di blog yang sudah tidak terurus ini.

Berhubung sebagian cita-cita sudah tercapai, dan sebagiannya lagi ada juga yang belum tercapai, saya rasa penting juga untuk kita selalu melakukan update atas cita-cita yang kita miliki. Ibarat know your customer-nya perbankan, kita juga semakin bisa mengukur kemampuan dan profil diri kita. Jika nomor telepon dan alamat nasabah yang berubah harus selalu dikinikan, begitu pula cita-cita dan harapan.

Adanya cita-cita dan harapan dapat memacu semangat kita, apalagi jika satu per satu mulai tercapai, rasanya seperti berhasil checkout barang-barang yang sudah masuk wishlist Tokopedia sejak setahun lalu. Ada bahagia yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. Meski begitu, kadang tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Inilah kenapa cita-cita tersebut juga harus fleksibel sesuai kondisi kita. Baiklah, kalau begitu mari kita tulis kembali cita-cita dan berdoa agar dapat dimudahkan dalam mewujudkannya, aamiin.

Saturday, January 2, 2021

Keuntungan dan Risiko Membeli Rumah KPR Syariah Non Bank

Memiliki rumah merupakan salah satu impian terbesar bagi seseorang. Namun, harganya yang tidak terjangkau membuat banyak orang pesimis bisa memiliki rumah. Sebenarnya, banyak jalan untuk mnemiliki rumah, salah satunya ialah dengan KPR Syariah Non Bank. Skema ini cukup populer belakangan ini karena menawarkan beberapa keuntungan dibandingkan pembelian menggunakan KPR Bank. Tetapi, dibalik berbagai kemudahan tersebut tentu ada beberapa konsekuensi yang harus Anda terima. Berikut ialah pengalaman saya dalam memanfaatkan fasilitas ini untuk memiliki rumah pertama. Disclaimer: pengalaman ini mungkin saja berbeda dengan yang Anda alami

Keuntungan

  1. Akad sesuai prinsip Syariah. Bagi sebagian orang, KPR Bank bertentangan dengan ajaran Islam karena dinilai mengandung bunga dan denda. Adanya KPR Syariah Non Bank telah memberi opsi yang lebih aman secara syariat karena akadnya yang dianggap tidak bathil.
  2. Bebas biaya-biaya, seperti, provisi bank, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, BPHTB, appraisal, dan sebagainya. Salah satu penghambat orang untuk mengambil KPR melalui Bank ialah biaya awal yang besar, bahkan bisa sampai 5% dari harga rumah. Selain menabung untuk DP, masyarakat terkadang lupa bahwa terdapat biaya kredit yang juga menjadi kewajiban. Adanya KPR Syariah Non Bank tentu memberi kemudahan bagi calon pembeli rumah karena bisa fokus pada tabungan untuk DP saja.
  3. Besaran angsuran yang lebih rendah. KPR Syariah Non Bank biasanya menggunakan akad jual beli sesuai dengan harga yang sudah disepakati kedua belah pihak. Meskipun di awal harganya menjadi jauh lebih tinggi dibanding harga pasar, namun besaran angsurannya akan flat sampai lunas. Pada kasus rumah yang saya beli, jika saya simulasikan, maka margin cicilan rumah hanya setara dengan 8% suku bunga bank konvensional menggunakan skema anuitas. Ini terhitung murah, disaat suku bunga floating KPR yang mencapai 11-14%.
  4. Administrasi yang sederhana. Pengajuan KPR Non Bank ini hanya memerlukan KTP, Kartu Keluarga, NPWP, dan Surat Nikah (jika sudah menikah). Setelah semua syarat terpenuhi, pinjaman Anda akan segera diproses. Nama Anda juga tidak dilakukan pengecekan BI Checking (sekarang menjadi SLIK OJK), sehingga bila memiliki tunggakan utang pada lembaga keuangan lainnya masih ada harapan pinjaman Anda diterima.
Risiko
DIbalik berbagai kemudahan yang diberikan, tentu Anda harus memahami berbagai risiko yang harus Anda hadapi jika mengajukan KPR Syariah Non Bank.

  1. Legalitas. Jika menggunakan KPR Bank, maka seluruh risiko akan ditanggung Bank. Inilah alasan mengapa KPR Bank terkesan lebih rumit, karena Bank sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Mulai dari harga rumah yang dinilai secara independen oleh appraiser untuk menghindari mark up harga yang tidak masuk akal, pengecekan legalitas tanah dan bangunan oleh notaris termasuk pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional, pengalihan risiko gagal bayar akibat kematian serta pengalihan risiko bangunan rusak akibat terbakar ke pihak asuransi. Hal semacam ini belum tentu Anda dapatkan saat membeli rumah dengan KPR Syariah Non Bank.
  2. Kredibilitas Developer. Perumahan yang dibangun dengan skema KPR Non Bank umumnya dilakukan oleh developer kecil. Modal yang dimiliki oleh perusahaan ini sangat terbatas. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa saja rumah Anda terancam gagal dibangun. Seandainya dibangun, prosesnya akan sangat lamban karena developer membangun bertahap memanfaatkan cicilan yang dibayar konsumen.
  3. Penyimpanan Sertifikat. KPR merupakan kredit jangka panjang, dimana saat ini rata-rata pengajuan KPR menggunakan tenor 10-15 tahun. Dengan jangka waktu selama itu, siapa pihak yang amanah menjaga sertifikat agar tidak hilang dan disalahgunakan. Jangan sampai sertifikat tanah dan bangunan yang Anda beli diagunkan kembali oleh developer ke Bank.
  4. Fleksibilitas pelunasan. Karena KPR Non Bank menggunakan akad jual beli yang harganya sudah ditentukan di awal, maka jika ingin melakukan pelunasan dipercepat, Anda harus melunasi seluruhnya, baik pokok maupun margin. Berbeda dengan KPR Bank yang bisa dengan jelas Anda ketahui sisa pokok hutangnya, sehingga jika ingin lunas sipercepat, cukup membayar sisa pokok utang + denda yang nominalnya relatif kecil
Tips dan Saran
Jika pada akhirnya Anda tetap ingin memanfaatkan fasilitas KPR Syariah Non Bank, berikut beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar dapat meminimalisir risiko yang ada.
  1. Dokumentasikan seluruh tahapan kredit yang dilakukan. Tidak perlu ragu untuk memfoto dan memvideokan seluruh kegiatan yang terkait kredit Anda, mulai dari kegiatan PPJB, serah terima rumah, akad kredit, dan sebagainya. Termasuk menyimpan segala bukti pembayaran yang sudah Anda lakukan.
  2. Hanya bertransaksi menggunakan rekening milik developer atau Rekening PT, bukan pribadi. Bank selalu melakukan verifikasi terhadap akta pendirian suatu PT. Bertransaksi melalui rekening PT sudah meminimalisir penyalahgunaan dana oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Selain itu, hal ini juga memastikan perusahaan developer yang Anda pilih memang valid dan tidak fiktif.
  3. Tanyakan siapa pihak yang menyimpan dokumen berharga seperti sertifikat rumah. Meskipun ini KPR Non Bank, tidak ada salahnya khusus penyimpanan sertifikat tetap bekerjasama dengan Bank di safe deposit box dan dilakukan monitoring secara rutin keberadaannya. Bermusyawarahlah dengan seluruh debitur dan meminta developer menyimpan sertifikat di bank yang terpercaya agar tidak hilang dan disalahgunakan.
  4. Sebisa mungkin libatkan notaris dalam setiap kegiatan, mulai dari PPJB, AJB, dan sebagainya. Pemilihan notaris bisa didiskusikan dengan developer. Termasuk jika ada perjanjian yang dilanggar, konsultasikan kembali dengan notaris apakah perlu dibuatkan addendum atau tidak. Diskusikan juga siapa pihak yang akan menanggung biaya notaris.
  5. Segera tempati rumah ataupun kuasai fisiknya dengan menyewakan ke pihak lain, jangan sampai kosong. Sudah bukan rahasia umum, penyerahan sertifikat hak milik oleh developer perumahan syariah non bank biasanya memakan waktu yang lama bahkan hingga bertahun-tahun. Pada saat itu, Anda belum memegang sertifikat apapun selain PPJB. Kuasai fisik rumah dengan menempati-nya atau menyewakan ke pihak lain, agar lingkungan menjadi hidup. Sebisa mungkin warga aktif melakukan berbagai kegiatan di dalam lingkungan perumahan, libatkan juga developer. Sehingga jika dikemudian hari terdapat wan prestasi, warga memiliki bukti yang kuat atas kepemilikan rumah.
  6. Kenali developer. Berbeda dengan KPR Bank, perjanjian Anda saat ini hanya melibatkan Anda sebagai pembeli dan developer selaku penjual. Cari tahu kredibilitas developer Anda, termasuk individu-individu penyusun organisasinya. Jalin silaturahmi secara rutin dan komunikasikan setiap masalah yang ada.
Sekian tulisan mengenai keuntungan, risiko, serta tips dan saran tentang KPR Syariah Non Bank. Saya doakan Anda segera memiliki rumah. Jika memiliki kritik, saran, dan pertanyaan, silakan sampaikan dalam kolom komentar.

Terima kasih

Tuesday, November 27, 2018

Sunday, March 22, 2015

Nasib Mahasiswa Danusan


Beberapa pekan belakangan ini banyak tulisan dari segelintir masyarakat yang mengkritisi minimnya "aksi" yang dilakukan oleh mahasiswa, dan yang tidak kalah heboh, kritikan ini disandingkan dengan maraknya sekelompok mahasiswa dengan jas almamater yang sibuk syuting berbagai acara di stasiun televisi nasional. Sebagai seorang mahasiswa, saya menyaksikan sendiri fenomena ini, dan bahkan mengalaminya. Dibalik kritik bertubi-tubi tersebut, sebenarnya apa sih yang dirasakan mahasiswa? Oke, pertama-tama, sebenarnya mahasiswa danusan itu apa? mahasiswa danusan adalah mahasiswa yang melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan dana (?) makannya namanya dana usaha hehe. Jadi, sebenarnya kenapa mahasiswa rela memajang wajahnya di berbagai channel televisi? ya jelas, karena uang!! Salah tidak sih mahasiswa melakukan itu? menurut saya tidak sepenuhnya salah. Ya gimana lagi, mahasiswa punya banyak acara dan kegiatan demi mengembangkan kreativitasnya, tapi negara tidak bisa sepenuhnya membiayai, apalagi orang tua. Ujung-ujungnya mahasiswa harus putar otak cari duit sana-sini demi kesuksesan acara yang diadakan. Bukan, bukan cuma acara senang-senang saja, tidak jarang para mahasiswa juga mengadakan berbagai acara yang bersifat sosial dan pengabdian masyarakat tapi tidak punya uang, balik lagi akhirnya kegiatan danus dengan menonton acara televisi pun dipilih. Dan yang paling menyedihkan lagi, bahkan untuk melakukan berbagai kegiatan riset dan penelitian pun mahasiswa harus lagi-lagi meruntuhkan "image"nya dengan menjadi penonton bayaran di tivi.
Saya sendiri awalnya paling anti sama danusan semacam ini. Karena saya pikir, sebagai mahasiswa harusnya masih banyak pekerjaan lain yang lebih layak untuk mendatangkan uang. Misalnya, mengajar bimbel, ikut proyek penelitian, jadi instruktur lab, atau menulis artikel di koran dan majalah. Tapi, kesempatan untuk hal-hal semacam itu kan nyatanya tidak melulu tersedia. Seandainya ada pun juga tidak mudah untuk diikuti. Berbeda dengan kegiatan danus jadi penonton bayaran yang cukup duduk manis sambil senyam-senyum tepuk tangan, kalo diikutin teman satu angkatan bisa menghasilkan uang jutaan rupiah dalam sehari. Tanpa harus tenteng proposal sana sini! Saya sendiri awalnya tetap kekeuh tidak mau ikut danus jadi penonton bayaran, apalagi hanya untuk sekadar acara "nyanyi-nyanyi" di kampus. Tapi, segala "idealisme" yang dibangun itu runtuh begitu saja ketika saya menyadari bahwa dana untuk kegiatan penelitian kuliah lapang kami di jurusan nyatanya tidak kecil (ratusan juta rupiah), sedangkan uang yang didapat masih segitu-segitu saja. Berbagai upaya sudah dilancarkan oleh saya dan teman-teman, mulai dari tenteng proposal sana sini ke perusahaan, mengajukan berbagai hasil penelitian kami sebagai PKM AI supaya kalau tembus dikasih uang oleh pemerintah, sampai menjual baju bekas di pasar kaget pun kami jabani. Karena progres yang masih terlihat lambat sedangkan waktu terus berjalan, opsi danus jadi penonton bayaran pun kami pilih. Walaupun demikian, saya dan teman-teman masih pilih-pilih dalam kegiatan danus ini. Kami cuma mau nonton acara yang masih ada sentuhan "politik"nya, ya biar tidak sedih-sedih amat kalau dinyinyirin orang (padahal orang yang nyinyir juga boro-boro mau kasih dana). Pertama kalinya saya nonton acara rasanya hati saya sakit banget. Dunia kok kaya kejam banget. Kami mahasiswa diteriaki "ayo baris yang bener, pake dulu almamaternya, jangan kelamaan!" sama salah satu panitia. Saya dan teman-teman memandangi jas almamater yang buat dapetinnya pun udah besar banget perjuangannya. Kini, jas almamater ini cuma jadi kebutuhan komersil stasiun televisi aja. Si pemilik acara berharap kalau banyak mahasiswa ber-jas almamater seolah-olah acaranya kelihatan lebih intelek gitu. Sedih banget! kami lihat beberapa mahasiswa dari kampus lain betah sekali menggunakan jas almamater mereka. Kami? benar-benar cuma kami pakai di studio. Ketika acara selesai, buru-buru kami lepas. Terlalu besar beban dan tanggungjawab yang kami pikul jika memakai jas almamater ini. Kedua kalinya saya ikut danus, untungnya sedikit lebih baik. Kami tidak pakai jas almamater, cuma pakai baju bebas dan santai saja. Kebetulan pengisi acaranya juga dosen-dosen dari kampus kami sendiri. Ya, setidaknya ini jauh lebih terhormat lah. Tapi ya tetap saja, dalam hati kecil saya tetap ada yang mengganjal. Beginilah nasib jadi mahasiswa danusan, harus banyak-banyakin muka tembok supaya bisa dapat duit. Insya Allah duitnya diniatkan untuk hal yang bermanfaat. Terserah orang mau bilang apa, selama tidak cari duit dengan cara haram seharusnya tidak ada masalah. Buat mahasiswa danusan, emang pahit rasanya disalah-salahin, dikata-katain, dinyinyir-nyinyirin, tapi mereka yang membully kalian juga sebenarnya tidak tahu kan apa yang kalian hadapi. Jadi, tetap pede saja, tetap semangat dalam belajar dan mencari ilmu, agar kelak kalau punya rezeki lebih bisa membantu adik-adik mahasiswa yang lain untuk menyukseskan kegiatan mereka. Ingat, tugas utama mahasiswa tetaplah belajar dan mencari ilmu! cheers!

Sunday, March 8, 2015

Commuterline for Dummies!


Hola seƱores, kali ini blog salmantep bakal ngasih tips gimana caranya supaya bisa naik KRL Jabodetabek a.k.a Commuterline secara aman dan nyaman. Daripada bingung-bingung, langsung aja sedot gan!

1. Ticket-ing
Secara umum, tiket commuterline ada dua jenis. Tiket Harian Berjaminan (THB) dan Multitrip. THB cocok banget buat kamu yang jarang naik commuterline, karena kamu gak harus memiliki kartu melainkan cukup "meminjam" saja dengan jaminan. Jadi, kamu tinggal sebutkan ke stasiun mana kamu mau pergi. Harga tiket yang berlaku (mulai 1 April 2015) adalah IDR 2000 buat 25 KM pertama + IDR 1000 buat tiap 10 KM berikutnya. Buat bayangan, dari Stasiun UI ke Stasiun Manggarai itu gak nyampe 25 KM jadinya kamu cukup bayar IDR 2000. Nah, karena ada kata-kata "Jaminan" maka harus ngasih jaminan uang IDR 5000 ke kasir. Jadi, total kamu bayar IDR 7000. Trus, uang jaminannya gimana nasibnya? Jadi, nanti pas kamu udah sampai stasiun tujuan, kamu tinggal ke kasir lagi buat balikin tiket yang kamu pinjam, nanti uang IDR 5000 kamu bakal dibalikin deh. Selain itu, kalo kamu nanti pulangnya mau naik commuterline lagi, kamu gakpapa bawa dulu aja kartunya (tapi uang IDR 5000nya belum bisa dibalikin), nah nanti kamu tinggal sebutin lagi stasiun tujuan kamu dan cukup bayar harga dasar aja tanpa bayar jaminan lagi. Batas balikin kartu dari transaksi terakhir yang kamu lakukan adalah 7 hari, kalau sudah 7 hari kartu belum kamu balikin, maka uang jaminan kamu akan hangus. Sedangkan kartu multitrip itu ada yang dikeluarin langsung sama PT.KAI ada juga yang dikeluarin sama Bank. Contoh yang bank itu adalah Flazz BCA, Brizzi BRI, Tapcash BNI, e-Money Mandiri, dll. Bisa juga pakai kartu Indomaret, kartu Alfamart, e-Toll, dll. Nah, tipe multitrip ini cocok buat kamu yang hampir tiap hari menggunakan jasa commuterline. Jadi, kamu bisa isi saldo berapa aja (biasanya kelipatan 5000 rupiah, maksimal 1.000.000 rupiah) dan kamu bisa langsung masuk e-gate (gerbang elektronik) tanpa harus isi ulang terus-terusan tiap mau masuk stasiun. Sayangnya, kalau di stasiun cuma bisa top up saldo buat tipe multitrip yang dikeluarin PT.KAI, kalau yang dikeluarin bank gak bisa isi di stasiun. Saldo minimal buat jalan-jalan pakai commuterline adalah IDR 7000, kamu bebas mau ke stasiun mana aja tanpa harus laporan ke kasir. Kekurangannya, kamu harus modal dulu beli kartunya, harga paketnya Rp 50.000, Rp 20.000 buat beli kartu dan Rp 30.000 buat saldonya.


2. Masuk ke e-Gate (Gerbang Elektronik) di setiap stasiun.
Cari gerbang yang ada tanda centang berwarna hijau, jangan sampai salah masuk ke gerbang yang tanda silang warna merah. Kamu perhatikan LCD di e-gate, bakal ada tulisan "Silakan Tap kartu". Kamu tempel aja tiket kamu ke tempat yang disediakan, tunggu sejenak, lampu hijau bakal nyala, baru deh kamu bisa dorong e-gate secara perlahan dan masuk ke stasiun. Kalau gagal, coba kamu ulangi secara perlahan sampe berhasil. Kalau masih gagal juga, silakan hubungi petugas buat minta pertolongan. Jangan memaksa mendorong! nanti alarm bakal bunyi. Hal yang sama juga bisa kamu lakukan ketika kamu mau keluar stasiun.


3. Menunggu kereta
Yeay, kamu sudah berhasil masuk ke peron stasiun. Tunggu kereta di tempat yang aman dibelakang garis kuning. Perhatikan pengumuman mengenai arah dan tujuan kereta dari announcer stasiun. Ingat, dilarang merokok dalam stasiun, dilarang buang sampah sembarangan, dan berikan tempat duduk di peron kepada kaum prioritas yang lebih membutuhkan.


4. Naik ke kereta
Kereta yang kamu tunggu akan segera datang. Bersiap-siaplah, cek kembali barang bawaan dan tiket kamu. Tetap berada di belakang garis aman agar selamat. Jangan berdiri persis di depan pintu kereta! sebab akan ada beberapa penumpang yang turun terlebih dahulu, prioritaskan mereka. Ketika semua penumpang turun sudah habis, kamu baru boleh masuk. Ingat, kereta paling depan dan paling belakang adalah kereta khusus perempuan. Tempat duduk paling pojok di setiap kereta khusus untuk ibu hamil, ibu membawa balita, orang lanjut usia, dan kaum disabilitas. Selama kamu tidak membutuhkannya, lebih baik cari tempat duduk lain atau berdiri. Walaupun tempat duduk lain tidak ada tulisan prioritas, kamu tetap wajib memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkan kalau ada. Di dalam kereta, kamu dilarang untuk merokok, makan dan minum, buang sampah sembarangan, membawa hewan, membawa benda dengan bau tajam, duduk di lantai kereta, dan membuat kegaduhan. Dalam posisi berdiri, posisikan tas agar tetap selalu berada di depan agar tetap aman dan nyaman. Apabila menemukan hal-hal yang tidak diinginkan, segera hubungi petugas.


5. Turun kereta
Periksa barang bawaan dan tiket kamu, jangan sampai ada yang tertinggal. Bersiap-siaplah menuju pintu, sebab pintu kereta hanya akan terbuka dalam waktu yang singkat. Perhatikan celah antara kereta dan stasiun, tetap hati-hati dalam melangkah.

6. Keluar stasiun
Lakukan hal yang sama seperti kamu masuk stasiun. Keluar melewati e-gate yang telah disediakan.

Selesai sudah perjalanan kamu menggunakan commuterine. Selamat! kamu sudah berkontribusi secara nyata dalam mengurangi kemacetan ibukota. Jaga selalu fasilitas yang tersedia demi kepentingan bersama. Jangan sungkan untuk menyampaikan kritik dan saran kepada petugas. Karena kamu bukanlah 'penumpang", kamu adalah pengguna jasa yang membayar untuk setiap pelayanan yang kamu nikmati.Cheers.


Saturday, February 28, 2015

Apa Jadinya Kalau Bertemu Sesama Alumni SMA 3?


Akhir-akhir ini berita di berbagai media mengenai SMAN 3 Jakarta benar-benar menyedihkan. Terlebih-lebih saya sebagai alumni, ditambah lagi saat ini adik saya pun masih duduk di bangku kelas 12 SMAN 3 Jakarta. Saya sedih, kenapa nama baik sekolah ini yang sudah dibangun secara susah payah bisa begitu saja tercemar oleh segelintir pihak. Bagaimanapun juga, saya tetap cinta dan bangga dengan almamater saya. Terlalu banyak kisah manis di sana, di Setiabudi.

Sebagai salah satu sekolah tertua di DKI Jakarta, tidak heran kalau jaringan alumni SMAN 3 Jakarta sudah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Ya, dunia, saya berani jamin itu. Apalagi saat ini saya kuliah di UI, percaya atau tidak, banyak sekali alumni SMAN 3 Jakarta yang menjadi dosen di sini. Ketika saya ikut ospek fakultas, ada salah satu kegiatan yang mengundang Prof. Terry Mart sebagai pembicara. Beliau merupakan salah satu fisikawan terbaik dunia, kontribusinya bagi penelitian fisika sudah tidak diragukan lagi. Begitu terkejutnya saya ketika moderator membacakan CV sang professor dan menyebutkan bahwa beliau alumni SMAN 3 Jakarta! Hebat.

Kejadian berlanjut ketika semester 1 perkuliahan, saya mengikuti mata kuliah wajib universitas MPKT B yang bobotnya 6 sks. Pernah suatu ketika, dosen saya Bapak Maulana Silalahi menanyakan suatu hal (entah saya lupa) dan tanpa sengaja saya menceritakan kalau dulu saya sekolah di Setiabudi. Pak Maulana lalu bertanya, kamu alumni SMA 3? Saya jawab iya pak. Spontan beliau berkata kalau ia juga alumni SMA 3. Saya kaget, tapi saya senang. Entah, rasanya seperti bertemu keluarga yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Oh iya, pak maulana sendiri adalah dosen di FKUI.

Nah berikutnya cerita mengenai di departemen saya sendiri, tempat saya menimba ilmu, Departemen Geografi FMIPA UI. Lagi lagi, dosen saya banyak yang alumni SMA 3! Pertama, Dr. Djoko Harmantyo, M.S, beliau adalah dosen saya di mata kuliah Pengantar Geografi, saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen loh. Kedua, salah satu dosen favorit saya, Ibu Widyawati, MSP. Lalu, ada mas Andry (saya belum pernah diajar beliau). Ada juga Pak Raldi Hendro Kostoer, saya tau beliau ketika jurusan kami mengadakan acara dan beliau memainkan alat musik. Saya penasaran mencari tau dan meng-add facebooknya, ternyata beliau juga alumni SMA 3. Bahkan, kembaran beliau Prof. Raldi Artono Koestor yang juga seorang dosen (di FTUI) adalah seorang penemu inkubator bayi portable yang sudah berhasil menyelamatkan nyawa-nyawa bayi di Indonesia, dan beliau juga alumni SMA 3. Makin terharu saya.

Kejadian tidak terduga selanjutnya adalah ketika saya datang ke Badan Konseling Mahasiswa (BKM) UI. Saya sudah membuat janji dengan salah seorang psikolog BKM, mbak Ika. Sebelum konsultasi, saya mengisi formulir terlebih dahulu. Dalam formulir itu ada riwayat pendidikan juga. Ketika Mbak Ika tahu saya alumni SMA 3, beliau langsung "meledek" saya, wah kamu junior saya ya dulu hahaha. Saya pun lagi-lagi terkejut dan tidak menyangka. Alhasil, beberapa menit kami habiskan untuk mengobrol bahas hal itu.

Diluar nama-nama tersebut, sebenarnya masih banyak lagi alumni SMA 3 yang juga jadi akademisi, khususnya di UI. Tapi, sebagai alumni SMA 3, biasanya ada pertanyaan wajib lo yang dilontarkan sesama alumni yang beda angkatan. Tau gak pertanyaannya apa? Yup...

"Dulu seangkatannya ama artis siapa aja?" Hahahaha. Lucu kan. Saking banyaknya artis alumni SMA 3 kita jadi nebak-nebak angkatan berdasarkan artis di angkatan tersebut.

Intinya sih satu, semoga adik-adik di SMA 3 bisa lebih jaga sikap lagi dan terus berprestasi. Jangan sampai kata "Teladan" di sekolah kita benar-benar terhapus. Ok?

Tuesday, February 24, 2015

Tinggal di Apartemen?

Beberapa minggu yang lalu saya diajak oleh guru SMA saya untuk membantu beliau sharing mengenai focus group discussion (FGD) dan peresentasi dengan adik-adik kelas di SMA 3 yang akan mengikuti lomba. Karena beliau sangat baik dengan saya (masih muda, kami seperti teman saja), tanpa ragu saya langsung mengiyakan. Ternyata kegiatan tersebut akan diadakan di apartemen salah satu murid SMA 3 di kawasan Kasablanka. Cuma 5 menit jalan kaki dari Mal Kota Kasablanka (Hayo pasti pada tau kan). Nah ini yang bikin saya bingung dan deg-degan. Jujur aja saya belum pernah masuk apartemen temen seumur-umur hehe. Dulu sih waktu SMA dan pas kuliah ini sebenarnya ada beberapa teman yang tinggal di apartemen, tapi saya gak pernah masuk ke bangunannya. Paling jauh cuma anterin sampe parkiran basement trus saya pergi lagi (waktu itu kita patungan taksi hehe). Karena bingung, saya cari taulah gimana prosedurnya biar bisa main ke apartemen haha norak banget kan. Tapi zonk... gak ada yang nulis tentang itu di internet. Hmm.. karena mau gak mau harus dateng ke sana, saya tanya saja sama guru saya itu, saya harus bilang apa kak nanti ke satpam. Kata guru saya, gakpapa masuk aja ke Tower B, ketemu satpam bilang mau ke foodhall, udah dibilang kok temennya dina-dini mau main. Nah, sip-sip lumayan lega deh.
Pulang dari les di LBI UI, saya langsung naik kereta ke stasiun Tebet dan lanjut lagi naik angkot 44 sambil pesan ke supirnya minta diturunin di apartemen *u*i *as*bl**ka (wkwk). Ternyata apartemennya sebrangan sama kuburan -_-. Oke, naik jembatan penyebrangan dan... taraaa.... sampe di gerbang masuknya. Lalu ketemu pak satpam trus nanya, "Pak, tower B dimana ya?", "oh disana mas. Mau ngapain? main futsal?". Jiaaaahhhh.... "bukan pak, mau ke foodhall ketemu temen". "Oh, silakan silakan lurus aja nanti ketemu pintu masuknya". Oke, sejauh ini aman. Btw, saya lewat parkiran luar apartemen, semuanya isinya bule-bule gitu. Sampai pintu tower B ketemu lagi sama satpam. "Pak, mau ke foodhall lewat mana ya?". "Oh, temennya dina-dini ya? langsung saja ke tangga itu mas lewat taman". "Oh, makasih pak".
Taraaaa... sampai juga di foodhall. dan.... lagi-lagi isinya bule semua lagi duduk-duduk lucu. Saya langsung join duduk bareng sama guru saya dan adik-adik SMA 3. Saya juga sempat diskusi di gazebo taman sama mereka. Nyaman juga sih, sepi... ada taman. Ada playground. Bersih. Gak terasa kami udah diskusi lama banget. Udah jam setengah 5. Harus solat ashar dulu dong. Nah, tapi gak mungkin solat harus ke apartemen si adik kelas kan mana rame lagi kan. Ama dia diajak ke mushollanya gitu di basement. Biasa deh, mau ke musholla harus lewat tangga darurat model kaya dek kapal gitu. Agak awkward juga sih model tangganya lorong-lorong gitu. Sampe deh di musholla, lumayan gede sih, tapi biasa banget. Semua yang solat satpam... ga ada penghuni apartemen yang solat disitu kayanya kecuali si adik kelas saya itu. Kami pun solat rame-rame dan balik lagi ke foodhall.
Hari sudah sore, dan ternyata taman dekat foodhall semakin ramai oleh anak-anak penghuni apartemen beserta para babysitter mereka. Gak sedikit juga bule-bule yang gendong anak mereka buat main. Wah, seru juga ternyata. Gak kalah heboh dan berisik suasananya sama di gang deket rumah. Cuma bedanya, kalo di deket rumah anak-anaknya main pake bahasa betawi lo gue, kalo disini anak-anak itu bersosialisasi pake bahasa inggris. iya... bahasa inggris. Kalo gue perhatiin lagi, ini apartemen sebagian besar penghuninya warga negara asing. Mulai dari yang bule-bule pirang, orang cina, sampe orang arab. Mulai dari yang cuma pake baju seadanya, sampe yang pake cadar. Anak-anak tersebut heboh banget mainnya, mereka kelihatan ceria banget. Eh tapi... jangan dikira mereka mainnya baik-baik juga loh. Sama aja kaya anak kampung, ngomongnya rada kasar gitu haha. Bedanya mereka ngomong kasarnya pake bahasa inggris. Kayak MTV gitu wkwk.
Satu lagi yang unik menurut saya, pembantu-pembantu di apartemen ini gayanya nyeleneh juga loh. Mereka juga ikutan cuma pake tanktop dan hotpants mirip majikan mereka yang bule-bule, bahkan beberapa pake rok mini gitu. Ada juga sih yang pakai jilbab (biasanya ibu-ibu, kalau dilihat dari anaknya sih kaya orang arab gitu majikannya). Nah, pembantu-pembantu ini gajauh beda lah ya sama mbak-mbak komplek, selagi anak bos lagi pada main mereka asik ngerumpi haha. Mereka tapi kompak juga loh sesama pembantu dan babysitter ada aja kerjaannya, selain itu mereka akrab juga sama bule-bule yang gendong anak tadi. Saya lihat beberapa om-om bule asik gendong anak mereka sampil ngobrol sama beberapa pembantu. Kaya ga ada jarak diantara mereka. Jadi pandangan selama ini kalo kehidupan apartemen kaku dan membosankan mulai terbantahkan, walau tidak sepenuhnya benar juga sih.
Selesai latihan, udah malem. Tapi guru saya ngajak makan dulu ke KoKas. Kami tanya-tanya ke adik kelas yang punya apartemen gimana caranya. Kata dia lewat joggingtrack aja, nanti tembus masuk hotel, trus nyampe deh di KoKas. Oke, dengan modal nekat dan sedikit nanya-nanya satpam kami memulai pencarian jalan ke KoKas. Awalnya biasa... kita lewat joggingtrack. Masuk tangga darurat hotel. Nemuin lift, terus naik lift. Dan tau apa yang terjadi...... ketika pintu lift terbuka..... kita sudah tiba di lobby salah satu hotel mewah dengan lantainya yang berkilat-kilat diiringi dengan lantunan musik klasik. Dan bodohnya cuma ada kami dengan seorang resepsionis. Dengan gaya urakan karena abis belajar kelamaan kami cuek aja lewat lobby hotel itu. Terus diliatin satpam, mungkin dia heran... 3 orang cowok dengan gaya abis pulang kuliah kok ada di hotel mewah gitu haha. Tapi bapaknya baik, kita nanya jalan ke kokas dikasih tau kok.
Alhasil, tibalah kami di kokas. Jadi intinya, tinggal di apartemen itu gak sekaku sama apa yang dibayangin. Walaupun gak sebebas tinggal di rumah biasa. Kita tetep bisa bersosialisasi kok, anak-anak juga tetap bisa punya temen main. Jadi, tinggal di rumah atau apartemen? :)

Friday, January 23, 2015

Nostalgia di Kampung Baru, Pariaman

Pernah terbayangkan tidak punya rumah sederhana dengan halaman depan dan belakang yang sangat luas. Lalu ada beberapa pohon kelapa, dimana diantara kedua pohon kelapa tersebut dipasangi hammock (semacam ayunan yang terbuat dari tali atau jaring, bisa dipakai untuk bersantai sambil tiduran) menikmati sore. Ditambah lagi didepan rumah tersebut terhampar pasir pantai putih yang bisa anda mainkan sesuka hati. Berbagai pohon dan tanaman lain pun juga tumbuh terawat dengan rapi. Mulai dari buah jambu, rambutan, hingga tebu, jahe, cabai, kunyit semuanya ada. Bahkan juga dilengkapi dengan sebuah kandang ayam sendiri yang ayamnya bisa dipotong kapan saja ketika ingin dimakan. Ya, percaya atau tidak saya pernah mengalaminya. Masa-masa itu memang sangat indah. Kehidupan yang sederhana namun bersahaja. Masa ketika Ayah saya sudah pulang dari kantor pada siang hari, lalu ia bisa dengan bebas bercocok tanam. Masa ketika ibu saya memiliki banyak waktu luang, bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah tanpa bantuan pembantu. Kami sekeluarga tidak tinggal di desa, kami tinggal di sebuah kota. Kota Pariaman namanya. Ya, ada di provinsi Sumatera Barat. Sebuah kota kecil yang alhamdulillah ternyata memberikan kesan yang besar bagi kehidupan saya sekeluarga.
Rumah kami dekat dengan pantai. Jadi, jangan heran kalau setiap sore saya dan orang tua bisa dengan nikmatnya menikmati suasana pantai yang teduh, gratis. Begitu pula pada pagi hari, ibu saya langsung datang ke pantai itu untuk membeli berbagai hasil laut langsung dari nelayan. Saat itu saya masih TK, dan saya seringkali pulang dan pergi ke sekolah sendirian, padahal saya harus menyebrang jalan raya lho. Jalanan di kota ini memang tidak mengenal macet.
Kampung Baru, itulah lebih tepatnya daerah ini disebut. Sebuah komplek perumahan dengan kavling-kavling yang besar, dimana sebagian rumahnya tidak menggunakan pagar. Sebagian besar rakyatnya adalah masyarakat berpendidikan dan sejahtera. Jangan heran kalau setiap idul fitri dan idul adha masyarakat kampung baru justru kebingungan mencari fakir miskin untuk diberikan uang zakat dan daging qurban. Setiap kelebihan rezeki yang ada dari kaum berpunya diantarkan langsung ke rumah fakir miskin, tidak seperti disini, orang miskin harus antre berjam-jam untuk dapat bantuan.
Tetangga samping kiri rumah saya seorang pasangan bapak dan ibu guru yang anak-anaknya semua sekolah di perantauan, salah satunya ITB. Tetangga depan rumah saya juga seorang guru SLB. Tetangga samping kanan seorang kakek dan nenek yang hanya tinggal berdua, semua anaknya tinggal di Jakarta, salah satunya bekerja di Pertamina. Disisi lain ada tetangga yang salah satu anaknya sedang bekerja di Jepang. Tetangga yang lain sebagian besar pekerja kantoran, baik PNS maupun swasta. Hanya ada sedikit pemuda disini, mayoritas penghuninya adalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang selalu solat berjamaah ke mesjid ketika azan berkumandang. Wajar saja kalau ibu saya sempat bosan, soalnya temennya nenek-nenek semua hehe.
Ketika saya berkunjung kesana saat liburan semester ini, ibu saya bercerita banyak hal. Ibu saya bilang disini walaupun kota sepi dan kecil tapi masyarakatnya kaya-kaya lo bang. Kata ibu saya, salah satu saudara saya yang suami istri bekerja sebagai guru, diberangkatkan haji oleh tetangga-tetangganya dengan patungan. Luar biasa. Ibu saya juga cerita, disini kalau sedang idul adha yang nonton acara pemotongan sebagian besar adalah pequrban itu sendiri, sedangkan yang penerimanya (fakir, miskin, janda, dll) cuma sedikit dan itupun langsung diantar kerumah oleh panitia.
Ternyata hal itu tidak mengada-ada. Waktu itu saya sempatkan untuk solat ashar berjamaah di mesjid raya kampungbaru. Sempat terjadi kejadian tidak terduga sebelumnya haha. Tau tidak, saya bertemu dengan salah satu junior saya di kampus padahal kami sama sekali tidak janjian loh. Satu-satunya mesjid di kampungbaru ini memang lumayan besar. Saya sempat solat jumat disini, lalu seperti biasa ada pengumuman tentang kas mesjid. Ayo tebak berapa jumlah kas mesjidnya :) 10 juta? 20 juta? 50 juta? BUKAN! tapi Rp 120 JUTA!!! gila! shock saya, bagaimana mungkin sebuah mesjid di sebuah kota kecil punya uang sebanyak itu. Dan kerennya lagi ternyata semua kebutuhan masyarakat kampung baru juga tercover sama uang ini. Contohnya, kalau ada yang meninggal langsung dapat uang fardu kifayah. Selain itu, di masjid ini juga dikasih tau siapa saja keluarga yang sedang mengadakan hajatan, dan jamaah semuanya diundang. Pas solat jumat itu, parkiran mesjid dipenuhi oleh mobil-mobil yang lumayan kece. Ya, mulai dari innova sampai fortuner semua ada. Banyak yang plat merah juga tapi hehe. Oh iya, sepertinya kas mesjid ini bisa besar karena banyak warga yang infaq dan sedekah serta menunaikan nadzar. Selain itu, hajatan disini bukan cuma kawinan ato renovasi rumah. Tapi lebih banyak yang pas diumumin bilangnya, "Selanjutnya jamaah diundang ke acara syukuran Bapak X karena kesuksesan anaknya". Gitu-gitu deh. Misalnya anaknya wisuda atau apa gitu. Mirip-mirip Ayah saya haha, pas saya keterima UI Ayah saya motong kambing trus bagiin besek ke tetangga wkwk.
Itu dia sekilas cerita tentang Kampung Baru, Kota Pariaman. Kota kecil tempat saya menghabiskan masa kecil hingga usia 4 tahun. Lalu, kenapa Ayah saya memutuskan untuk pindah ke Jakarta? Alasannya cuma satu, dia mau semua anak-anaknya menyelesaikan studi di Jakarta dan masuk UI hahaha. Kalau saya dan adik-adik saya sudah lulus semua, katanya beliau mau tinggal di kampung lagi saja. xD

Thursday, December 25, 2014

Remaja Islam di Jakarta Menurut Gue

Kali ini gue mau cerita tentang bagaimana nasib umat islam, khususnya kita para remaja, di Indonesia. Tulisan ini semacam refleksi yang gue rasain aja sih. Terserah kalo ada yang mau menafsirkan dengan sudut pandang yang berbeda. So, gimana rasanya jadi remaja muslim di Jakarta? Rasanya tuh menurut gue susah-susah gampang sih ya. Mau dibilang gampang juga sebenernya agak susah. Dibilang susah ntar dikira gak bersyukur. Cerita ini gue awali dengan kisah masa-masa SMA gue. Jujur aja, waktu baru masuk SMA gue merasa insecure dengan diri gue sendiri. Bukannya gimana-gimana, ya masa-masa SMA itu emang identik banget sama masa bersenang-senang dan segala macam kenakalan yang ada di dalamnya. Apalagi saat itu gue masuk ke salah satu SMA tergaul se-Jakarta (atau mungkin Indonesia?) haha. Gue tau lah pait-paitnya kelakuan anak SMA jaman sekarang. Gak tau kenapa pas SMA itu tiba-tiba ngerasa kalo gue wajib banget ikut Rohis. Ortu gue pun sangat mendukung hal itu. Di Rohis gue belajar banyak banget, terutama tentang agama. Utamanya lagi belajar tentang fiqih atau semacam belajar bagaimana seharusnya seorang muslim hidup. Standar sih kegiatannya, ngaji-ngaji bareng gitu sama kultum, ditambah curhat-curhatan hahahah. Enaknya jadi anak rohis ya gitu, kita bisa curhat apapun tentang kehidupan kita sama temen-temen, senior, dan mentor, dan insyaAllah jawaban yang diberikan sesuai syariat Islam. Jadi anak Rohis di SMA gue juga ga gampang loh, gue inget banget saat itu dari 360-an anak di angkatan gue, anak cewek yang pake kerudung gak lebih dari 10 orang. Bayangin aja. Makannya itu, Rohis SMA gue sangat mengedepankan keterbukaan bagi siapa aja yang mau belajar agama Islam. Jadi, walaupun bukan anak Rohis, temen-temen tetep bebas kalo mau ngaji dan mentoring bareng, tanpa ada paksaan. Begitu pula sama tim akhwat, temen-temen akhwat sangat welcome dengan semua anak cewek di sekolah. Mereka tetep akrab sama anak-anak cheers, modern dance, salsa dll. Alhamdulillah ada hasilnya, satu persatu mulai nambah anak perempuan yang pake jilbab di sekolah gue. Semuanya dilakukan tanpa paksaan, awalnya emang berat. Waktu itu sebagian anggota rohis akhwat gak pake jilbab malah. Buat yang ikhwan juga, gak mungkin banget rohis bisa rame kalo kita cuma ngadain acara ngaji-ngaji melulu. Jadinya anak rohis sering juga deh ngadain futsal bareng anak-anak lain. Sering banget malah. Proker-proker juga dibikin biar gak terlalu kaku dan "menyeramkan" buat temen-temen. Contohnya aja ada DUGEM hahaha, eits tenang dulu. DUGEM itu ada kepanjangannya, yaitu DHUHA GEMBIRA hahah. Seru deh pokoknya. Sama halnya dengan remaja-remaja lain, tim Rohis pun gak terlepas dari yang namanya VMJ a.k.a Virus Merah Jambu. Tapi, kita selalu dapet bimbingan dari kakak-kakak mentor buat meminimalisir hal-hal kaya gitu. Sering ada kajian gitu deh. Seru sih.
Tapi tetep ya, mau sebaik apapun niat kita. Ada aja pihak-pihak yang gak suka. Masih inget kan dulu heboh kasus Rohis dituding sebagai langkah awal gerakan terorisme? gila aja sih menurut gue. Udah rela-rela berkorban di jalan dakwah masih aja ada yang nyinyir. Untungnya hal itu gak berpengaruh apa-apa sama Rohis sekolah gue, soalnya temen-temen dan guru-guru tau gimana sih kelakuan anak Rohis. Emang agak serem juga sih, pernah kita ngundang ustad gitu kan buat ceramah. Nah ceramahnya pake Toa mesjid, hari sabtu kalo ga salah. Kita salah ngundang ustad kayanya, si pak ustad lumayan keras dan tegas gitu dan agak sara sih ceramahnya. Kita udah pada pucet aja takut dimarahin orang-orang, untungnya gak berapa lama ceramahnya selesai. Pernah juga kita ngundang tim nasyid Izzatul Islam yang nasyidnya banyak berisi tentang perjuangan dan Palestina. Kalo ini guru pembina kita yang pucet, dia takut hal-hal kaya gini gak disukain sama beberapa pihak. Alhamdulillah acara tetap lancar loh tapi dan Izis bebas nasyid sepuasnya.
Akhir-akhir ini, banyak dari kita umat islam yang justru takut menunjukkan keislamannya itu sendiri. Gak usah jauh-jauh deh, berapa banyak sih anak cowok yang berani ke mall pake baju koko ama peci? gak usah ke mall deh, pake baju koko di hari senen aja pas kuliah. Pasti pada galau kan haha. Gue ada temen kuliah, waktu itu kita seangkatan pake dresscode baju koko. Termasuk temen gue ini. Karena satu dan lain hal dia harus ke Fakultas Ekonomi (FE). Dan dia tiba-tiba galau gitu terus nanya gue, "Eh man, gak papa kan ya gue pake baju koko ke FE? kayanya anak FE jarang yang pake baju koko deh". Nah loh, aneh kan. Kita bahkan gak pede buat pake baju koko. Pernah juga gue mau jalan sama temen-temen kuliah pas hari jumat abis solat jumat. Gue sih pake poloshirt biasa sama celana jeans. Nah salah satu temen gue pake baju koko, celana bahan ngatung, dan peci. Gue sih ga masalah. Tapi salah satu temen gue yang lain tiba-tiba protes. "Eh boleh gak pecinya dilepas aja? hehe *nyengir kuda*". Temen gue yang lumayan batu itu gak mau pecinya dilepas. Temen gue yang satunya gemes dan narik peci temen gue terus diumpetin. Terus mereka kejar-kejaran haha. Pas kita udah ngumpul lagi bertiga trus gue ngomong deh "Gila ya kasian juga jadi umat muslim disini, buat pake baju muslim lengkap + peci aja kita takut dan risih gini". Terus temen-temen gue pada ngangguk,"Iya ya, parah banget". Belom lagi yang namanya masalah makanan, halal haram. Tau banget kan yang namanya anak muda suka jajan-jajan lucu di cafe, restoran, warteg, ato foodcourt mall. Nah, gue punya temen yang strik banget sama masalah halal. Tiap kita mau makan, mulai dari kaki lima sampe restoran dia selalu nanya dulu,"Ini halal kan ya mas?".Tau gak, pas temen gue nanya kaya gitu suasananya tuh awkward banget. Disatu sisi gue agak gak enak juga sama penjualnya, kesannya gimana gitu. Disatu sisi gue bangga banget sama temen gue itu bisa pasang muka buat nanyain hal kaya gitu. Bukan rahasia lagi kan kalo yang namanya halal-haram di Jakarta ini udah kaya gak ada bedanya. Lo liat aja toko-toko kue sama restoran yang ada di mall. Berapa biji sih yang nyantumin logo halal di toko sama restorannya? Padahal ini bukan masalah sepele loh. Apalagi ini makanan, masuk perut kita. Herannya, mana ada yang peduli. Umat muslim tetep aja doyan ama makanan-makanan itu, "Bodoamat, yang penting enak" hahah. Ya kan? gue dulu suka banget jajan yg namanya rotiboy, roti o, breadtalk dll. Tapi sumpah sekarang gue udah jarang banget bahkan hampir ga pernah beli itu lagi, gara-gara udah ga ada logo halalnya. Ayo dong pengusaha, gak kasian apa kalian sama kita-kita ini umat muslim tiap hari dikasih makanan yang ga jelas halal haramnya? kalo emang haram kasih tau dong, tulis kek mengandung minyak babi gitu. Masih mending penjual BPK di tanah karo deh. Jelas-jelas ditulisin BABI PANGGANG KARO biar orang Islam gak salah makan disana. Next issue, gue tau kita anak muda lagi seneng-senengnya mempelajari hal-hal baru. Berbagai teori kita pelajarin, terutama teori-teori barat. Mulai dari Marxisme, Liberalisme, Feminisme, Positivisme, dll. Gue sangat senang banyak umat islam yang mulai melek mempelajari itu semua. Tapi coba deh, kalian semangat banget belajar itu semua tapi agama kalian sendiri gak dipelajarin? aneh sih menurut gue. Gue gak bilang teori itu salah. Misal, yang namanya feminisme itu kan sebenernya ingin menjadikan kaum perempuan sebagai makhluk yang lebih dihormati dan dihargai, dan itu semua ada kok di alquran. Tapi terkadang kita getol banget belajar itu sama orang-orang non muslim tanpa melakukan konfirmasi ke ulama ataupun orang yang paham agama. Ujung-ujungnya jadi jauh melebar kemana-mana. Padahal gak usah jauh-jauh, dalam Islam itu semua udah dijelasin.
Jadi... gitu deh pandangan gue mengenai remaja muslim di Jakarta masa kini. Antara kesian ama gimana gitu. Makannya, tolong banget temen-temen para aktivis dakwah jangan asik sendiri sama dunianya, banyak temen-temen kita yang butuh ilmu kalian. Kita juga capek kali tiap hari hidup dengan pesta pora dan nge-hedon setiap hari. Buat anak-anak gaul lainnya, coba lebih buka mata dan hati lagi, jangan tiap ngeliat aktivis dakwah (ikhwan akhwat) langsung deh pikirannya teroris, anak tarbiyah, anak PKS, sok alim, dll. Banyak kok temen-temen ikhwan-akhwat yang asik diajak curhat tanpa meng-kafir-kafirkan. Oke, mungkin ini aja tulisan gue. Lebih kurangnya mohon maaf. Tetap semangat dan terus belajar!

Sunday, December 14, 2014

Jadi Fasilitator Bidikmisi UI

Sebenarnya aku bukan anak bidikmisi, tapi entah kenapa aku selalu penasaran untuk mengetahui lebih banyak mengenai mahasiswa bidikmisi di kampusku. Alasannya sederhana, kebetulan dua tahun belakangan ini aku jadi volunteer di kemahasiswaan UI. Tugasku sih tidak jauh-jauh dari yang namanya mahasiswa baru. Mulai dari jaga frontdesk kalau ada maba yang kebingungan, sampai jadi admin email untuk membalas setiap pertanyaan yang diajukan maba. Beberapa kali juga aku bertugas melakukan input data mengenai keadaan perekonomian keluarga mahasiswa baru. Luar biasa, aku kira hidupku sudah paling susah. Ayahku yang sudah pensiun harus cari uang dari pagi sampai malam bersama ibuku menjaga toko kecil kami. Begitu pula dengan semua pekerjaan rumah, semua dihandle ayah dan ibu tanpa menyusahkan aku dan adik-adikku. Itu saja sudah membuatku merasa bersalah jika menyianyiakan perjuangan yang mereka lakukan. Tapi, membaca kisah-kisah yang dialami mahasiswa bidikmisi ternyata lebih menyentuh hati lagi. Ternyata perjuangan mereka untuk kuliah di UI benar-benar luar biasa, bahkan tidak akan pernah terpikirkan sebelumnya. Ada yang jadi penumpang gelap kapal laut dari maluku, ada yang menumpang truk dari Sumatera Utara, ada yang harus naik pesawat perintis dari pulau tempat tinggalnya, dan masih banyak lagi. Ketika ada tawaran untuk menjadi fasilitator pelatihan bidikmisi yang dilakukan oleh Badan konseling mahasiswa UI, tanpa pikir panjang aku mendaftar. Benar saja, ternyata banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil. Sungguh, aku merasa justru diriku sendirilah yang sedang menjadi peserta. Banyak sekali kisah-kisah mengharukan yang sangat inspiratif tentang perjuangan teman-teman. Walaupun selama jadi fasilitator aku tidak dibayar dengan uang, namun aku merasa senang karena dibayar dengan ilmu dan kisah-kisah yang penuh motivasi tersebut. Sesampainya di rumah ku ceritakan lagi ke ibuku, ibuku pun sampai terheran-heran juga mendengarnya. Ternyata benar, jika kita memulai segala sesuatunya dengan positif, maka nantinya akan menghasilkan rentetan hal positif lainnya. Yang jelas, aku bahagia mengikuti kegiatan ini!

Monday, April 7, 2014

Kok Gitu Sih?

Ketika baru diterima di UI hampir setiap hari mata saya dibuat berbinar-binar oleh mahasiswa-mahasiswi di kampus ini. Banyak sekali orang-orang hebat disini. Namun, lama kelamaan kekaguman itu semakin luntur, ketika saya tau banyak dari mereka yang justru melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh mahasiswa. Saya heran kenapa hal-hal seperti ini masih saja terjadi di kampus sekelas UI. Saya jenuh dan entah kenapa menjadi begitu kecewa melihatnya. Pagi-pagi ketika turun dari kereta dan menunggu bis kuning di halte sudah banyak keanehan yang terjadi, bagaimana tidak, sangat sering saya alami dan saksikan sendiri banyaknya mahasiswa-mahasiswi yang masih saja menyelak antrean untuk masuk bus. Parahnya lagi, sebagian besar dari mereka adalah perempuan, berhijab pula. Entah karena mereka merasa perempuan harus selalu didahulukan atau bagaimana saya juga tidak paham. Pukul 8.00 saya ada kuliah, jam 7.50 saya panik luar biasa dan harus berjalan dengan cepat atau sedikit berlari ketika menaiki tangga, dan jreng-jreng ketika saya membuka pintu kelas seringkali belum ada mahasiswa yang datang, atau paling-paling hanya ada satu atau dua orang. Mirisnya lagi, ketika jam sudah menunjukkan angka 8.00 dan dosen pengampu sudah masuk kelas, jumlah mahasiswa masih belum bertambah secara signifikan. Dosen-dosen disini memang terlalu baik, telat setengah jam pun masih dipersilakan masuk. Mahasiswa pun menganggap telat masuk kuliah sebagai hal yang biasa. Hemm, bahkan banyak dari mereka yang telat adalah para aktivis di kampus yang selalu meneriakkan nama rakyat. Tidak sampai disitu, fenomena titip absen juga masih berlangsung secara subur disini. Kebayang kan gimana nantinya orang-orang seperti ini jadi anggota DPR? Belum lagi contek mencontek dalam ujian, memang sih aturan disini sudah cukup tegas, kalau ketahuan bisa langsung coret dan dapat nilai nol, tapi kan kalo itu ketauan. Seringnya kan tidak ketahuan tuh sama pengawas ujian. Tidak kalah lagi adalah kebiasaan copy paste. Yang ini agak sulit memang, saya yakin banyak mahasiswa yang masih ingin mengerjakan tugasnya dengan baik dan benar, tapi apa daya, tugas menumpuk dan deadline semakin dekat membuat copy paste sebagai jalan keluarnya. Belum lagi masalah kebersihan, setiap selesai kelas ada saja sampah bekas makanan dan minuman yang tergeletak bebas di lantai dan di meja. Padahal makan di kelas saja sudah melanggar aturan. Pemandangan lainnya, jangan heran ketika sedang berjalan di selasar fakultas atau bahkan di koridor bangunan ada banyak mahasiswa-mahasiswi yang merokok sembarangan. Tidak banyak memang, tapi ada saja tuh setiap hari. Yang membuat saya semakin heran adalah ketika ibadah solat jumat, bagaimana bisa para jamaah (yang sebagian besar mahasiswa, dosen, dan karyawan UI sendiri) dengan asyiknya ngobrol ataupun serius mengutak atik gadget mereka. Padahal semenjak saya SD sudah diberitahu guru kalau ketika khatib sedang berkhutbah tidak boleh bicara sepatah kata pun, intinya harus mendengarkan dengan baik-baik. Aaaah entahlah, kenapa bisa seperti ini. Saya pribadi juga sadar kalau saya masih banyak kekurangan. Saya yakin suatu saat ini semua bisa berubah menjadi lebih baik. Bagaimanapun juga banyak sekali orang-orang hebat ada di kampus perjuangan ini. Semoga orang-orang hebat itulah yang nantinya memimpin Indonesia menjadi negeri yang lebih sejahtera. Amiin

Saturday, December 28, 2013

Panduan Lengkap Membuat Paspor Secara Online Untuk Pemula

Semakin murahnya tiket pesawat ke berbagai negara di Asia telah membuat jalan-jalan ke luar negeri bukan lagi hal yang mahal. Tentu saja hal tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh para traveller. Namun, ketika hendak memesan tiket pesawat ke luar negeri kita harus mempunyai paspor terlebih dahulu. Oleh sebab itu, paspor seringkali disebut sebagai "nyawa" bagi para traveller. Nah, untuk teman-teman yang ingin membuat paspor. Berikut saya ceritakan step by stepnya sesuai dengan pengalaman saya.

Pertama-tama, kita harus tahu bahwa saat ini proses pembuatan paspor terbagi menjadi dua jenis, yaitu cara manual (non online) dan online. Saya menyarankan teman-teman membuat secara online karena akan lebih banyak kemudahan yang didapatkan, salah satunya cukup datang ke kantor imigrasi sebanyak dua kali (proses manual memakan waktu minimal tiga kali). Untuk tahapan yang harus dilakukan jika mengurus paspor secara lain adalah sebagai berikut:

Tahap Awal (Dapat dilakukan dimana saja asal ada internet)
Masuk ke website imigrasi.go.id lalu arahkan kursor ke tab menu Layanan Publik dan klik Layanan Paspor Online. Bisa juga langsung dengan mengakses direct link http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp. Setelah itu, pilih menu Pra Permohonan Proposal.
Selanjutnya, lengkapi formulir online yang ada. Pada menu Jenis Permohonan pilih Baru - Paspor Biasa. Untuk kolom Jenis Paspor disarankan memilih 48H Perorangan. Saya sarankan seperti itu karena jenis paspor itulah yang paling murah untuk anda yang ingin jalan-jalan ke luar negeri (biayanya IDR 255.000), sedangkan apabila anda ingin membuat paspor elektronik anda bisa memilih Epassport 48h (biayanya sekitar IDR 600.000an). Keduanya sama saja, perbedaan hanya terletak di chip yang terkandung di paspor elektronik. Sedangkan paspor 24 halaman hanya diperuntukkan untuk tenaga kerja Indonesia. Setelah itu, lengkapi semua lembar isian yang ada. Untuk informasi lengkap silahkan baca tata cara pembuatan paspor online. Setelah semua proses selesai silakan unduh Tanda Terima Pra Permohonan Paspor dan cetak kedua lembarnya. Sekali lagi saya ingatkan, proses pendaftaran hanya akan berhasil jika dilakukan pada jam kerja, tidak bisa pada hari libur dan diluar jam kerja. Anda juga harus bersabar, sebab website akan menjadi sangat lamban, saya pun mengalami hal tersebut. Saya mulai coba dari jam satu siang dan selalu gagal, proses baru berhasil pada pukul setengah tiga siang :').

Tahap Kedua (Menuju ke Bank BNI terdekat)
Bawa print out Tanda Terima Pra Permohonan Paspor yang telah dicetak kedalam kertas ukuran A4 ke Bank BNI terdekat. Pada saat itu saya melakukan pembayaran di BNI UI Depok. Ketika masuk kita akan disapa satpam, bilang saja ingin membayar paspor. Satpam akan memandu kita untuk mengambil nomor antrian teller. Ketika nomor dipanggil segera menuju teller dan sebutkan tujuan anda, yaitu ingin membayar biaya pembuatan paspor. Tenang saja, teller BNI sudah paham. Serahkan uang sejumlah IDR 255.000 ditambah biaya administrasi sebesar IDR 5.000, jadi total anda membayar IDR 260.000 ke teller. Lalu teller akan memberikan bukti pembayaran dan mengembalikan Tanda Terima Pra Permohonan Paspor (distapler menjadi satu). Proses ini selesai.

Tahap Ketiga (Datang ke Kantor Imigrasi Pilihan Anda)
Setelah selesai melakukan proses pembayaran, anda tinggal datang membawa Tanda Terima Pra Permohonan Paspor + bukti pembayaran dari Bank BNI, KTP asli + fotokopiannya, Kartu Keluarga asli + fotokopiannya, dan Akte Kelahiran atau Ijazah + fotokopiannya. Jika sudah menikah harus melampirkan buku nikah dan fotokopiannya juga ya. Semuanya difotokopi cukup satu kali menggunakan kertas A4. Jangan ada yang dipotong! biarkan utuh satu halaman. Kebetulan saya memilih Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan saat proses pra pendaftaran. Karena sangat ramainya kantor Imigrasi, saya sarankan anda untuk datang pada pukul 06.00 pagi jika tidak ingin mengantre terlalu lama (beberapa orang datang sejak pukul lima pagi HAHA). Saat sampai di kantor imigrasi jaksel segera naik ke lantai dua. Disana sudah banyak orang mengantre. Anda akan menjumpai dua mesin untuk nomor antrian. Disebelah kiri ada mesin nomor antrian untuk yang ingin menyerahkan berkas secara manual (non online), sedangkan disebelah kanan untuk yang online (kita akan menggunakan mesin ini). Segera masuk ke antrean. Berhubung mesin baru menyala pada pukul tujuh, maka sebaiknya tas atau map anda saja yang mengantre (jejerkan tas kedalam barisan), sebab anda bisa pegal jika berdiri hehe. Pada pukul tujuh kurang petugas akan memberikan penjelasan dan informasi (bahkan kita juga berdoa dulu loh). Untuk itu semuanya harus segera mengantre dengan tertib (maksudnya saatnya anda masuk antrian dan pegang tas atau map yang tadi anda letakkan). Bila ada yang menyelak saya sarankan anda untuk tampar saja orang tersebut wkwk. Nah, anda tinggal ikuti perintah dari petugas. Tenang saja, ada petugas yang akan membantu anda mengambil nomor antrian dengan mesin. Ketika mendapatkan nomor, anda juga akan diberikan map kuning dari imigrasi (semuanya gratis). Setelah dapat nomor dan map, segera menuju ke loket nomor 2-4 (ini loket khusus permohonan online, loket 5-9 loket untuk yang manual, jangan sampai salah) dan duduk manis, oh iya kalau anda masih muda sebaiknya berikan tempat duduk ke nenek-nenek atau kakek-kakek saja ya, mereka lebih membutuhkan (banyak yg mengurus paspor untuk Umroh dan Haji). Tunggu hingga nomor antrian anda dipanggil. Ketika dipanggil segera menuju ke loket yang disebutkan. Petugas akan meminta map beserta fotokopian dokumen persyaratan dan memeriksa serta mencocokkan dengan dokumen asli. Setelah selesai dokumen asli dan nomor antrian akan dikembalikan, sedangkan map dan fotokopian dokumen akan diambil petugas.

Selanjutnya anda dapat segera menuju ke loket foto dan wawancara. Disini anda harus kembali mengantre. Suasananya tidak jauh berbeda dengan lokasi pengungsian, kaya miskin tua muda bayi manula semua tumplek blek menjadi satu dan beberapa lesehan di lantai. Tunggulah dengan sabar, sebab pada proses ini anda akan bercampur juga dengan orang yang mengurus paspor secara manual dan orang yang paspornya diurus oleh travel agent (betapa membludaknya antrian). Anda akan dipanggil bersepuluh-sepuluh. Ketika dipanggil masuklah ke dalam ruangan dan kembali menunggu untuk proses foto. Oh iya, pada saat foto anda tidak boleh mengenakan kaos, baju dan jilbab berwarna putih, dan anting bagi pria. Setelah foto anda kembali menunggu untuk wawancara. Nah, ada hal yang unik ketika saya wawancara. Ternyata si petugas kenal dengan junior saya di kampus. Alhasil kami jadi ngobrol-ngobrol hehe, jadi ya menurut saya petugasnya sangat ramah. Pertanyaannya standar. Mau ngapain bikin paspor? mau pergi ke mana? ada urusan apa? gitu deh. Jawab aja jujur. Mau jalan-jalan ya bilang saja mau jalan-jalan. Setelah proses wawancara kita akan diberikan kertas untuk mengambil paspor sesuai dengan hari yang telah ditentukan.

Tahap Keempat (Mengambil Paspor)
Ini dia hari yang ditunggu-tunggu, ya benar, pengambilan paspor. Untuk pengambilan paspor Anda bisa sedikit santai dan tidak usah datang pada jam enam pagi. Karena prosesnya berlangsung cepat. Tapi menurut saya waktu yang ideal ya sampai di kantor imigrasi pada pukul delapan pagi hehe. Yap, saat ke kantor imigrasi untuk mengambil paspor jangan lupa membawa kertas yang sebelumnya sudah saya ceritakan. Ketika sampai segera letakkan kertas tersebut di kotak yang terletak pada loket paling kanan (ini di kanim jaksel loh ya) lalu menunggu lah dengan sabar. Petugas akan mengambil kertas-kertas yang sudah dimasukkan ke kotak tersebut tiap beberapa menit lalu akan segera mencarikan paspor milik kita. Pada loket ini petugas akan memanggil nama kita (tidak pakai nomor lagi), sistemnya siapa taruh duluan, dia yang dipanggil terlebih dahulu. Ketika nama anda dipanggil segeralah menuju loket, petugas akan meminta anda menandatangani lembar tanda terima. Taraaaa, paspor pun resmi di tangan anda. Eits, tapi ada satu tahap lagi, yaitu memfotokopi paspor tersebut (dilakukan di koperasi, petugas fotokopi di koperasi sudah paham) biayanya dua ribu rupiah, lalu serahkan fotokopian tersebut ke petugas loket tempat anda mengambil paspor. Ucapkan terimakasih daaaaaaaaaaaaaannnnn saatnya hunting tiket murah ke luar negeri :D semoga bermanfaat, selamat berpetualang!

Saturday, July 27, 2013

Kebijakan Baru di PPDB Online Provinsi DKI Jakarta

Ada yang berbeda pada Penerimaan Peserta Didik Baru Online (PPDB Online) Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2013 ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya para calon peserta didik bebas memilih sekolah mana yang diminatinya, tidak peduli darimana asal sekolahnya, asalkan masih berada di wilayah DKI Jakarta, maka pada tahun ini hal tersebut tidak bisa lagi dengan mudah dilakukan. Karena pada tahun ini PPDB Online DKI Jakarta telah melaksanakan kebijakan baru, yaitu, sistem zona, untuk calon peserta didik yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN). Sebagai informasi, sistem baru ini tidak berlaku bagi calon peserta didik yang ingin melanjutkan ke Sekolah Menegah Kejuruan Negeri (SMKN). Penerapan sistem zona ini didasarkan pada Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 926 Tahun 2013 tentang Penetapan Zona Sekolah dalam Rangka Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru. Dengan sistem zona, calon peserta didik hanya boleh memilih sekolah berdasarkan zona tempat tinggalnya. Zona-zona tersebut dibagi berdasarkan kecamatan yang ada di DKI Jakarta.
            Sistem zona sebenarnya tidak dilakukan secara menyeluruh pada PPDB Online tahun ini. Sesuai peraturan yang tertera pada website http://jakarta.siap-psb.com/, sistem zona (selanjutnya disebut jalur lokal) ini memiliki porsi sebesar 45% dari daya tampung sekolah. Sedangkan 50% dari daya tampung sekolah masih menggunakan sistem yang sama pada tahun-tahun sebelumnya (selanjutnya disebut jalur umum), sisanya ditujukan untuk jalur prestasi. Jadi, pada tahun ini, PPDB Online dibagi menjadi dua jalur, yaitu, umum dan lokal.
Peserta didik menjadi korban         
Jika kita menelisik lebih jauh, salah satu alasan pemerintah menerapkan sistem zona ini adalah sebagai salah satu upaya untuk menekan angka kemacetan di Ibukota. Seperti yang kita ketahui, belum meratanya kualitas sekolah di DKI Jakarta telah membuat masyarakat rela mengeluarkan tenaga dan biaya lebih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di berbagai sekolah favorit, sehingga jarak sekolah yang jauh pun sering diabaikan. Wajar memang, pemerintah sendirilah yang awalnya mengkotak-kotakkan sekolah. Sekolah dibagi menjadi berbagai kelas layaknya sebuah hotel, mulai yang berstatus standar internasional, standar nasional, reguler, unggulan, dan lain-lain. Memang saat ini sudah tidak ada lagi sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional), namun “image” yang telah terbentuk sebelumnya tentu tidak akan mudah dilupakan dengan begitu saja oleh masyarakat.
Setelah sebelumnya “mengorbankan” para peserta didik dengan aturan jam masuk sekolah pada pukul 6.30 wib, kini pemerintah kembali menjadikan aset-aset berharganya sebagai kelinci percobaan dengan kebijakan sistem zona ini. Ya, tujuannya memang baik. Namun, haruskah anak-anak kita lagi yang dijadikan sasarannya?
Kurangnya sosialisasi menyebabkan banyaknya peserta didik yang kebingungan dan tidak mengerti bagaimana sistem ini bekerja. Kekecewaan juga timbul dari mereka yang sudah belajar ekstra keras demi memasuki sekolah impian yang jauh dari tempat tinggalnya. Kesempatan mereka semakin diperkecil dengan adanya sistem zona ini. Sudah bukan sekadar cerita lagi, banyak ditemui kasus pada beberapa sekolah favorit dimana murid-muridnya berasal dari daerah tempat tinggal yang jauh dari lokasi sekolah, bahkan beberapa diantaranya harus bertempat tinggal di rumah kost maupun mengontrak rumah. Ini semua adalah potret kegagalan pemerintah dalam menyediakan pendidikan berkualitas yang merata. Jika semua sekolah memiliki kualitas yang baik, tentu para orang tua tidak perlu lagi susah-susah mencarikan sekolah favorit yang jauh dari rumah untuk anak-anak mereka. Kondisi inilah yang seharusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah, khususnya dinas pendidikan Provinsi DKI Jakarta.
Dampak sistem zona
Salah satu fakta yang mengejutkan dapat terlihat dari pelaksanaan PPDB Online Provinsi DKI Jakarta pada tahun ini. Terbaginya jalur masuk menjadi dua, yaitu jalur umum dan jalur lokal, ternyata menimbulkan perbedaan input nilai yang signifikan dari kedua jalur tersebut. Nilai yang dibutuhkan untuk lolos di sekolah tujuan pada jalur umum menjadi sangat tinggi. Sedangkan, nilai yang dibutuhkan untuk dapat lolos pada sekolah tujuan pada jalur lokal (memberlakukan sistem zona) cenderung lebih rendah. Hal itu dapat kita lihat pada data hasil seleksi yang telah tersedia. Misalnya, untuk lulus seleksi masuk melalui jalur umum di SMPN 115 dibutuhkan rata-rata nilai ujian nasional minimal 9,663, sedangkan untuk masuk melalui jalur lokal, nilai yang dibutuhkan cukup hanya dengan rata-rata 9,133. Contoh yang lebih ekstrim dapat dilihat melalui hasil seleksi yang terjadi di SMPN 40. Nilai minimal rata-rata ujian nasional yang dibutuhkan untuk lulus seleksi pada jalur umum ialah sebesar 8,950, sedangkan nilai rata-rata ujian nasional yang dibutuhkan untuk lulus seleksi jalur lokal minimal sebesar 6,100 saja. Benar-benar fakta yang sangat mencengangkan. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada seleksi masuk SMP, melainkan juga SMA. Misal, pada SMAN 8, nilai terendah yang lolos seleksi pada jalur umum adalah 9,388, sedangkan untuk jalur lokal hanya cukup dengan nilai rata-rata 8,838. Begitu pula di SMAN 3, nilai rata-rata terendah pada jalur umum ialah 8,738, sedangkan pada jalur lokal hanya 7,500.
            Sangat jelas terlihat betapa besarnya jarak perbedaan antara nilai masuk melalui jalur umum dengan jalur reguler. Hal tersebut tentu memberikan keuntungan bagi para calon peserta didik yang tinggal di wilayah yang dikelilingi oleh berbagai sekolah favorit. Sangat bertentangan dengan mereka yang tinggal di wilayah yang hanya dikelilingi oleh beberapa sekolah biasa. Jelas hal ini akan menimbulkan kecemburuan antar calon peserta didik. Dampak yang lebih besar, dikhawatirkan nantinya akan timbul banyak permasalahan yang disebabkan oleh terlalu jauhnya jarak nilai masuk antara jalur umum dan jalur lokal, seperti, sulitnya murid-murid dari jalur lokal untuk beradaptasi dalam mengikuti kegiatan belajar dengan murid yang berasal dari jalur umum yang nantinya malah semakin memperjelas perbedaan tersebut serta adanya perlakuan yang berbeda dari guru antara murid yang masuk dari jalur umum dan jalur lokal yang justru menimbulkan sistem lain seperti kelas unggulan ataupun kelas bilingual untuk murid yang kemampuannya dianggap lebih baik.

            Bagaimana pun juga, usaha pemerintah kali ini harus dihargai. Kita sebagai masyarakat diminta harus lebih aktif dalam mengawasi dan mengawal pelaksanaannya, agar kelak anak-anak kita tidak kembali menjadi korban dari kebijakan baru pemerintah. Harapan penulis, semoga sistem zona ini berhasil dalam menurunkan tingkat kemacetan dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan.

Salman Al Farisi
Mahasiswa Geografi UI

Saturday, January 5, 2013

Hati Nurani Pasti Bisa Selamatkan Indonesia

Kalo baca judulnya pasti mikirnya gak jauh-jauh dari nama partai politik yah? eiiits, tenang aja. Tulisan gue kali ini gak bakal ada hubungannya sama itu kok. Kita gak bakal ngomongin hal yang berat-berat kok. Cuma mau sharing aja. Semoga ada manfaatnya. Oke cerita dimulai. Sebagai orang yang kalo kemana-mana selalu naek kendaraan umum dan jalan kaki, banyak banget hal-hal menarik yang udah gue laluin. Tinggal di negara berkembang kaya Indonesia emang gak bakal ada habisnya deh cerita-cerita seru yang kita temuin di jalan. Mulai dari tingkah lucu orang-orangnya, kejadian-kejadian menarik, atau bahkan hal paling sederhana kaya ketemu anak kecil di angkot ato kereta yang bisa mancing obrolan orang-orang. Tapi selain itu, banyak juga kisah-kisah yang nyebelin atau ngeselin dan bikin sedih. Salah satu kisah gak enak yang pernah gue alamin adalah duduk disamping orang mabok di Kopaja trus pas turun Kopaja gue baru sadar kalo tas gue udah kebuka dan tempat pensil yang isinya penuh ama kalkulator saintifik mahal gue pun raib :'(. Kalo inget kejadian itu tuh rasanya gue kesel aja, gak penting banget tuh orang masa mau nyopet tas anak sekolahan. Apa sih yang ada di tas anak sekolah kayak gue. Untung aja gue naro henpon di kantong baju pas kejadian itu. Selain itu, gue kadang suka sebel dan ngedumel dalem hati kalo lagi berhubungan ama yang namanya kereta dan stasiun di Jakarta. Walaupun disatu sisi gue cinta banget sama kereta karena udah bisa membuat gue terbebas dari kemacetan jahanam Jakarta, tapi kadang gue juga dibuat kesel sama mereka. Contohnya adalah orang-orang dengan gampangnya meludah di stasiun. Mungkin guenya aja yang sok bersih ato gimana, tapi suer gue benci banget sama orang yang ngeludah di stasiun. Betapa menjijikkannya ludah-ludah mereka itu. Apa mereka gak merasa jijik ya ngeliatnya? kadang gue ngiri juga ama negara Singapur yang udah berlakuin peraturan dilarang meludah di tempat umum. Salut gue. Coba aja aturan itu diterapin di Indonesia, pasti udah keburu ditentang deh sama manusia-manusia nyinyir ibukota. Yah ato gak paling banter Komnas HAM lah turun. Ada lagi nih kebiasaan buruk masyarakat Ibukota. Kali ini berhubungan ama yang namanya Atapers. Gue sih gak ada masalah sama keputusan mereka buat nangkring di atep kereta. Tapi satu kebiasaan mereka yang paling gue benci, yaitu suka bicara kotor dan bikin gaduh. Gue tuh bertekad buat nantinya anak-anak gue harus ngerasain yang namanya kendaraan umum, tapi apa iya? Masa' mereka harus mendengar kata-kata kotor setiap harinya. Bisa rusak moral mereka. Ada juga kebiasaan buruk yang paling buruk di stasiun. Seburuk-buruknya pelanggaran adalah pelanggaran yang satu ini. Yaitu merokok. Kenapa paling buruk?? sebab jelas di stasiun terpampang peraturan tentang dilarang merokok. Nah kalo menjambret dan melakukan tindakan asusila kan gak ada peraturannya. Makannya menurut gue perokok yang merokok di stasiun lebih baik mati aja lo semua manusia-manusia sampah. Pernah suatu ketika gue ngeliat 2 orang lagi foto di depan poster dilarang merokok sambil merokok, heran sumpah gue ngeliatnya. Dengan bangganya mereka bergaya sambil merokok. Emang sih tampang mereka udik dan kampungan, mungkin itu penyebabnya mereka melakukan hal itu. Ini nih satu lagi yang bikin gue kesel, pedagang di dalem kereta ekonomi yang maksa-maksa nyuruh orang buat ngasih jalan ke mereka. Masalahnya kalo sekali mah gapapa. Lah ini bolak-balik muter-muter, ribet bener kan. Kalo ada yang protes dan gak ngasih jalan mereka bakal ngeluarin kata-kata pamungkas,"Namanya juga cari makan mas". Ya ampun susah amat ya cari makan di Jakarta. Pernah juga tuh yang namanya anak kecil yang menggendong anak kecil ngamen. Masya Allah kok bisa-bisanya. Dalem hati kadang gue bersumpah serapah sama orang tua tuh anak-anak. Kok tega amat anaknya disuruh kaya gitu. Emaknya kemana? Bapaknya kemana? mau nangis gue liatnya. Kenapa kejam banget sih Jakarta, kenapaaaaaaa :'(.
Tapi, seiring dengan semakin banyaknya hari yang udah gue lalui. Gue semakin sadar. Rasa kesel dan sebel beserta sumpah serapah itu tidak akan ada manfaatnya. Kini gue adalah seorang mahasiswa, yang kalo kata senior gue di kampus sih memiliki definisi “Bahwa sesungguhnya mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang memiliki keyakinan kepada kebenaran dan telah tercerahkan pemikirannya serta diteguhkan hatinya saat mereka berdiri di hadapan kezaliman. Oleh sebab itu, sepatutnya mahasiswa bergerak untuk mengubah kondisi bangsa menuju masyarakat madani yang adil dan makmur”.Ya, gue lah yang harus bergerak. Gue lah yang harus merubah. Tentunya gue gak akan bisa melakukannya kalo tanpa bantuan kalian. Ya kalian, kalian semua masyarakat Indonesia. Sudah saatnya, kita lucuti semua hinaan kepada bangsa kita sendiri. Mereka meludah sembarangan, mereka merokok sembarangan, mereka berjualan tidak sesuai aturan, dan mereka anak-anak pengamen jalanan, itu semua bukan kemauan mereka, itu semua bukan salah mereka, itu semua salah kita. Kenapa dengan teganya kita membiarkan kedzaliman itu masih saja beredar di depan pandangan mata kita. Lihatlah kondisi Jakarta, semua jalanan penuh dengan kemacetan. Banyak dari kendaraan-kendaraan itu adalah mobil-mobil mewah yang sangat mahal harganya. Namun apa? tepat disamping mobil mewah itu berdiri anak-anak jalanan menadahkan tangan mereka meminta sedikit kebahagiaan. Lalu salah siapa? Apa itu salah mereka sendiri yang tidak mau merubah nasibnya? Apa itu salah mereka yang tidak mau bekerja keras sehingga selamanya menjadi miskin? Tentu tidak! itu semua salah kita. Salah kita membiarkan mereka semua seperti itu. Berbanggalah kalian yang masih bisa menangis melihat kondisi bangsa kita. Mari kita berdoa agar cibiran kita akan semua kesusahan ini bisa berubah menjadi sebuah renungan untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa berubah menjadi sebuah tangis kesedihan, mengapa bangsaku harus seperti ini. Para pedagang kaki lima itu, apa salah mereka yang berdagang tanpa izin? apa salah mereka yang mau saja dengan bodoh membayar semua pungutan kepada pihak tidak bertanggung jawab? apa salah mereka menimbulkan kesemrawutan? saya yakin, itu salah kita. Kenapa pusat perbelanjaan mewah itu bisa begitu ramai dan pesat pertumbuhannya sedangkan panti-panti sosial tidak terdengar gaungnya? Saya yakin itu salah kita. Lalu sampai kapan kesalahan ini akan terus terjadi? sampai kapan bangsa ini menangis? sampai kapan kita seperti ini? Mari selamatkan hati nurani kita. Mari buat hati kita agar dapat terus menangis melihat penderitaan bangsanya sendiri. Dengan hati nurani pasti bisa selamatkan Indonesia. Bagaimana caranya? caranya mudah dan gampang. Perbanyaklah sedekah dan pupuk kedermawanan. Mungkin selama ini kita sering berjanji atau bernazar "Kalau anak saya lulus kuliah saya mau ajak jalan-jalan keluarga ke luar negeri" "Kalau nilai ujian gue bagus gue mau traktir semua temen gue" "Kalau anakku ranking satu aku mau kasih dia playstation terbaru" dan lain lain. Bagaimana kalau kita rubah menjadi "Kalau anak saya lulus kuliah saya mau membagikan makanan ke tetangga yang kurang mampu" "Kalau nilai ujian gue bagus gue mau nyumbang buat anak yatim" "Kalau anakku ranking satu aku mau menyumbangkan perhiasanku ke panti asuhan" gimana? gampang kan? selamat mencoba :)

Sunday, December 9, 2012

Pemberlakuan Tarif Pelajar dan Mahasiswa Pada Sarana Transportasi Publik Transjakarta dan Commuter Line Dalam Rangka Mengurangi Kemacetan


Kemacetan merupakan salah satu kendala terbesar yang dialami oleh provinsi DKI Jakarta. Kondisi tersebut terjadi karena berbagai faktor. Diantaranya, perilaku buruk para pengguna jalan yang tidak taat akan tata tertib berlalu lintas, serta posisi strategis ibukota negara yang secara tidak langsung menjadikan DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan, pusat perniagaan, bahkan pusat pendidikan. Berbagai upaya telah direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah kota demi mengatasi permasalahan kemacetan. Salah satu kebijakan yang cukup kontroversial adalah pemberlakuan jam masuk sekolah menjadi lebih awal, yaitu pukul 6.30 WIB dari sebelumnya pukul 7.00 WIB yang mulai dilaksanakan pada tanggal 5 Januari tahun 2009. Secara tidak langsung, hal tersebut telah membuktikan bahwa keberadaan pelajar mampu mempengaruhi kehidupan warga ibukota. Menurut survei pada tahun 2008, aktivitas perjalanan pelajar dari rumah ke sekolah, memiliki komposisi 30% dari semua aktivitas perjalanan di DKI Jakarta. Namun, salah satu fakta yang menarik adalah hasil survei dari Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta pada bulan November 2007 hingga bulan Mei 2008 yang menunjukkan bahwa 94,06% dari perjalanan yang dilakukan oleh pelajar tersebut ialah menggunakan sarana transportasi umum. Hal tersebut tentu saja dapat menjadi sebuah evaluasi bagi pemerintah kota, bahwa pelajar di provinsi DKI Jakarta memiliki ketergantungan akan sarana transportasi publik. Banyak alasan yang muncul mengapa para pelajar tersebut lebih memilih menggunakan kendaraan umum, diantaranya, lebih murah, ketersediaan kendaraan umum yang cukup banyak, tidak merepotkan orang tua, serta mampu menjangkau lokasi sekolah yang biasanya terdapat di lingkungan perumahan. Walaupun demikian, banyak pula kekurangan yang dimiliki oleh sarana transportasi publik tersebut yang membuat sebagian kecil pelajar merasa enggan menggunakannya. Beberapa kekurangan tersebut antara lain, waktu ngetem kendaraan umum yang terlalu lama seringkali membuat siswa-siswi terlambat, kurang nyamannya sarana dan prasarana yang tersedia, kurangnya rasa aman sebab marak terjadi kejahatan dan kriminalitas di kendaraan publik, serta kurang dihargainya para pelajar oleh supir dan kondektur kendaraan umum sebab membayar dengan biaya yang lebih murah dibanding penumpang lain, sehingga sopir dan kondektur cenderung lebih mendahulukan penumpang lain. Hal-hal tersebutlah yang akan dibahas lebih lanjut dalam esai ini.
Tingginya minat pelajar-pelajar di provinsi DKI Jakarta untuk memanfaatkan keberadaan sarana dan prasarana transportasi publik nyatanya belum mendapat apresiasi yang mendalam dari pemerintah kota. Memang, beragam kebijakan telah dikeluarkan, salah satu kebijakan yang populer adalah proyek Bis Sekolah. Namun, kenyataannya keberadaan Bis Sekolah itu hanya mampu dijangkau oleh pelajar dari beberapa sekolah disegelintir wilayah saja, sehingga sifatnya tidak menyeluruh dan tidak bisa dirasakan oleh sebagian besar pelajar lainnya. Dengan kata lain, kendaraan umum yang biasa masih dibutuhkan oleh pelajar. Bukti lain yang menyatakan pelajar belum mendapat pelayanan transportasi publik secara maksimal adalah tidak tersedianya tarif pelajar dan mahasiswa pada Transjakarta dan Commuter Line. Tarif pelajar sejauh ini memang telah diberlakukan sejak lama oleh beberapa penyedia layanan transportasi umum, seperti bis dalam kota, angkutan kota, dan mikrolet. Tarif pelajar biasanya 25%-50% lebih murah dibanding tarif biasa. Seperti contoh, tarif bis Metro Mini semua jurusan baik dekat maupun jauh untuk penumpang biasa sebesar Rp 2.000,- sedangkan untuk pelajar sebesar Rp 1.000,-. Contoh lainnya, tarif Mikrolet untuk penumpang biasa sebesar Rp 2.000,- sedangkan tarif untuk pelajar sebesar Rp 1.500,-. Tentu saja, pemberlakuan tarif pelajar tersebut sangat besar dirasakan manfaatnya oleh pelajar, terlebih khusus lagi bagi para orang tua. Namun, keadaan berbeda berlaku pada Transjakarta dan Commuter Line. Kedua sarana transportasi tersebut ternyata tidak memberlakukan tarif pelajar. Padahal kedua sarana dan prasarana transportasi publik tersebut mendapatkan perhatian yang cukup besar dari pemerintah kota, bahkan mampu menjadi ikon kota DKI Jakarta. Dilihat dari keberadaannya, kedua sarana transportasi massal tersebut juga melintasi berbagai lokasi strategis yang didalamnya juga terdapat berbagai sekolah dan universitas. Secara tidak langsung, hal tersebut mengimplikasikan bahwa keberadaan mereka juga dibutuhkan oleh pelajar dan mahasiswa. Sesuai keadaan yang ada di lapangan, dari semua koridor yang ada setidaknya beberapa halte Transjakarta bahkan menggunakan nama institusi pendidikan, antara lain, halte SMKN 57 Jakarta, Lembaga Pendidikan Ilmu Bahasa Asing LIA Pramuka, Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar Kebayoran Baru, Universitas Indonesia Salemba, Universitas Negeri Jakarta, dan lain-lain. Jalur Transjakarta atau yang akrab disebut busway juga melewati setidaknya ratusan institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta. Semua fakta tersebut kembali memperkuat dan meyakinkan pemerintah, bahwa Transjakarta membutuhkan tarif pelajar dan mahasiswa. Bisa dilihat, tentu akan banyak kemacetan yang dapat berkurang jika semua pelajar dari berbagai institusi pendidikan tersebut mau menggunakan kendaraan umum, khususnya Transjakarta. Hal serupa juga terjadi dengan Commuter Line, dua stasiun menggunakan nama institusi pendidikan, yaitu, Universitas Pancasila dan Universitas Indonesia. Jumlah mahasiswa dari dua institusi itu saja sekurang-kurangnya sudah mencapai angka belasan ribu. Belum lagi banyaknya pelajar yang sekolahnya terdapat di sekitar stasiun-stasiun Commuter Line, tidak hanya di DKI Jakarta, bahkan mereka yang bersekolah di wilayah penyangga DKI Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Oleh sebab itu, sudah saatnya pemerintah kota memberikan perhatian khusus kepada para penumpang yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Biaya sebesar Rp 3.500,- untuk Transjakarta dan Rp 8.000,- untuk Commuter Line tentu sangat memberatkan, khususnya para orang tua sebagai penanggung biaya, mengingat mobilitas pelajar dan mahasiswa tersebut sangat tinggi, bahkan bisa berlangsung selama 6 hari dalam sepekan. Dibutuhkan jalan keluar yang sesuai untuk itu semua. Salah satunya ialah dengan memberlakukan tarif pelajar dan mahasiswa. Sebagai pembeda mereka dengan masyarakat umum biasa, pelajar dan mahasiswa dapat menunjukkan kartu pelajar dan mahasiswa mereka kepada petugas. Sehingga penyedia layanan transportasi umum tidak rugi karena pemanfaatan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sebuah hal yang sederhana, namun belum mampu diwujudkan oleh perusahaan penyedia transportasi. Padahal dengan pemberlakuan hal tersebut, itu akan mampu mengurangi kemacetan yang disebabkan oleh keegoisan warga Jakarta yang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, dibutuhkan pula komitmen dari perusahaan transportasi untuk mampu melayani dan menyesuaikan kebutuhan para pelajar dan mahasiswa tersebut agar nantinya kebijakan ini tidak merugikan satu pihak.

Salman Al Farisi,
Mahasiswa Geografi, FMIPA, Universitas Indonesia

Monday, October 22, 2012

Fenomena Anak SD Labil

Walau lagi minggu UTS, tapi kali ini bakal tetep gue sempetin deh nge-blogging. Udah lama banget soalnya gak ngeblog. Kasihan sama pembaca setia blog ini yang udah mulai putus asa mencari hiburan lain hehehehe. Gini nih, beberapa hari yang lalu gue kembali dikagetkan oleh salah satu fenomena aneh yang terjadi di negeri ini. Kejadiannya tuh waktu itu gue lagi duduk-duduk di peron stasiun manggarai nungguin kereta buat ke kampus, maklum gak sabaran dari stasiun karet. Jadinya malah naik kereta yang cuma sampe manggarai buat sekedar transit menyambung kereta. Eh eh lanjut lagi ceritanya ya. Jadi tuh waktu itu suasananya rame banget, udah kaya pasar tumpah. Hem apalagi kalo udah yang namanya warga bogor yang kerja di jakarta itu sampe manggarai. Luar biasa ramenya kayak lagi di dufan pas libur lebaran. Bukan cuma itu, mereka juga sambil lari-lari transit ngejar kereta (kereta kok dikejar -__-). Nah dibalik keramaian itu terlihatlah sesosok makhluk astral... eiiiiit salah maksudnya makhluk berukuran mini alias anak kecil. Yup, anak kecil, anak SD sih lebih tepatnya. Kebayang gak sih sosok anak SD di jaman dulu itu kaya gimana?? iya yang namanya anak SD apalagi perempuan tuh ya pasti gak jauh-jauh dari rok merah dengan kemeja putih rapi yang dimasukin, rambut dikuncir atawa dikepang dua, yah pokoknya masih polos lah ya. Nah tapi sosok anak SD perempuan yang satu ini kok rasa-rasanya agak aneh ya. Ckck wajar aja aneh. Bener-bener aneh malah. Tuh anak SD kok gayanya mirip anak SMK Pariwisata yah -__- menor amat coy. Pake bedak, lipstik alus, rambut digerai ala-ala bintang iklan sampo (raisa gitu deh ya), trus satu hal lagi yang paling absurd adalah... tiap menit ngecek handphone qwerty yang ada di tasnya. Oh meeeen, sesibuk itukah anak SD jaman sekarang? kenapa jadi kayak tante-tante sosialita yah. Agak nyeremin sih menurut gue pribadi. Gak tau itu salah siapa. Oh iya, sebenernya itu bukan pertama kalinya sih gue liat anak SD kaya gitu. Pernah juga waktu itu kejadiannya gue lagi naek bemo abis dari pasar (gue lupa abis beli apaan), nah persis di depan gue duduk manis seorang anak SD (lagi-lagi perempuan). Tau wujudnya kaya gimana??? rambut diblow, pake behel, pake bebe, tubuh semampai, rok agak pendek. Iyuuuuh kok aneh bener yak. Gue ampe gak percaya kok anak SD sedewasa itu yah gayanya. Hemmm itu dia tuh dampak yang ditimbulkan dari sinetron-sinetron di TV Indonesia. Anak sekolah tapi gayanya pada selangit. Heran juga gue sama fenomena yang satu ini. Menurut kalian??