Showing posts with label Activities. Show all posts
Showing posts with label Activities. Show all posts

Sunday, June 6, 2021

Mencari Hobi Baru

Jujur, akhir-akhir ini suka merasa bingung jika ditanya orang lain punya hobi apa. Kalau dulu saat masih sekolah, saya bisa jawab membaca. Kebetulan memang dulu sehobi itu baca buku. Saya bisa pergi sendirian ke Gramedia Blok M cuma sekadar untuk mencari buku. Seringnya tidak punya tujuan beli buku apa. Cuma modal lihat-lihat buku apa yang populer dan akhirnya beli. Kalau sekarang, saya merasa agak tidak pantas jika menjawab hobi membaca, karena buku yang saya baca dalam enam bulan terakhir hanya satu saja. Judulnya Malice, novel mengenai pembunuhan seorang novelis. Buku itu pun saya beli secara random karena mendenger podcast review buku di Spotify.
Saking bingungnya jika ditanya hobi, akhir-akhir ini biasanya saya jawab saja hobi saya jalan kaki hahaha. Tapi ini serius. Kegiatan yang konsisten saya lakukan setiap akhir pekan dalam beberapa bulan terakhir ya jalan kaki. Biasanya saya keluar rumah jam enam pagi. Mulai dari mengitari kawasan Bendungan Hilir, Senayan, sampai Sudirman. Tujuannya murni jalan kaki, bukan berlari. Sebelum pandemi saya pun beberapa kali pulang jalan kaki dari kantor di kawasan Monas ke rumah di daerah Pejompongan. Memang capek, tapi saya suka.
Nah, berhubung hobi jalan kaki terlalu abstrak jika diceritakan ke orang-orang, maka saya berpikir keras hobi apa yang bisa saya jalankan, khususnya di masa pandemi ini. Tentu saja saya punya kriteria, antara lain, biayanya murah, tidak menguras fisik, tidak memakan waktu terlalu banyak karena saya harus tetap bekerja, dan tentunya menyenangkan.
Setelah berkontemplasi, akhirnya saya putuskan untuk merawat sukulen atau kaktus mini. Biayanya murah, untuk 21 pot dengan diameter 10 cm biayanya tidak sampai dua ratus ribu rupiah. Sama sekali tidak menguras fisik, karena bisa disiram seminggu sekali dan bisa dilakukan di balkon rumah. Disiram pun hanya seminggu sekali dengan proses penyiraman hanya beberapa menit. Menurut saya hal ini menyenangkan, buktinya saya antusias malam-malam menyendok media tanam ke pot dan menanam sukulen yang saya beli secara online dari Lembang, Bandung. Bukan hanya saya, adik-adik pun juga tergoda menyiram tanaman. Saking sayangnya sama si sukulen, saya pun memanggilnya dengan 'my baby' hahaha. Jadi kalau sore-sore mau hujan, saya akan bergumam "Wah, my baby harus dimasukkin ke dalem nih biar ga kehujanan". Semoga cerita ini bisa menginspirasi teman-teman untuk mencari hobi baru, terutama di masa pandemi yang sangat rentan terhadap stres ini.
Berikut potret beberapa koleksi sukulen saya.







Monday, May 17, 2021

Pentingnya Pengkinian Cita-Cita

Sebagai orang yang realistis, salah satu hambatan terbesar saya dalam merangkai cita-cita ialah selalu bermain di zona aman. Saya cenderung menuliskan hal-hal yang paling mungkin dicapai dan seringkali tidak berani menuliskan hal yang out of the box. Bukan, bukan berarti cita-cita saya rendah. Namun, saya memilih yang paling mudah digapai. Misalnya, dalam lima tahun kedepan saya bercita-cita memiliki rumah. Namun, saya tidak berani menuliskan standar rumah yang tinggi seperti rumah yang dikembangkan oleh Agung Podomoro atau Agung Sedayu. Bagi saya, rumah kecil di pinggiran kota sudah cukup. Begitu pula dengan cita-cita kuliah S2. Saya tidak berani menuliskan syarat kampus ivy league dengan jalur full scholarship. Alhasil, saya sudah cukup puas dengan kuliah master di dalam negeri.

Lalu, apakah hal ini sesuatu yang buruk? Sebenarnya tidak juga. Saya sangat bersyukur dapat mewujudkan satu demi satu mimpi meski secara perlahan. Namun, keinginan untuk terus menantang diri sendiri agar jadi pribadi yang lebih baik muncul begitu saja. Salah satu penyebabnya, saya teringat pada selembar kertas yang saya tulisi dengan harapan dan cita-cita dalam beberapa periode kedepan, seperti tiga tahun lagi, lima tahun lagi, sepuluh tahun, dan seterusnya. Kertas tersebut saya tulis bukan sepenuhnya atas kesadaran diri sendiri, namun diminta oleh salah seorang trainer yang memberi materi di kantor saat saya baru mulai bekerja.

Saya ingat sekali dengan beberapa hal yang saya tulis, diantaranya, mendapat promosi jabatan dari kantor, memiliki rumah sendiri (meski kredit), dan melanjutkan studi ke jenjang S2. Ajaibnya, sebelum lima tahun bekerja mimpi-mimpi tersebut telah tercapai. Meski ya itu tadi, dengan standar yang minim. Makannya saya jadi overthinking, kenapa sih dulu tidak saya tulis saja cita-cita masuk Forbes Under 30, beli rumah di Menteng, atau kuliah S2 di Harvard sekalian. Ya, namanya juga manusia, sudah jadi sifatnya untuk tidak pernah puas. Tapi tenang saja, meski begitu saya selalu bersyukur atas pencapaian saat ini.

By the way, saking tidak percaya diri dan malunya saya saat menuliskan cita-cita tersebut, sampai-sampai kertas itu akhirnya saya buang. Setelah itu, saya baru kepikiran dan menyesal kenapa dibuang, padahal bisa jadi kertas bersejarah kelak ketika semuanya sudah terwujud. Kertas itu pula yang akhirnya menginspirasi saya untuk menulis lagi di blog yang sudah tidak terurus ini.

Berhubung sebagian cita-cita sudah tercapai, dan sebagiannya lagi ada juga yang belum tercapai, saya rasa penting juga untuk kita selalu melakukan update atas cita-cita yang kita miliki. Ibarat know your customer-nya perbankan, kita juga semakin bisa mengukur kemampuan dan profil diri kita. Jika nomor telepon dan alamat nasabah yang berubah harus selalu dikinikan, begitu pula cita-cita dan harapan.

Adanya cita-cita dan harapan dapat memacu semangat kita, apalagi jika satu per satu mulai tercapai, rasanya seperti berhasil checkout barang-barang yang sudah masuk wishlist Tokopedia sejak setahun lalu. Ada bahagia yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. Meski begitu, kadang tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Inilah kenapa cita-cita tersebut juga harus fleksibel sesuai kondisi kita. Baiklah, kalau begitu mari kita tulis kembali cita-cita dan berdoa agar dapat dimudahkan dalam mewujudkannya, aamiin.

Saturday, January 2, 2021

Keuntungan dan Risiko Membeli Rumah KPR Syariah Non Bank

Memiliki rumah merupakan salah satu impian terbesar bagi seseorang. Namun, harganya yang tidak terjangkau membuat banyak orang pesimis bisa memiliki rumah. Sebenarnya, banyak jalan untuk mnemiliki rumah, salah satunya ialah dengan KPR Syariah Non Bank. Skema ini cukup populer belakangan ini karena menawarkan beberapa keuntungan dibandingkan pembelian menggunakan KPR Bank. Tetapi, dibalik berbagai kemudahan tersebut tentu ada beberapa konsekuensi yang harus Anda terima. Berikut ialah pengalaman saya dalam memanfaatkan fasilitas ini untuk memiliki rumah pertama. Disclaimer: pengalaman ini mungkin saja berbeda dengan yang Anda alami

Keuntungan

  1. Akad sesuai prinsip Syariah. Bagi sebagian orang, KPR Bank bertentangan dengan ajaran Islam karena dinilai mengandung bunga dan denda. Adanya KPR Syariah Non Bank telah memberi opsi yang lebih aman secara syariat karena akadnya yang dianggap tidak bathil.
  2. Bebas biaya-biaya, seperti, provisi bank, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, BPHTB, appraisal, dan sebagainya. Salah satu penghambat orang untuk mengambil KPR melalui Bank ialah biaya awal yang besar, bahkan bisa sampai 5% dari harga rumah. Selain menabung untuk DP, masyarakat terkadang lupa bahwa terdapat biaya kredit yang juga menjadi kewajiban. Adanya KPR Syariah Non Bank tentu memberi kemudahan bagi calon pembeli rumah karena bisa fokus pada tabungan untuk DP saja.
  3. Besaran angsuran yang lebih rendah. KPR Syariah Non Bank biasanya menggunakan akad jual beli sesuai dengan harga yang sudah disepakati kedua belah pihak. Meskipun di awal harganya menjadi jauh lebih tinggi dibanding harga pasar, namun besaran angsurannya akan flat sampai lunas. Pada kasus rumah yang saya beli, jika saya simulasikan, maka margin cicilan rumah hanya setara dengan 8% suku bunga bank konvensional menggunakan skema anuitas. Ini terhitung murah, disaat suku bunga floating KPR yang mencapai 11-14%.
  4. Administrasi yang sederhana. Pengajuan KPR Non Bank ini hanya memerlukan KTP, Kartu Keluarga, NPWP, dan Surat Nikah (jika sudah menikah). Setelah semua syarat terpenuhi, pinjaman Anda akan segera diproses. Nama Anda juga tidak dilakukan pengecekan BI Checking (sekarang menjadi SLIK OJK), sehingga bila memiliki tunggakan utang pada lembaga keuangan lainnya masih ada harapan pinjaman Anda diterima.
Risiko
DIbalik berbagai kemudahan yang diberikan, tentu Anda harus memahami berbagai risiko yang harus Anda hadapi jika mengajukan KPR Syariah Non Bank.

  1. Legalitas. Jika menggunakan KPR Bank, maka seluruh risiko akan ditanggung Bank. Inilah alasan mengapa KPR Bank terkesan lebih rumit, karena Bank sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Mulai dari harga rumah yang dinilai secara independen oleh appraiser untuk menghindari mark up harga yang tidak masuk akal, pengecekan legalitas tanah dan bangunan oleh notaris termasuk pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional, pengalihan risiko gagal bayar akibat kematian serta pengalihan risiko bangunan rusak akibat terbakar ke pihak asuransi. Hal semacam ini belum tentu Anda dapatkan saat membeli rumah dengan KPR Syariah Non Bank.
  2. Kredibilitas Developer. Perumahan yang dibangun dengan skema KPR Non Bank umumnya dilakukan oleh developer kecil. Modal yang dimiliki oleh perusahaan ini sangat terbatas. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa saja rumah Anda terancam gagal dibangun. Seandainya dibangun, prosesnya akan sangat lamban karena developer membangun bertahap memanfaatkan cicilan yang dibayar konsumen.
  3. Penyimpanan Sertifikat. KPR merupakan kredit jangka panjang, dimana saat ini rata-rata pengajuan KPR menggunakan tenor 10-15 tahun. Dengan jangka waktu selama itu, siapa pihak yang amanah menjaga sertifikat agar tidak hilang dan disalahgunakan. Jangan sampai sertifikat tanah dan bangunan yang Anda beli diagunkan kembali oleh developer ke Bank.
  4. Fleksibilitas pelunasan. Karena KPR Non Bank menggunakan akad jual beli yang harganya sudah ditentukan di awal, maka jika ingin melakukan pelunasan dipercepat, Anda harus melunasi seluruhnya, baik pokok maupun margin. Berbeda dengan KPR Bank yang bisa dengan jelas Anda ketahui sisa pokok hutangnya, sehingga jika ingin lunas sipercepat, cukup membayar sisa pokok utang + denda yang nominalnya relatif kecil
Tips dan Saran
Jika pada akhirnya Anda tetap ingin memanfaatkan fasilitas KPR Syariah Non Bank, berikut beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar dapat meminimalisir risiko yang ada.
  1. Dokumentasikan seluruh tahapan kredit yang dilakukan. Tidak perlu ragu untuk memfoto dan memvideokan seluruh kegiatan yang terkait kredit Anda, mulai dari kegiatan PPJB, serah terima rumah, akad kredit, dan sebagainya. Termasuk menyimpan segala bukti pembayaran yang sudah Anda lakukan.
  2. Hanya bertransaksi menggunakan rekening milik developer atau Rekening PT, bukan pribadi. Bank selalu melakukan verifikasi terhadap akta pendirian suatu PT. Bertransaksi melalui rekening PT sudah meminimalisir penyalahgunaan dana oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Selain itu, hal ini juga memastikan perusahaan developer yang Anda pilih memang valid dan tidak fiktif.
  3. Tanyakan siapa pihak yang menyimpan dokumen berharga seperti sertifikat rumah. Meskipun ini KPR Non Bank, tidak ada salahnya khusus penyimpanan sertifikat tetap bekerjasama dengan Bank di safe deposit box dan dilakukan monitoring secara rutin keberadaannya. Bermusyawarahlah dengan seluruh debitur dan meminta developer menyimpan sertifikat di bank yang terpercaya agar tidak hilang dan disalahgunakan.
  4. Sebisa mungkin libatkan notaris dalam setiap kegiatan, mulai dari PPJB, AJB, dan sebagainya. Pemilihan notaris bisa didiskusikan dengan developer. Termasuk jika ada perjanjian yang dilanggar, konsultasikan kembali dengan notaris apakah perlu dibuatkan addendum atau tidak. Diskusikan juga siapa pihak yang akan menanggung biaya notaris.
  5. Segera tempati rumah ataupun kuasai fisiknya dengan menyewakan ke pihak lain, jangan sampai kosong. Sudah bukan rahasia umum, penyerahan sertifikat hak milik oleh developer perumahan syariah non bank biasanya memakan waktu yang lama bahkan hingga bertahun-tahun. Pada saat itu, Anda belum memegang sertifikat apapun selain PPJB. Kuasai fisik rumah dengan menempati-nya atau menyewakan ke pihak lain, agar lingkungan menjadi hidup. Sebisa mungkin warga aktif melakukan berbagai kegiatan di dalam lingkungan perumahan, libatkan juga developer. Sehingga jika dikemudian hari terdapat wan prestasi, warga memiliki bukti yang kuat atas kepemilikan rumah.
  6. Kenali developer. Berbeda dengan KPR Bank, perjanjian Anda saat ini hanya melibatkan Anda sebagai pembeli dan developer selaku penjual. Cari tahu kredibilitas developer Anda, termasuk individu-individu penyusun organisasinya. Jalin silaturahmi secara rutin dan komunikasikan setiap masalah yang ada.
Sekian tulisan mengenai keuntungan, risiko, serta tips dan saran tentang KPR Syariah Non Bank. Saya doakan Anda segera memiliki rumah. Jika memiliki kritik, saran, dan pertanyaan, silakan sampaikan dalam kolom komentar.

Terima kasih

Thursday, August 27, 2015

Jalan-Jalan Bermotifkan Kuliah Kerja Lapang

Setelah KKL 1 (Kuliah Kerja Lapang I) dilaksanakan di Kabupaten Pelabuhanratu dan KKL 2 di Kabupaten Cirebon, maka pada KKL 3 saya dan teman-teman seangkatan mulai berpikir keras untuk menentukan lokasi selanjutnya. Bukannya apa-apa, KKL 3 ini akan menjadi acara terakhir kami buat bisa pergi bareng-bareng, jadi gak mungkin kami buat asal-asalan. Setelah perdebatan panjang dengan sesama teman, dengan asisten dosen, dan juga dengan dosen pengampu mata kuliah KKL 3 maka akhirnya diputuskan lokasi KKL 3 adalah Pulau Lombok. Konsekuensinya, kami harus kerja keras mencari dana tambahan dan juga menghubungi berbagai pihak di Lombok secara mandiri. Bukan main-main, dana yang dibutuhkan untuk kegiatan ini mencapai ratusan juta rupiah. Ya, walau benar-benar dimulai dari nol, ternyata kami berhasil mewujudkan impian kami semua untuk Kuliah Lapang di Pulau Lombok. Yeahhh!! Lalu, bagaimana keseruannya? silakan simak kisahnya.

Hari 1 - Kumpul di Bandara dan Jalan-jalan Lucu
Salah satu permasalahan terbesar yang dimiliki oleh mahasiswa Geografi UI angkatan 2012 adalah NGARET!!! ngaretnya anak geo itu bisa dibilang sudah sangat kronis dan akut. Ketika kami memutuskan untuk kuliah lapang ke Lombok dengan pesawat, telat adalah salah satu ketakutan kami. Buat antisipasi, kami sepakat jam 03.00 dinihari semua anak harus sudah standby di terminal 2. Fyi, rombongan yang kami bawa jumlahnya 110 orang terdiri dari 94 mahasiswa angkatan 2012, 2 mahasiswa angkatan 2011, 1 mahasiswa angkatan 2010, 3 asisten dosen, 3 dosen, dan 7 mahasiswa asing dari University of Sydney. Kebayang kan gimana hectic-nya ngurus manusia sebanyak itu dalam satu pesawat. Buat beli tiket pesawatnya aja udah habis uang hampir 200 juta haha. Beruntungnya kami dibantu oleh salah satu dosen masalah tiket ini, jadi bisa dapat tiket pesawat Garuda Indonesia PP dengan harga lumayan murah dibanding harga normal.
Karena takut terlambat, beberapa mahasiswa memutuskan untuk menginap di bandara. Sisanya berangkat dari rumah teman-teman sama-sama buat yang rumahnya deketan, pakai mobil atau patungan taksi. Kebetulan saya yang rumahnya masuk basis Jakarta Pusat berangkat sama-sama dengan 3 teman lain naik taksi dari rumah saya, biar bisa patungan biar hemat. Cara ini lumayan ampuh, kita jadi sampai bandara tepat waktu.
Sekitar pukul 04.00 kita cek-in bareng-bareng, gak kebayang hebohnya udah kaya apaan. Belum lagi antriannya juga udah super ribet. Tapi, karena rame-rame jadinya kami senang-senang aja. Sampai boarding room kami pada gantian solat subuh lalu menunggu boarding jam 05.30.
Jam 09.00 kita sampai di Pulau Lombok. Baru nyampe langsung pada foto-foto lucu di gerbatara dan ruang klaim bagasi. Disini ada kejadian konyol, salah satu temen saya lupa kalo laptopnya ketinggalan di gerbatara pas foto-foto, udah panik-panik gitu ternyata laptopnya ketemu hehe.
Keluar bandara kita nunggu bus yang sebelumnya sudah disewa oleh tim advance. Kita pesan 3 bus, dari situ kita langsung meluncur ke Desa Sade. Desa Sade ini adalah salah satu desa yang masih mempertahankan budaya asli Suku Sasak. Selain bentuk rumah yang masih tradisional, masyarakat sana juga punya tradisi "mengepel" lantai rumah dengan kotoran kerbau. Kegiatan masyarakat Desa Sade pada umumnya ialah membuat pernak-pernik aksesoris dan kain tenun khas sasak.

Setelah kunjungan ke Desa Sade selesai kami segera ke Asrama Haji Kota Mataram buat istirahat dan beres-beres sebentar sebelum lanjut jalan lagi. Yup, kami semua bakal stay disini. Tempatnya standar sih, tapi lumayan bersih. Semua temen bisa tidur di kasur tanpa harus pasang posisi ikan sarden. Selain itu tiap kamar punya dua kamar mandi. Lumayan lah bisa menekan antrian. Selanjutnya kami langsung segera menuju Pantai Krandangan dekat sama Pantai Senggigi. Pantainya sih jujur aja gak bagus haha. Kita sengaja kesini kata sopir busnya biar gratis aja gitu. Trus salah satu dosen saya menjelaskan kalau karakteristik pantai yang ada kurang cocok untuk dijadikan objek wisata air. Walaupun begitu, suasana sore menjelang sunset membuat saya dan rekan-rekan tetap senang buat foto-foto disana. Hitung-hitung pemanasan buat destinasi selanjutnya.

Hari kedua di Lombok, agenda kami adalah kunjungan ke Kantor Gubernur NTB untuk menghadiri seminar dan ramah tamah. Biasa lah, acara di kantor pemerintahan gak lengkap rasanya kalau gak ngaret hehe. Tapi kami senang, soalnya disambut baik oleh bapak-bapak dan ibu-ibu dari pemerintahan. Mereka kasih kami banyak informasi yang berkaitan dengan penelitian kami. Kegiatan cuma berlangsung beberapa jam. Daripada nganggur dan tidur-tiduran di asrama, saya memutuskan untuk segera ke Kantor BPS Kabupaten Lombok Barat yang ada di Kecamatan Gerung buat ambil data sekunder. Saya patungan sewa angkot buat ke Kantor Bupati Lombok Barat sama 6 orang teman lainnya. Berhubung tujuan kita berbeda-beda tapi masih di satu areal yang sama, maka angkot bakal anterin satu-satu ke SKPD-SKPD yang sudah kita tentuin sebelumnya. Sampai kantor BPS saya langsung mohon izin minta data yang saya butuhkan buat penelitian saya. Bapak pegawai BPSnya lumayan baik dan mau repot, buktinya semua data yang saya mau dikasih tanpa ragu-ragu (kalau ga salah saya pinjem sampai belasan buku). Yang ada di pikiran saya saat itu besok saya cuma mau jalan-jalan. Alhasil hari itu juga saya rapiin semua data di kantor BPS. Belum rapih juga sih, baru saya salin aja dan fotoin satu-satu. Pokoknya nanti tinggal diberesin sebentar dan diolah. Saya pun pamit dan main-main sebentar di Taman Kota Giri Menang, Gerung. Lalu pulang dan mampir sebentar di pasar buat makan Ayam Taliwang yang tersohor itu.

Hari ketiga saya memutuskan untuk melakukan observasi lapang di kawasan Lombok Barat, khususnya mengenai kondisi perekonomian. Supaya nggak bete dan ada temennya saya putuskan untuk ikut teman yang akan melakukan telusur pantai sepanjang pantai barat. Dimulai dari kawasan Batulayar yang memang menurut data merupakan salah satu wilayah dengan tingkat perekonomian tertinggi dari sektor pariwisata. Dari Batulayar kami berdua terus jalan kaki ke arah utara (entah berapa kilometer panjangnya, dan entah pula apa saja nama pantainya). Lalu kamin tiba di Pantai Batubolong. Terus melakukan pengamatan. Mulai dari panas terik sampai hujan deras. Pokoknya kami jalan terus ke utara hingga akhirnya berakhir di Pantai Mangsit. Lumayan terhibur karena pantainya lumayan bagus warnanya hijau tosca. Tapi agak takut juga disana cuman ada kami berdua dan ombaknya lumayan besar dengan garis pantai yang kecil. Pokoknya hari itu bener-bener get lost aja. Cari mesjid dan cari makan lagi ke arah Senggigi. Lalu akhirnya memutuskan untuk menikmati angin sore di Dermaga Cicak, Pantai Senggigi. Serunya disana kami bertemu sama beberapa teman juga.

Hari keempat dan seterusnya saya habiskan untuk LIBURAN. Yeah. Prinsipnya selama ada waktu kosong di asrama langsung saya gunakan untuk mengolah data. Sisanya ya jalan-jalan sama teman-teman. Mulai dari Pantai Kuta, Pantai Tanjung Aan, Pantai Pink, dan lain sebagainya. Ini baru Lombok. Pantainya indah-indah banget. Selain itu juga terasa milik sendiri karena sepi. Perjalanan yang dilakukan juga lumayan berat, selain membutuhkan waktu yang lama kondisi jalan juga rusak parah di beberapa titik. Saya memutuskan untuk tidak ke Gili (Trawangan, Meno, Air) karena selain sudah capek, dana terbatas, juga beberapa teman tidak merekomendasikan. Katanya lebih baik saya puas-puasin menikmati Pantai di Lombok Tengah yang memang bagus-bagus.

Hari terakhir sebelum pulang saya gak mau terlalu capek. Akhirnya memutuskan untuk muter-muter Kota Mataram sambil belanja oleh-oleh. Persiapan besok harus berangkat jam 3 pagi lagi dari asrama ke Bandara soalnya kita ambil penerbangan pertama Garuda.

Pokoknya KKL 3 ini seru banget, mulai dari perjuangan sebelum berangkat sampai kembali lagi ke rumah dan kampus semuanya asyik. Ini akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan buat kami semua, khususnya mahasiswa Geografi UI angkatan 2012. Yeah






















Tuesday, March 3, 2015

Belajar Sejarah ke Lubang Mbah Soero

Pada liburan semester kali ini saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu objek wisata sejarah yang ada di Sumatera Barat, lebih tepatnya Kota Sawahlunto. Kunjungan saya kali ini bukan tanpa alasan, melainkan karena kuliah yang disampaikan oleh Ibu Wid dalam kelas Dinamika Spasial Wilayah Urban mengenai Kota Tambang yang mulai meredup keeksisannya. Namun, beberapa Kota Tambang di dunia saat ini terbukti berhasil mengubah spesialisasi wilayahnya menjadi Kota Pariwisata. Salah satunya adalah Kota Sawahlunto ini. Berikut liputannya.

Berbicara mengenai Kota Sawahlunto tidak akan pernah terlepas dari image-nya sebagai sebuah kota tambang batubara. Sejarah masa lalu itulah yang membuat kota ini dipenuhi oleh kisah-kisah mengenai kehidupan manusia tambang maupun berbagai infrastruktur tambang berupa bangunan peninggalan Belanda. Sekilas melihat kota ini mengingatkan saya pada Kota Johnstown di Pennsylvania yang pernah menjadi bahan diskusi pada kelas Geografi Kebudayaan. Ya, kedua kota ini sama-sama terletak di sebuah lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Apalagi keduanya mengalami perubahan kebudayaan yang mirip pula, sama-sama menjadi kota pariwisata setelah sebelumnya terkenal sebagai kota industri besi baja dan kota tambang batubara.
Sebenarnya ada beberapa objek wisata yang bisa kita kunjungi di Kota Sawahlunto ini. Misalnya, Lubang Mbah Soero, Kereta Lokomotif Mak Itam, Museum Gudang Ransum, Kantor PT. Bukit Asam, dan masih banyak lagi. Karena keterbatasan waktu, saya memilih untuk mengeksplorasi secara lebih mendalam objek wisata Lubang Mbah Soero.
Mungkin teman-teman bertanya-tanya, bukankah Kota Sawahlunto ini ada di Sumatera Barat. Lalu, kenapa namanya Lubang Mbah Soero? Ya, pertanyaan yang menarik. Mbah Soero sendiri merupakan seorang mandor tambang batubara yang dikenal sangat dekat dengan orang rantai (sebutan bagi pekerja tambang yang kaki dan tangannya diikat rantai) dan masyarakat. Beliau bukan orang Minangkabau, melainkan berasal dari Jawa. Lubang Mbah Soero ini letaknya persis di bawah perkampungan masyarakat. Walaupun aslinya memiliki panjang sejauh 1,5 kilometer, saat ini demi keselamatan pengunjung hanya dibuka beberapa meter saja.
Jika ingin melakukan kunjungan ke lubang bekas tambang ini, hal pertama yang harus kita lakukan ialah membeli tiket masuk seharga Rp 8000 per orang di Gedung Galeri Tambang Batubara Kota Sawahlunto. Ketika saya berkunjung ke sini, suasananya cukup sepi. Bahkan bisa dibilang hanya beberapa pengunjung saja. Padahal bangunan Galeri Tambang Batubara ini kondisinya sangat baik dan terawat, dilengkapi dengan berbagai koleksi peninggalan kegiatan pertambangan serta informasi lainnya mengenai pengolahan batubara. Selain itu, dilengkapi pula oleh sebuah televisi layar datar yang memutar film dokumenter mengenai Lubang Mbah Soero dan Kota Sawahlunto. Sebelum masuk ke lubang tambang, pengunjung diharuskan memakai sepatu dan helm yang telah disediakan oleh pengelola.
Berbeda dengan Lubang Jepang yang ada di Kota Bukittinggi, Lubang Mbah Soero yang dibuka pada tahun 1891 ini terlihat jauh lebih nyata. Kondisinya lebih sempit dengan dinding lubang yang sebagian besar masih dibiarkan seperti aslinya sehingga kita bisa melihat batubara yang ada menempel di dinding. Di beberapa sudut kucuran air masih terlihat mengalir dan menyebabkan genangan di beberapa titik. Air tersebut berasal dari rembesan sungai Lunto yang ada diatas lubang ini. Walaupun demikian, lubang ini aman untuk dikunjungi oleh seluruh anggota keluarga. Selain sudah dilengkapi saluran oksigen, beberapa sudut juga dipasangi kamera CCTV sehingga setiap kegiatan yang dilakukan pengunjung dapat dipantau oleh pengelola. Setelah puas melihat-lihat kondisi lubang, kita akan diajak untuk kembali ke atas melalui tangga yang berbeda dengan tangga turun. Ternyata tangga keluar berada di seberang bangunan galeri, terletak persis di samping rumah warga. Setelah kembali berganti alas kaki dan mengembalikan helm, kita dapat sejenak melihat-lihat dan membaca informasi mengenai sejarah pertambangan batubara di Kota Sawahlunto.








Salman Alfarisi, 2015

Tulisan ini juga dimuat di Majalah Lintang 0 HMDG UI 2015

Sunday, March 1, 2015

Terimakasih Atas Dukungannya!

Tidak terasa, sudah 6 tahun saya berbagi cerita di blog ini. Saya ingat waktu itu saya membuat blog ini di warnet depan Primagama Benhil saat saya pulang bimbel. Itu juga secara tidak sengaja, iseng-iseng karena melihat teman di PC sebelah sedang membuka blogger.com. Saya buat blog ini ketika saya masih SMP kelas 9, dan sekarang saya sudah kuliah di semester 6. Waktu benar-benar cepat berlalu bukan? Alhamdulillah, walau mengalami pasang surut, hingga hari ini blog ini masih bertahan. Kini, blog salmantep.blogspot.com telah bertransformasi menjadi salmantep.com! Semoga hal ini membuat saya makin rajin menulis. Terimakasih untuk semua pembaca setia blog salmantep :)

Saturday, February 28, 2015

Apa Jadinya Kalau Bertemu Sesama Alumni SMA 3?


Akhir-akhir ini berita di berbagai media mengenai SMAN 3 Jakarta benar-benar menyedihkan. Terlebih-lebih saya sebagai alumni, ditambah lagi saat ini adik saya pun masih duduk di bangku kelas 12 SMAN 3 Jakarta. Saya sedih, kenapa nama baik sekolah ini yang sudah dibangun secara susah payah bisa begitu saja tercemar oleh segelintir pihak. Bagaimanapun juga, saya tetap cinta dan bangga dengan almamater saya. Terlalu banyak kisah manis di sana, di Setiabudi.

Sebagai salah satu sekolah tertua di DKI Jakarta, tidak heran kalau jaringan alumni SMAN 3 Jakarta sudah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Ya, dunia, saya berani jamin itu. Apalagi saat ini saya kuliah di UI, percaya atau tidak, banyak sekali alumni SMAN 3 Jakarta yang menjadi dosen di sini. Ketika saya ikut ospek fakultas, ada salah satu kegiatan yang mengundang Prof. Terry Mart sebagai pembicara. Beliau merupakan salah satu fisikawan terbaik dunia, kontribusinya bagi penelitian fisika sudah tidak diragukan lagi. Begitu terkejutnya saya ketika moderator membacakan CV sang professor dan menyebutkan bahwa beliau alumni SMAN 3 Jakarta! Hebat.

Kejadian berlanjut ketika semester 1 perkuliahan, saya mengikuti mata kuliah wajib universitas MPKT B yang bobotnya 6 sks. Pernah suatu ketika, dosen saya Bapak Maulana Silalahi menanyakan suatu hal (entah saya lupa) dan tanpa sengaja saya menceritakan kalau dulu saya sekolah di Setiabudi. Pak Maulana lalu bertanya, kamu alumni SMA 3? Saya jawab iya pak. Spontan beliau berkata kalau ia juga alumni SMA 3. Saya kaget, tapi saya senang. Entah, rasanya seperti bertemu keluarga yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Oh iya, pak maulana sendiri adalah dosen di FKUI.

Nah berikutnya cerita mengenai di departemen saya sendiri, tempat saya menimba ilmu, Departemen Geografi FMIPA UI. Lagi lagi, dosen saya banyak yang alumni SMA 3! Pertama, Dr. Djoko Harmantyo, M.S, beliau adalah dosen saya di mata kuliah Pengantar Geografi, saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen loh. Kedua, salah satu dosen favorit saya, Ibu Widyawati, MSP. Lalu, ada mas Andry (saya belum pernah diajar beliau). Ada juga Pak Raldi Hendro Kostoer, saya tau beliau ketika jurusan kami mengadakan acara dan beliau memainkan alat musik. Saya penasaran mencari tau dan meng-add facebooknya, ternyata beliau juga alumni SMA 3. Bahkan, kembaran beliau Prof. Raldi Artono Koestor yang juga seorang dosen (di FTUI) adalah seorang penemu inkubator bayi portable yang sudah berhasil menyelamatkan nyawa-nyawa bayi di Indonesia, dan beliau juga alumni SMA 3. Makin terharu saya.

Kejadian tidak terduga selanjutnya adalah ketika saya datang ke Badan Konseling Mahasiswa (BKM) UI. Saya sudah membuat janji dengan salah seorang psikolog BKM, mbak Ika. Sebelum konsultasi, saya mengisi formulir terlebih dahulu. Dalam formulir itu ada riwayat pendidikan juga. Ketika Mbak Ika tahu saya alumni SMA 3, beliau langsung "meledek" saya, wah kamu junior saya ya dulu hahaha. Saya pun lagi-lagi terkejut dan tidak menyangka. Alhasil, beberapa menit kami habiskan untuk mengobrol bahas hal itu.

Diluar nama-nama tersebut, sebenarnya masih banyak lagi alumni SMA 3 yang juga jadi akademisi, khususnya di UI. Tapi, sebagai alumni SMA 3, biasanya ada pertanyaan wajib lo yang dilontarkan sesama alumni yang beda angkatan. Tau gak pertanyaannya apa? Yup...

"Dulu seangkatannya ama artis siapa aja?" Hahahaha. Lucu kan. Saking banyaknya artis alumni SMA 3 kita jadi nebak-nebak angkatan berdasarkan artis di angkatan tersebut.

Intinya sih satu, semoga adik-adik di SMA 3 bisa lebih jaga sikap lagi dan terus berprestasi. Jangan sampai kata "Teladan" di sekolah kita benar-benar terhapus. Ok?

Friday, January 23, 2015

Nostalgia di Kampung Baru, Pariaman

Pernah terbayangkan tidak punya rumah sederhana dengan halaman depan dan belakang yang sangat luas. Lalu ada beberapa pohon kelapa, dimana diantara kedua pohon kelapa tersebut dipasangi hammock (semacam ayunan yang terbuat dari tali atau jaring, bisa dipakai untuk bersantai sambil tiduran) menikmati sore. Ditambah lagi didepan rumah tersebut terhampar pasir pantai putih yang bisa anda mainkan sesuka hati. Berbagai pohon dan tanaman lain pun juga tumbuh terawat dengan rapi. Mulai dari buah jambu, rambutan, hingga tebu, jahe, cabai, kunyit semuanya ada. Bahkan juga dilengkapi dengan sebuah kandang ayam sendiri yang ayamnya bisa dipotong kapan saja ketika ingin dimakan. Ya, percaya atau tidak saya pernah mengalaminya. Masa-masa itu memang sangat indah. Kehidupan yang sederhana namun bersahaja. Masa ketika Ayah saya sudah pulang dari kantor pada siang hari, lalu ia bisa dengan bebas bercocok tanam. Masa ketika ibu saya memiliki banyak waktu luang, bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah tanpa bantuan pembantu. Kami sekeluarga tidak tinggal di desa, kami tinggal di sebuah kota. Kota Pariaman namanya. Ya, ada di provinsi Sumatera Barat. Sebuah kota kecil yang alhamdulillah ternyata memberikan kesan yang besar bagi kehidupan saya sekeluarga.
Rumah kami dekat dengan pantai. Jadi, jangan heran kalau setiap sore saya dan orang tua bisa dengan nikmatnya menikmati suasana pantai yang teduh, gratis. Begitu pula pada pagi hari, ibu saya langsung datang ke pantai itu untuk membeli berbagai hasil laut langsung dari nelayan. Saat itu saya masih TK, dan saya seringkali pulang dan pergi ke sekolah sendirian, padahal saya harus menyebrang jalan raya lho. Jalanan di kota ini memang tidak mengenal macet.
Kampung Baru, itulah lebih tepatnya daerah ini disebut. Sebuah komplek perumahan dengan kavling-kavling yang besar, dimana sebagian rumahnya tidak menggunakan pagar. Sebagian besar rakyatnya adalah masyarakat berpendidikan dan sejahtera. Jangan heran kalau setiap idul fitri dan idul adha masyarakat kampung baru justru kebingungan mencari fakir miskin untuk diberikan uang zakat dan daging qurban. Setiap kelebihan rezeki yang ada dari kaum berpunya diantarkan langsung ke rumah fakir miskin, tidak seperti disini, orang miskin harus antre berjam-jam untuk dapat bantuan.
Tetangga samping kiri rumah saya seorang pasangan bapak dan ibu guru yang anak-anaknya semua sekolah di perantauan, salah satunya ITB. Tetangga depan rumah saya juga seorang guru SLB. Tetangga samping kanan seorang kakek dan nenek yang hanya tinggal berdua, semua anaknya tinggal di Jakarta, salah satunya bekerja di Pertamina. Disisi lain ada tetangga yang salah satu anaknya sedang bekerja di Jepang. Tetangga yang lain sebagian besar pekerja kantoran, baik PNS maupun swasta. Hanya ada sedikit pemuda disini, mayoritas penghuninya adalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang selalu solat berjamaah ke mesjid ketika azan berkumandang. Wajar saja kalau ibu saya sempat bosan, soalnya temennya nenek-nenek semua hehe.
Ketika saya berkunjung kesana saat liburan semester ini, ibu saya bercerita banyak hal. Ibu saya bilang disini walaupun kota sepi dan kecil tapi masyarakatnya kaya-kaya lo bang. Kata ibu saya, salah satu saudara saya yang suami istri bekerja sebagai guru, diberangkatkan haji oleh tetangga-tetangganya dengan patungan. Luar biasa. Ibu saya juga cerita, disini kalau sedang idul adha yang nonton acara pemotongan sebagian besar adalah pequrban itu sendiri, sedangkan yang penerimanya (fakir, miskin, janda, dll) cuma sedikit dan itupun langsung diantar kerumah oleh panitia.
Ternyata hal itu tidak mengada-ada. Waktu itu saya sempatkan untuk solat ashar berjamaah di mesjid raya kampungbaru. Sempat terjadi kejadian tidak terduga sebelumnya haha. Tau tidak, saya bertemu dengan salah satu junior saya di kampus padahal kami sama sekali tidak janjian loh. Satu-satunya mesjid di kampungbaru ini memang lumayan besar. Saya sempat solat jumat disini, lalu seperti biasa ada pengumuman tentang kas mesjid. Ayo tebak berapa jumlah kas mesjidnya :) 10 juta? 20 juta? 50 juta? BUKAN! tapi Rp 120 JUTA!!! gila! shock saya, bagaimana mungkin sebuah mesjid di sebuah kota kecil punya uang sebanyak itu. Dan kerennya lagi ternyata semua kebutuhan masyarakat kampung baru juga tercover sama uang ini. Contohnya, kalau ada yang meninggal langsung dapat uang fardu kifayah. Selain itu, di masjid ini juga dikasih tau siapa saja keluarga yang sedang mengadakan hajatan, dan jamaah semuanya diundang. Pas solat jumat itu, parkiran mesjid dipenuhi oleh mobil-mobil yang lumayan kece. Ya, mulai dari innova sampai fortuner semua ada. Banyak yang plat merah juga tapi hehe. Oh iya, sepertinya kas mesjid ini bisa besar karena banyak warga yang infaq dan sedekah serta menunaikan nadzar. Selain itu, hajatan disini bukan cuma kawinan ato renovasi rumah. Tapi lebih banyak yang pas diumumin bilangnya, "Selanjutnya jamaah diundang ke acara syukuran Bapak X karena kesuksesan anaknya". Gitu-gitu deh. Misalnya anaknya wisuda atau apa gitu. Mirip-mirip Ayah saya haha, pas saya keterima UI Ayah saya motong kambing trus bagiin besek ke tetangga wkwk.
Itu dia sekilas cerita tentang Kampung Baru, Kota Pariaman. Kota kecil tempat saya menghabiskan masa kecil hingga usia 4 tahun. Lalu, kenapa Ayah saya memutuskan untuk pindah ke Jakarta? Alasannya cuma satu, dia mau semua anak-anaknya menyelesaikan studi di Jakarta dan masuk UI hahaha. Kalau saya dan adik-adik saya sudah lulus semua, katanya beliau mau tinggal di kampung lagi saja. xD

Saturday, January 17, 2015

Sendiri dan Bersama

Hari ini benar-benar hari yang saya tunggu sejak lama. Setelah sekian tahun terus tertunda karena banyak hal, akhirnya saya memulai kursus bahasa inggris pertama saya. Seperti biasa, pertemuan pertama pada sebuah kelas benar-benar membuat canggung dan bingung harus berbuat apa. Dengan perlahan saya membuka pintu kelas, belum ada kakak pengajar. Hmm, saya mulai memikirkan mau duduk dimana. Ternyata bagian tengah kelas sudah terisi. Saya memilih untuk duduk di deretan paling depan, pojok kiri. Selain dekat dengan AC (saya cukup berkeringat pagi itu), disana masih lumayan sepi. Saya lihat sekeliling saya, semua diam dan asyik dengan dunianya. Ada yang membuka laptop, bermain handphone, atau sekedar mengetuk-ngetuk meja dan menggoyang-goyangkan kaki. Saya coba membuka pembicaraan dengan perempuan di belakang saya, mencoba meyakinkan diri apakah ini benar kelas yang saya ambil. Namun, gadis itu hanya mengangguk sekali sambil berkata iya dengan wajah berhias keragu-raguan. Ya, sepertinya dia masih membatasi diri untuk berinteraksi dengan orang lain. Daripada saya dianggap melakukan modus, lebih baik saya menjadi autis sejenak. Saya keluarkan handphone saya yang pintar ini, saking pintarnya berhasil membuat saya tertawa kecil dan senyum-senyum sendiri.
Selesai istirahat, saya berlari-lari kecil untuk kembali masuk kelas. Saya takut telat. Di lantai tiga, saya disapa oleh seseorang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Ternyata ia teman sekelas saya dan menanyakan apakah ganti kelas atau tidak. Saya ajak ia masuk kelas bersama-sama. Walau masih sangat kaku, saya berhasil berkenalan dengannya. Ia pun memilih duduk di samping saya. Kami membahas soal, rupanya ia pintar juga. Saya perhatikan jawabannya sebagian besar benar. Sedangkan saya, masih lumayan juga salahnya. Selesai kelas, saya berpamitan.
Saya belum solat dzuhur. Saya putuskan untuk solat dulu di musholla FISIP. Saya lihat sekeliling saya, berharap ada seseorang yang saya kenal disini. Ternyata tidak. Saya berjalan sendirian ke stasiun.
Tiba di peron, saya ulangi lagi kebiasaan saya itu. Saya lihat sekeliling sambil berharap ada seseorang yang saya kenal untuk saya jadikan teman ngobrol membunuh rasa bosan. Ternyata ada. Ya, tanpa basa-basi kami langsung mengobrol dan mengobrol. Walaupun beda fakultas dan jarang sekali bertemu, saya seperti tidak ada jarak dengannya. Sayang, kebersamaan itu tidak lama, saya harus berpindah kereta di manggarai.
Hiruk pikuk stasiun manggarai. Lagi dan lagi, saya lihat sekeliling saya sambil berharap ada seseorang yang bisa saya jadikan teman ngobrol. Ya, seorang teman saya sedang berjalan ke arah saya. Kami pun kembali mengobrol dan mengobrol. Saya senang, saya kira perjalanan ini akan membosankan. jelang memasuki stasiun karet, saya berpamitan.
Saya mengejar bus di depan stasiun. Sejenak bernapas dan berpikir untuk segera sampai rumah. Hingga saya lihat sosok-sosok yang tidak asing mendekati bis yang saya naiki ini. Ya ampun, itu tante saya beserta tiga anaknya yang masih kecil baru turun dari kereta dan akan satu bis dengan saya. Lagi dan lagi, saya punya teman berbincang.
Ya, beginilah hidup. Ada saat-saat kita harus menerima keadaan untuk sendiri. Namun, diluar sana masih banyak juga teman-teman dan keluarga yang senantiasa menemani kesendirian kita.

Kisah Pagi Itu

Dua hari sebelum pagi itu, saya sudah susun rencana sebaik-baiknya. Saya coba juga untuk memantapkan hati dan membulatkan tekad. Entah, awalnya saya selalu berpikir apakah ini keputusan terbaik yang saya ambil atau bukan. Saya takut ini makin memperkeruh keadaan. Tapi, sejenak saya pikirkan lagi. Saya rasa tidak ada salahnya untuk dicoba. Toh ini semua untuk diri saya sendiri, bukan untuk orang lain.
Pagi itu saya benar-benar semangat memulai hari. Saya coba berpikir positif saja. Sesekali saya bertingkah seperti orang gila, senyum-senyum kegirangan membayangkan semuanya menjadi lebih indah dan mudah jika saya melewati hari ini. Saya berjalan ke sebuah tempat.
Tidak terasa saya sudah berada persis di tempat itu. Lalu, rasa cemas dan gelisah itu mulai muncul. Keringat dingin mulai bergulir perlahan. Ah, apa yang saya lakukan. Kenapa hal ini menjadi seserius ini. Sudah terlanjur, saya tepis semua keraguan itu.
Tidak seburuk yang saya bayangkan. Itulah yang langsung muncul dipikiran saya. Setidaknya saya sudah sedikit lega sekarang. Ya, tidak selamanya yang serius selalu membuat kita depresi. Contohnya pagi itu, ternyata semua berlangsung dengan baik-baik saja. Saya harap akan terus begini, sampai kapanpun begini.
Tapi saya tidak akan memaksa. Biar waktu yang menjawab. Saya cuma bisa lakukan ini. Kalau memang tidak berhasil, ada dua kemungkinan. Saya akan tetap menerima dan mensyukuri ini semua, atau saya akan menghilang. Itu saja.

Monday, December 22, 2014

2015

Halohalo pembaca setia blog ini, kali ini saya bakal menulis postingan dengan kata sapaan "gue" biar gak terlalu serius hehe. Oke, finally 2014 akan segera berakhir. Rasanya banyak banget hal-hal menarik yang udah gue lakuin di tahun itu. Terus, apa rencana gue buat tahun 2015? Sebenarnya gak banyak rencana yang muluk-muluk sih. Pertama, lagi dan lagi, tentunya gue mau meningkatkan prestasi akademis gue (yaelah kaya kemaren berprestasi aja haha). Bukannya apa-apa, setelah gue lihat-lihat lagi sepertinya matkul semester VI lebih menantang dan dosen mata kuliah wajibnya pun lebih asoy. Jadi, gue rasa gue harus bisa lebih serius dikit lah ya dalam menjalani kuliah. Harapannya semoga gue gak jadi mahasiswa kuliah-tidur-kuliah-tidur lagi. Terus, dari segi organisasi sepertinya gue akan lebih fokus ikut Lintang 0 aja bareng anak-anak geografi yang lain, mungkin gue gak ikut kepengurusan UKM atau organisasi tingkat fakultas kali ya (galau juga sih, takutnya ngiler). Tapi gimanapun juga gue masih pengen ikut krida-nya KSM EP UI. Selain itu, mungkin gue akan tetap bantu-bantu SAMABA UI (itu juga kalo dibutuhin sih). Sisanya gue masih belom tau, kalo gue merasa kesepian mungkin gue pikir-pikir juga buat ikut apa gitu. Oh iya, alhamdulillah gue udah daftar LBI UI buat les bahasa inggris, seneng banget ini bakal jadi les bahasa inggris pertama gue (norak). Dari dulu pengen daftar selalu gak jadi soalnya. Udah deh gue gatau lagi mau ngapain buat tahun depan. Yang jelas malam pergantian tahun insyaAllah gue rasain di kampung halaman, berdua sama Ummi doang loh kita mau libur-liburan lucu gitu. Semoga 2015 gue bisa jadi orang yang lebih baik, bisa ngurangin marah-marah sama kesel-keselnya ke orang lain. Capek juga kan jadi orang rese melulu haha. Udah deh, pokoknya doain aja ya guys semoga 2015 kita semua jadi manusia yang lebih baik baik baik dan baik lagi. Wassalam.

Sunday, December 21, 2014

Keluarga Baru

Pada postingan kali ini saya mau bercerita tentang keluarga baru saya dari PSDM KSM EP UI 2014. Sejak jadi mahasiswa baru, saya sudah memiliki ketertarikan dengan UKM Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya UI. Dibenak saya, organisasi ini benar-benar luar biasa, banyak sekali orang-orang hebat terlahir di sini. Bodohnya, tahun pertama mereka melakukan perekrutan terbuka, entah kenapa, terlewat begitu saja oleh saya. Tahun kedua saya tidak mau gagal untuk bergabung ke UKM ini lagi. Usut punya usut, beberapa teman saya sempat mengikuti perekrutan terbuka tahun lalu, dan mereka tidak ada yang lolos. Saya makin penasaran, kenapa susah sekali untuk bergabung dengan kelompok yang satu ini. Ketika mendaftar sebenarnya saya ingin sekali bergabung dengan bidang penulisan. Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya banyak orang yang lebih pantas dari saya untuk masuk bidang tersebut. Tak tahu ide dari mana, saya malah menuliskan PSDM sebagai bidang pilihan pertama saya. Jujur, saya tidak pernah menjadi staf PSDM di organisasi manapun sebelumnya. Saya masih sangat awam akan hal tersebut. Tapi saya pikir-pikir, kalau tidak dicoba sekarang ya kapan lagi. Lagipula, dengan jadi PSDM harusnya saya jadi bisa lebih tahu lagi bagaimana orang-orang hebat tersebut menjalankan aktivitasnya, kan saya yang selama ini berusaha memperhatikan mereka. Singkat cerita, saya diterima menjadi salah satu anggota. Senang dan tidak menyangka saya bisa lolos.
Selesai mengikuti Pendidikan Latihan Dasar, saya bertemu dan berkenalan dengan ketua bidang serta anggota PSDM lainnya. Saat itu anggota baru PSDM hanya tiga orang. Bayangkan, TIGA ORANG! hahaha. Semuanya angkatan 2012. Ada saya, Nana, dan Ismail. Kebetulan Nana adalah teman sejurusan saya. Lumayanlah, saya jadi ada teman ngobrol. Sisanya adalah anggota PSDM yang berasal dari PLD sebelumnya (semacam angkatan di KSM EP UI). Satu-satunya yang saya kenal cuma Anshol, dia anak Biologi. Sisanya saya tidak kenal sama sekali. Usut punya usut, anggota PSDM lainnya ada si Nicko dan dua orang mahasiswa lain (duh saya lupa namanya parah). Kenapa saya bisa lupa sama nama dua anggota lain itu? soalnya mereka mengundurkan diri jauh sebelum saya benar-benar mengenal mereka. Terakhir, ada si Ketua Bidang PSDM, Sarah. Alhasil, kami satu tim cuma punya enam anggota. Tiga laki-laki, tiga perempuan, hahahah. Bagi saya, bekerja bersama mereka selama satu tahun merupakan sebuah hal yang luar biasa. Banyak ujian dan konflik kami hadapi, tapi syukurlah semua selalu berakhir dengan bahagia. Lalu, bagaimana sebenarnya sosok pribadi dibalik "Geng PSDM" ini? Berikut penjabarannya...

1. Sarah (Kesos, FISIP UI)
Ketua bidang kami. Ceria dan tidak pernah lelah. Selalu memberi semangat kepada kami, anak-anak buahnya di PSDM. Tidak pernah mau menyusahkan staff PSDM. Pokoknya kontribusinya sebagai ketua bidang sangat besar dan nyata. Sarah berhasil membuat PSDM menjadi sebuah keluarga. Kita saling berbagi tugas dan mengeksekusinya bersama-sama. Walaupun ya, ujung-ujungnya Sarah yang paling banyak kerjanya hehe. Rese-nya Sarah itu kalau sudah ngambekkan, kadang chatnya dia di whatsapp atau line suka jadi ngalor ngidul. Tapi besoknya pasti sudah kembali normal. Mahasiswi yang satu ini orangnya cukup well planning dan sigap, berbagai program kerja PSDM disusun dengan rapih dan sebagian besar terlaksana dengan baik. Hebat deh pokoknya!

2. Anshol (Biologi, FMIPA UI)
Satu-satunya harapan kami ketika acara PSDM berlangsung dengan krik-krik. Tau kenapa? Ya, Anshol jago sekali dalam bernyanyi. Dia sering dijuluki sebagai Raisa-nya KSM. Jadi, kalau acara mulai membosankan, kami tinggal tampilkan Anshol buat bernyanyi, beberapa menit kemudian suasana kembali heboh hehe. Sosok yang lumayan sibuk sebagai asisten lab di jurusannya ini terlihat lebih dewasa dibanding anak PSDM yang lain. Anshol banyak memberi masukkan demi kemajuan bidang kami. Dia berhasil mengungkapkan sebuah permasalahan krusial di PSDM tanpa menyinggung teman-teman yang lain, dan kita berhasil menyelesaikannya.

3. Nicko (Kapal, FTUI)
Salah seorang aktivis ODOJ hehehe. Akhir-akhir ini Nicko memang sangat sibuk dengan berbagai aktivitas lainnya. Walaupun demikian, Nicko selalu memberikan perhatian buat PSDM ini. Dia cenderung lebih nerimo dalam setiap keputusan yang kami ambil, dan langsung menjalankannya dengan baik. Nicko anaknya tidak banyak omong dan protes (beda banget ama saya), dia melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik tanpa ada kekurangan. Sebagai salah satu PSDM Boys, Nicko memang harapan saya dan mail buat menemani kami dalam mengimbangi kontribusi PSDM Girls hahaha.

4. Nana (Geografi, FMIPA UI)
Salah satu yang paling ceria juga, gampang sekali akrab dengan anggota KSM yang lain. Suka sekali menjadi bahan perbincangan geng PSDM kami dari segi percintaannya dengan pacar-pacarnya haha (peace nana :v). Walau dia suka angot-angotan juga buat datang krida, tapi tiap rapat PSDM Nana sering hadir dan mencurahkan ide-ide segarnya. Nana juga tidak pernah mengeluh ketika diberi tugas, semuanya diterima dengan baik. Orangnya fleksibel sekali, tiap ada tugas baru dilaksanakan dengan santai, dan ujung-ujungnya selalu terlaksana dengan kece. Menjadi sosok yang netral, tidak pernah memihak kepada salah satu diantara kami kalau ada yang salah.

5. Mail (Sipil, FTUI)
Seorang pemuda yang rendah hati serta memiliki hati yang sangat halus. Bikin saya tidak tega sendiri kalau mau protes sama dia. Mail sosok yang sulit ditebak, kadang mellow dan tidak banyak omong, kadang meledak-ledak dan heboh haha. Tapi... dia termasuk yang paling banyak dan berkelanjutan loh kerjaannya, setiap ada yang ulang tahun mail lah yang bertugas membuat kartu ucapan selamat. Sangat kritis terhadap berbagai fenomena yang ada, seru untuk diajak diskusi. Satu hal lagi yang tidak bisa dilepaskan dari seorang Mail, dia adalah pribadi yang sangat unik.

6. Saya (Geografi, FMIPA UI)
Dah aku mah apa atuh wkwkwk.

Jadi, itu dia keluarga saya dari PSDM KSM EP UI 2014. Tidak terasa masa kepengurusan kami akan segera berakhir. Suka duka yang telah kita lewati, kini siap-siap kami simpan menjadi sebuah arsip yang sangat berharga dimasa depan. Menjadi sebuah cerita, mengingat perjuangan kami di masa lalu. Saya sangat senang bisa bergabung menjadi anggota PSDM, benar-benar pengalaman yang mengasyikkan. Terimakasih ya Sarah, Anshol, Nicko, Nana, dan Mail. Kalian baik-baik sekali, mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan. Semoga kita tetap dapat saling bersilaturahmi, walau bukan lagi sebagai PSDM KSM EP UI 2012. Cheers!




Monday, December 15, 2014

Apakah semua orang punya sahabat?

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita melihat ada teman yang sangat dekat dengan teman lainnya, atau biasa disebut sahabat. Pokoknya best friend forever banget deh. Segala sesuatunya dikerjakan bersama-sama, mulai dari makan bareng, ngerjain tugas bareng, janjian ngambil mata kuliah bareng, bahkan sampai bobok bareng alias nginep hehe. Kalo kata orang-orang sih, yang namanya sahabat itu tempat yang paling curhat-able dan nyaman untuk ngelakuin segala sesuatu sama-sama. Tapi kalo diperhatiin lagi, kayanya gak semua orang punya sahabat deh. Termasuk saya pribadi. Memang ada sih beberapa teman dekat, tapi sejauh ini saya masih menganggapnya seperti teman biasa. Apalagi saya ini sebenarnya anak rumahan, jarang ngelakuin suatu hobi di luar. Masalah curhat-curhatan dan cerita, semuanya saya ceritain ke Ibu saya. Mungkin itu kali ya yang membuat saya tidak pernah terlalu dekat dengan teman. Ya, tapi jangan baper dulu loh temen-temen saya yang baca curhatan saya ini. Saya tetap bisa merasakan yang mana teman dekat yang mana teman biasa. Cuma ya sedekat-dekatnya sama teman saya lebih merasa dekat dengan orang tua saya, terutama Ibu. Jadi, apakah semua orang punya sahabat?

Sunday, December 14, 2014

Jadi Fasilitator Bidikmisi UI

Sebenarnya aku bukan anak bidikmisi, tapi entah kenapa aku selalu penasaran untuk mengetahui lebih banyak mengenai mahasiswa bidikmisi di kampusku. Alasannya sederhana, kebetulan dua tahun belakangan ini aku jadi volunteer di kemahasiswaan UI. Tugasku sih tidak jauh-jauh dari yang namanya mahasiswa baru. Mulai dari jaga frontdesk kalau ada maba yang kebingungan, sampai jadi admin email untuk membalas setiap pertanyaan yang diajukan maba. Beberapa kali juga aku bertugas melakukan input data mengenai keadaan perekonomian keluarga mahasiswa baru. Luar biasa, aku kira hidupku sudah paling susah. Ayahku yang sudah pensiun harus cari uang dari pagi sampai malam bersama ibuku menjaga toko kecil kami. Begitu pula dengan semua pekerjaan rumah, semua dihandle ayah dan ibu tanpa menyusahkan aku dan adik-adikku. Itu saja sudah membuatku merasa bersalah jika menyianyiakan perjuangan yang mereka lakukan. Tapi, membaca kisah-kisah yang dialami mahasiswa bidikmisi ternyata lebih menyentuh hati lagi. Ternyata perjuangan mereka untuk kuliah di UI benar-benar luar biasa, bahkan tidak akan pernah terpikirkan sebelumnya. Ada yang jadi penumpang gelap kapal laut dari maluku, ada yang menumpang truk dari Sumatera Utara, ada yang harus naik pesawat perintis dari pulau tempat tinggalnya, dan masih banyak lagi. Ketika ada tawaran untuk menjadi fasilitator pelatihan bidikmisi yang dilakukan oleh Badan konseling mahasiswa UI, tanpa pikir panjang aku mendaftar. Benar saja, ternyata banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil. Sungguh, aku merasa justru diriku sendirilah yang sedang menjadi peserta. Banyak sekali kisah-kisah mengharukan yang sangat inspiratif tentang perjuangan teman-teman. Walaupun selama jadi fasilitator aku tidak dibayar dengan uang, namun aku merasa senang karena dibayar dengan ilmu dan kisah-kisah yang penuh motivasi tersebut. Sesampainya di rumah ku ceritakan lagi ke ibuku, ibuku pun sampai terheran-heran juga mendengarnya. Ternyata benar, jika kita memulai segala sesuatunya dengan positif, maka nantinya akan menghasilkan rentetan hal positif lainnya. Yang jelas, aku bahagia mengikuti kegiatan ini!

Maaf

Memutuskan untuk menulis lagi di blog ini. Kali ini karena ingin menumpahkan beberapa hal yang cukup menggelisahkan saya, dan rasanya cukup riskan jika harus dibahas di media sosial semacam facebook dan twitter. Ya, belakangan ini saya seringkali gelisah. Karena saya kerapkali salah dalam berucap yang akibatnya mungkin menyakiti hati teman-teman saya. Jujur, saya paling takut mengecewakan teman-teman saya. Saya paling tidak enak kalau-kalau saya salah ngomong dan teman-teman saya itu mulai terlihat kecewa, apalagi sampai mengutarakan kekecewaannya sama saya. Jujur dari hati paling dalam, kalau sampai saya mengecewakan teman-teman semua, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya sama sekali tidak ada niatan menyakiti hati teman-teman. Toh apabila saya merasa tidak cocok dengan seseorang lebih baik saya menjaga jarak dengan orang tersebut dan tidak terlalu banyak bicara. Kalau saya sudah bicara panjang lebar sama teman, itu artinya saya sudah merasa sangat dekat dan nyaman. Ya.. saya ini memang paling senang ngobrol sama teman. Itu juga mungkin yang jadi dosa terbesar saya, suka kelepasan kalo ngomong. Tapi, saya tidak akan malu atau gengsi untuk meminta maaf apabila saya memang berbuat salah. Kalau ada sikap saya yang membuat teman-teman kecewa, kesal, atau bahkan marah, tolong beritahu saya. Saya ini banyak ngaconya, banyak dosanya. Sudah sih, itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya tulis ini karena salah satu teman saya menyampaikan kekecewaannya terhadap salah satu postingan saya di media sosial. Saya kaget, omongan yang saya anggap biasa saja ternyata sudah membuat dia tidak nyaman. Saya memang keterlaluan. Entah saya harus bagaimana nanti kalau bertemu dengan dia, mau sok-sok mencairkan suasana juga pasti susah. Jadi serba salah kan... pasti awkward sekali. Pokoknya saya benar-benar menyesal. Doakan saya semoga bisa lebih menjaga perkataan saya...

Thursday, August 28, 2014

Jalan-jalan Ke Sumatera Utara!

Halo pembaca setia salmantep hihi, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya jalan-jalan ke Sumatera Utara a.k.a Medan dan sekitarnya. Kalo udah pernah baca postingan saya yang ini cgk-kno-pp-cuma-385ribu-pake-airasia.html pasti tau deh kenapa saya milih Medan sebagai destinasi berikutnya. Oke langsung aja cekidot ya!

Hari ke-1
Saya sampe di Bandara Soetta jam sembilan pagi, diantar Ummi dan Ayah naik taksi. Langsung menuju terminal tiga dan naro bagasi. Kebetulan saya udah mobile check-in di rumah. Lalu duduk-duduk sebentar sebelum masuk boarding room. Jam 10.10 saya boarding, dan jam 10.40 pesawat take-off. Dua jam lima belas menit kemudian pesawat landing di Kualanamu International Airport. Selesai ambil bagasi saya keluar dari bangunan bandara yang megah tersebut. Mata saya pun tertuju pada plang penunjuk jalan ke stasiun kereta api bandara kualanamu. Ya, satu-satunya bandara yang punya kereta di Indonesia ya kualanamu ini. Kebetulan pesawat saya untuk balik ke Jakarta lumayan pagi, jam 7.40. Makannya, untuk cari aman sekaligus penasaran saya beli lah tiket kereta untuk perjalanan pulang dari Medan ke Kualanamu. Ternyata lagi ada promo bulan kemerdekaan. Tiket yang awalnya Rp 80.000 diskon jadi cuma Rp 60.000, lumayan lah ya. Saya pun mendapatkan struk bukti pembayaran yang dapat ditukar dengan tiket saat hari keberangkatan. Selanjutnya saya keluar lagi dari bangunan stasiun dan mencari bus damri ke terminal amplas. As always, calo bertebaran dimana-mana. Tapi untungnya tujuan dan bus yang ingin saya naiki jelas, sehingga tidak berhasil menarik para calo. Bis damri ukuran 3/4 sudah menunggu. Lumayan juga bisnya, gak kalah dengan damri di Cengkareng. Tapi... ini bis ngetemnya lama juga. Udah hampir setengah jam baru dia jalan. Tarifnya cuma Rp 10.000 loh. Sekitar satu jam perjalanan bis sampe juga di Amplas. Saya sudah ditungguin sama sodara saya, Tek Dar dan Pak Zul. Kurang tau sebenernya hubungan sodaranya apa, yang jelas mereka berdua dijodohin ama Ayah saya dan nikah di rumah nenek saya di Jakarta hihi, jadi wajar aja kalo saya disambut dengan hangat oleh mereka. Kami pun menuju rumah tempat saya menginap di sekitar jalan bromo menggunakan angkot. Hari pertama saya habiskan dengan istirahat dan ngobrol-ngobrol dengan keluarga Tek Dar.

Hari ke-2 (Go to Samosir)
Pagi-pagi saya udah bangun. Hari ini saya mau pergi ke Samosir. Berhubung saya masih belum berani naik angkot sendirian ngeteng dari Kota Medan ke Parapat maka saya putuskan untuk naik travel. Setelah baca-baca review orang di internet, saya memilih untuk menggunakan jasa Nice Trans Taxi. Loketnya tersebar di beberapa penjuru sumatera utara, ada yang di bandara, ada pula yang di Jalan Stasiun Besar Kota Medan seberang lapangan merdeka. Saya diantar naik bentor oleh Pak Zul ke loket yang di seberang lapangan merdeka. Tiba di loket langsung disambut oleh petugasnya yang berseragam rapih. Saya masih harus menunggu penumpang lain. Setelah cukup lama menunggu ternyata belum ada juga penumpangnya, saya pun diantar ke bandara untuk bergabung dengan penumpang yang menunggu di bandara. Tiba disana sudah ada seorang ibu dengan seorang anak gadisnya ditambah seorang perempuan bule. Nah, ongkosnya sebenarnya Rp 75.000, tapi berhubung baru ada 4 orang kami ditawari untuk bayar Rp 100.000 dan mobil akan segera berangkat. Saya tanya ke ibu-ibu dan bule tersebut, mau gak mereka nambah bayarannya supaya cepet berangkat? ternyata mereka mau. Yaudah saya pun ngikut aja. Setelah sekitar satu setengah jam perjalanan kita istirahat makan siang. Saya ngobrol-ngobrol dengan penumpang lain. Ternyata si ibu-ibu itu asli orang samosir, tapi dia tinggal di surabaya, nah ceritanya dia sama anaknya mau pulang kampung. Sedangkan si bule perempuan ternyata berasal dari perancis, namanya Mehena, dia lagi backpackeran sendirian. Mereka ramah-ramah. Saya pun asyik ngobrol sama Mehena. Kita sharing mengenai banyak hal. Si sopir travel malah ketiduran. Si Mehena ampe bete haha. Untunglah si sopir dibangunin sama yang punya warung makan. Perjalanan pun berlanjut. Beberapa jam kemudian kami tiba di parapat. Kami langsung diantar ke dermaga Tigaraja untuk menyeberang ke Tuk-tuk di Pulau Samosir. Saya naik kapal yang masih kosong bareng Mehena. Pas lagi nunggu naiklah seorang kakak-kakak, dia kayanya warga sana. Saya pun nanya-nanya banyak hal sama dia. Dia merekomendasikan saya buat nginep di Carolina Cottages. Saya udah sering denger nama penginapan tersebut, tapi saya takut penuh, soalnya belum booking kamar. Tapi si kakak meyakinkan kalo pasti ada kamar kosong, soalnya ini bukan musim liburan. Oke, saya batalkan rencana menginap di Bagus Bay, saya ganti haluan ke Carolina. Oh iya, kapalnya ini bakal nganterin kita ke dermaga penginapan langsung loh. Saya menikmati suasana Danau Toba yang tenang dan sejuk. Tidak sampai 30 menit kapal tiba di Tuk-tuk. Si Mehena pamit duluan, dia mau nginep di Liberta. Saya pun tiba juga di Carolina. Langsung ke resepsionis nanyain kamar kosong. Yahhh, ternyata kamar yang harga Rp 75.000 ama Rp 90.000 udah penuh, alhasil saya pilih yang harganya Rp 140.000 per malam. Hmmm, tapi kamarnya gede banget, kasurnya pun ada dua (padahal saya sendiri haha). Dan langsung menghadap danau. Bener-bener indah... saya pun puas bisa leyeh-leyeh disana. Kerjaannya cuma tidur-tiduran haha.





Hari ke-3 (Go to Berastagi!)
Pagi pagi banget saya bangun, solat subuh, dan langsung mandi brrr kebayang gak airnya sedingin apa. Saya pun bayar biaya nginep dan check-out. Saya nunggu kapal yang mau ke parapat di depan dermaga cottage. Gak berapa lama kapalnya dateng. Sebagian besar penumpangnya adalah bule-bule (orang Indonesianya mana??). 25 menit kemudian kapal kembali merapat ke dermaga Tigaraja di Parapat. Hmm, saya tergoda untuk ke sipiso-piso dan mendatangi sebuah travel. Ternyata dia minta biaya yang sama buat ke sipiso-piso ama Berastagi. Yaudah kalo gitu mending saya ke brastagi dulu aja sekalian. Hmm biayanya mahal aja Rp 120.000. Oh iya namanya Bagus Taxi, loketnya persis di deket dermaga. Sumpah tapi pelayanannya jauh lebih buruk dibanding nice trans taxi. Mobilnya plat hitam, sopir ama petugasnya kagak pake seragam. Tapi mau gimana lagi, saya taunya cuma ini travel yang langsung ke Brastagi dari Parapat. Mobil terisi penuh sama 7 penumpang. Dan saya satu-satunya orang lokal disana (selain supir). Enam orangnya lagi bule semua. Saya duduk disamping sopir laknat yang bawa mobilnya gila. Mana tuh sopir kagak ngerti bahasa inggris, alhasil saya jadi petugas translate para bule. Ditengah perjalanan ada bule yang mual dan minta berenti. Bener aja, pas turun si bule langsung muntah-muntah. Huahahaha baru tau dia sopir Medan kek gitu. Saya tawarin tukeran tempat duduk dia gamau. Yaudah, mobil jalan lagi dan sampe Brastagi. Saya masih belom tau nginep dimana. Bule-bule itu minta dianter ke Wisma Sibayak. Saya bilang ke sopir mau ke daerah yang banyak penginapan murah yang harganya Rp 100.000, trus si sopir bilang," Bah... mana ada pulak". Tapi saya bilang aja pasti ada haha. Pas nurunin bule-bule di wisma sibayak si sopir ternyata nanyain ke resepsionis dan ternyata ada yang cuma Rp 100.000 per malam. Ah, mana ada yang gratis di Indonesia. Si sopir tadi minta duit pula ke saya sebagai ucapan terimakasih buat minum-minum katanya. Saya kasih aja Rp 10.000, kampretnya dia minta tambah jadi Rp 20.000. Hmmm, saya keluarkan kata-kata pamungkas dengan muka melas,"Gak ada bang, saya kan mahasiswa... :')". Wkwkwk dan berhasil dia nerima ceban aja. Oke, saya langsung ke kamar dan tidur. Menjelang magrib saya denger suara orang ngaji-ngaji gitu dari mesjid. Ahh saya kangen mesjid. Saya pun ke resepsionis dan nanyain mesjid. Si ibu pemilik penginapan pun ngasih saya peta. Yuhuu saya pun jalan-jalan sore sembari nyari mesjid. Pas udah nyampe mesjid ternyata mesjidnya masih kosong. Saya lupa kalo disini magribnya udah hampir jam 7 malem. Saya pun keliling lagi nyari makan. Niat nyari rumah makan Padang tapi belom nemu juga (terjamin kehalalannya). Saya pun melihat tenda kaki lima bertuliskan Ayam Bakar Sragen. Penasaran, ngintip sedikit dan penjualnya seorang ibu-ibu berjilbab. Tanpa pikir panjang langsung saya putuskan makan disana. Dan.... makanannya enaaaak banget + porsinya banyak banget (dapet ayam bakar, lalapan, sambel, nasi langsung dua piring, sop semangkok, air minum segelas). Saya ampe ga sanggup ngabisin sopnya. Pulang darisana saya langsung ke mesjid. Pulang dari mesjid tiduran lagi deh dikamar haha.

Hari ke-4 (Sipiso-piso, TAL, dan dipalakin preman!!!)
Seperti biasa, pagi-pagi abis solat subuh langsung mandi dan check-out. Oke, destinasi pertama adalah Air Terjun Sipiso-piso. Kali ini ceritanya saya mau ngeteng naek angkot. Nah, dari wisma sibayak jalan kaki ke terminal pasar berastagi. Dari depan pasar naik angkot kuning Karya Transport (KT) ke Kabanjahe. Bisa juga naek angkot Sigantang Sura. Pokoknya tujuan Kabanjahe. Minta diturunin di Terminal Bus Sinar Sepadan. Ongkosnya Rp 3000 aja. Langsung naik bis sinar sepadan dan minta turunin di Simpang Situnggaling (ciri-ciri: ada gapura tulisan desa tongging). Ongkosnya Rp 6000. Dari simpang situnggaling naik ojek bentor ke sipiso-piso, ongkosnya Rp 5000 aja sekali jalan, jangan lupa minta no hape abangnya biar bisa dijemput lagi pas pulang. Oh iya biaya masuk sipiso-piso Rp 4000. Nyampe di parkiran saya langsung ke salah satu rumah makan padang buat sarapan. Makan nasi goreng + diseduhin luwak white coffe + aer putih totalnya Rp 17.000. Nah, jangan lupa titipin tas disini. Soalnya gempor kalo dibawa naek turun tangga. Pas turunnya sih saya happy-happy aja, pas naeknya napas saya udah senen kamis ga kuat. Huhu terbayarkan juga penasaran melihat sipiso-piso. Nyampe atas saya langsung beli minuman dingin dan izin pamit ke uni penjaga rumah makan. Nelpon tukang ojek bentor dan nunggu untuk dianter kembali ke simpang situnggaling. Oh iya kata Uda di RM Padang kalo mau ke Pagoda naik angkot sigantang sura aja, dia langsung sampe simpang pagoda. Finally, setelah naik sinar sipadan saya lanjut naik angkot sigantang. Diturunin di simpang pagoda dan jalan kaki masuk ke dalamnya. Sebelum masuk saya cari warung dulu buat nitip tas, tapi sepik dikit lah saya pura-pura beli minum hehe. Isi buku tamu dan masuk Pagoda, gratis!! Pagoda ini replikanya Pagoda Swedagon di Myanmar. Bisa disebut juga dengan Taman Alam Lumbini atau International Buddhist Center. Lumayan bisa lihat-lihat pagoda dan tamannya yang indah disini. Pulang dari pagoda saya naik angkot sigantang lagi ke tugu jeruk. Ongkosnya cuma Rp 2000. Dari situ saya naik elf menuju medan. Tujuan akhir bis ini adalah Terminal Pinang Baris, Kota Medan. Ahhh sial terminalnya sepi banget, cuma banyak ama angkot parkir. Saya yang menunggu angkot nomor 124 pun menjadi santapan nikmat preman terminal. Saya digiring ke bagian dalam yang sepi dan dimintain duit buat dia mabok. Duit Rp 35.000 saya pun melayang. Mau gimana lagi, mau ngelawan juga susah. Kayanya orang-orang sana emang udah biasa liat orang dipalakin (apalagi saya bawa tas gede). Saran saya, kalo turun disana turun aja diluar terminal dan tunggu diluar, lalu jangan berdiri sendirian, coba cari teman ngobrol di warung yang ada ibu-ibu penjaganya. Miris banget pokoknya. Sial banget kayanya saya. Mana angkot di medan muter-muter gak karuan, hampir dua jam saya dari sana ke jalan bromo.











Hari ke-5 (Keliling Medan dan beli oleh-oleh)
Hari terakhir di medan saya habiskan dengan menikmati kota medan. Keliling-keliling dan melewati beberapa tempat terkenal. Lalu solat dzuhur di Mesjid Raya Al-Mashun Kota Medan. Dilanjutkan dengan berjalan kaki ke Istana Maimoon. Untuk masuk istana maimun dikenakan biaya Rp 5000 per orang. Puas berkeliling-keliling saya pun naik bentor menuju toko oleh-oleh Bolu Meranti yang ada di seberang hotel garuda plaza. Selesai darisana langsung kembali lagi ke rumah untuk packing dan beristirahat.




Hari ke-6 (Nyobain kereta bandara)
Jam empat pagi saya udah bangun buat mandi dan sarapan. Jam lima pagi saya berangkat menuju stasiun besar kota medan dengan bentor pesanan Pak Zul. Jalanan masih sangat sepi. Tidak sampai 20 menit saya sudah tiba di stasiun. Saya langsung menuju loket penukaran tiket. Setelah mendapat tiket saya pu solat subuh dulu di stasiun. Selesai solat subuh saya duduk-duduk manis menunggu kereta datang. Stasiun kereta bandara ini sangat nyaman. Salah satu stasiun ternyaman yang pernah saya rasakan. Bahkan suasananya sudah seperti di bandara. Jam 5.40 saya mulai memasuki kereta. Dan duduk manis. Bangkunya empuk dan nyaman dengan ruang kaki yang besar bisa untuk selonjoran, sandaran kursi juga bisa diatur hingga sangat rendah dan benar-benar nyaman. Tiga puluh menit perjalanan pun menjadi sangat singkat. Tiba di stasiun bandara kualanamu saya langsung menaiki skybridge menuju bangunan bandara dan bisa ke loket menaruh bagasi. Fyi, airport tax bandara kualanamu lebih mahal dari soekarno-hatta loh, yaitu Rp 60.000 untuk penerbangan domestik. Sebelum masuk boarding room saya sempatkan beli tambahan oleh-oleh sirop markisa dan terong belanda. Canggih, untuk menuju boarding room kita tinggal menempelkan boarding pass pada e-gate yang tersedia, semuanya self-service alias tanpa bantuan petugas. Tapi dari segi toilet, bandara ini masih kotor. Bahkan masih lebih bersih bandara Minangkabau menurut saya. Boarding room sangat nyaman dan luas. Beberapa menit kemudian saya pun masuk ke pesawat yang akan mengantarkan saya ke Jakarta. Terimakasih Sumatera Utara, semoga kita bisa berjumpa kembali!