Sunday, June 6, 2021
Mencari Hobi Baru
Monday, May 17, 2021
Pentingnya Pengkinian Cita-Cita
Sebagai orang yang realistis, salah satu hambatan terbesar saya dalam merangkai cita-cita ialah selalu bermain di zona aman. Saya cenderung menuliskan hal-hal yang paling mungkin dicapai dan seringkali tidak berani menuliskan hal yang out of the box. Bukan, bukan berarti cita-cita saya rendah. Namun, saya memilih yang paling mudah digapai. Misalnya, dalam lima tahun kedepan saya bercita-cita memiliki rumah. Namun, saya tidak berani menuliskan standar rumah yang tinggi seperti rumah yang dikembangkan oleh Agung Podomoro atau Agung Sedayu. Bagi saya, rumah kecil di pinggiran kota sudah cukup. Begitu pula dengan cita-cita kuliah S2. Saya tidak berani menuliskan syarat kampus ivy league dengan jalur full scholarship. Alhasil, saya sudah cukup puas dengan kuliah master di dalam negeri.
Lalu, apakah hal ini sesuatu yang buruk? Sebenarnya tidak juga. Saya sangat bersyukur dapat mewujudkan satu demi satu mimpi meski secara perlahan. Namun, keinginan untuk terus menantang diri sendiri agar jadi pribadi yang lebih baik muncul begitu saja. Salah satu penyebabnya, saya teringat pada selembar kertas yang saya tulisi dengan harapan dan cita-cita dalam beberapa periode kedepan, seperti tiga tahun lagi, lima tahun lagi, sepuluh tahun, dan seterusnya. Kertas tersebut saya tulis bukan sepenuhnya atas kesadaran diri sendiri, namun diminta oleh salah seorang trainer yang memberi materi di kantor saat saya baru mulai bekerja.
Saya ingat sekali dengan beberapa hal yang saya tulis, diantaranya, mendapat promosi jabatan dari kantor, memiliki rumah sendiri (meski kredit), dan melanjutkan studi ke jenjang S2. Ajaibnya, sebelum lima tahun bekerja mimpi-mimpi tersebut telah tercapai. Meski ya itu tadi, dengan standar yang minim. Makannya saya jadi overthinking, kenapa sih dulu tidak saya tulis saja cita-cita masuk Forbes Under 30, beli rumah di Menteng, atau kuliah S2 di Harvard sekalian. Ya, namanya juga manusia, sudah jadi sifatnya untuk tidak pernah puas. Tapi tenang saja, meski begitu saya selalu bersyukur atas pencapaian saat ini.
By the way, saking tidak percaya diri dan malunya saya saat menuliskan cita-cita tersebut, sampai-sampai kertas itu akhirnya saya buang. Setelah itu, saya baru kepikiran dan menyesal kenapa dibuang, padahal bisa jadi kertas bersejarah kelak ketika semuanya sudah terwujud. Kertas itu pula yang akhirnya menginspirasi saya untuk menulis lagi di blog yang sudah tidak terurus ini.
Berhubung sebagian cita-cita sudah tercapai, dan sebagiannya lagi ada juga yang belum tercapai, saya rasa penting juga untuk kita selalu melakukan update atas cita-cita yang kita miliki. Ibarat know your customer-nya perbankan, kita juga semakin bisa mengukur kemampuan dan profil diri kita. Jika nomor telepon dan alamat nasabah yang berubah harus selalu dikinikan, begitu pula cita-cita dan harapan.
Adanya cita-cita dan harapan dapat memacu semangat kita, apalagi jika satu per satu mulai tercapai, rasanya seperti berhasil checkout barang-barang yang sudah masuk wishlist Tokopedia sejak setahun lalu. Ada bahagia yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. Meski begitu, kadang tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Inilah kenapa cita-cita tersebut juga harus fleksibel sesuai kondisi kita. Baiklah, kalau begitu mari kita tulis kembali cita-cita dan berdoa agar dapat dimudahkan dalam mewujudkannya, aamiin.
Saturday, January 2, 2021
Keuntungan dan Risiko Membeli Rumah KPR Syariah Non Bank
Memiliki rumah merupakan salah satu impian terbesar bagi seseorang. Namun, harganya yang tidak terjangkau membuat banyak orang pesimis bisa memiliki rumah. Sebenarnya, banyak jalan untuk mnemiliki rumah, salah satunya ialah dengan KPR Syariah Non Bank. Skema ini cukup populer belakangan ini karena menawarkan beberapa keuntungan dibandingkan pembelian menggunakan KPR Bank. Tetapi, dibalik berbagai kemudahan tersebut tentu ada beberapa konsekuensi yang harus Anda terima. Berikut ialah pengalaman saya dalam memanfaatkan fasilitas ini untuk memiliki rumah pertama. Disclaimer: pengalaman ini mungkin saja berbeda dengan yang Anda alami
Keuntungan
- Akad sesuai prinsip Syariah. Bagi sebagian orang, KPR Bank bertentangan dengan ajaran Islam karena dinilai mengandung bunga dan denda. Adanya KPR Syariah Non Bank telah memberi opsi yang lebih aman secara syariat karena akadnya yang dianggap tidak bathil.
- Bebas biaya-biaya, seperti, provisi bank, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, BPHTB, appraisal, dan sebagainya. Salah satu penghambat orang untuk mengambil KPR melalui Bank ialah biaya awal yang besar, bahkan bisa sampai 5% dari harga rumah. Selain menabung untuk DP, masyarakat terkadang lupa bahwa terdapat biaya kredit yang juga menjadi kewajiban. Adanya KPR Syariah Non Bank tentu memberi kemudahan bagi calon pembeli rumah karena bisa fokus pada tabungan untuk DP saja.
- Besaran angsuran yang lebih rendah. KPR Syariah Non Bank biasanya menggunakan akad jual beli sesuai dengan harga yang sudah disepakati kedua belah pihak. Meskipun di awal harganya menjadi jauh lebih tinggi dibanding harga pasar, namun besaran angsurannya akan flat sampai lunas. Pada kasus rumah yang saya beli, jika saya simulasikan, maka margin cicilan rumah hanya setara dengan 8% suku bunga bank konvensional menggunakan skema anuitas. Ini terhitung murah, disaat suku bunga floating KPR yang mencapai 11-14%.
- Administrasi yang sederhana. Pengajuan KPR Non Bank ini hanya memerlukan KTP, Kartu Keluarga, NPWP, dan Surat Nikah (jika sudah menikah). Setelah semua syarat terpenuhi, pinjaman Anda akan segera diproses. Nama Anda juga tidak dilakukan pengecekan BI Checking (sekarang menjadi SLIK OJK), sehingga bila memiliki tunggakan utang pada lembaga keuangan lainnya masih ada harapan pinjaman Anda diterima.
- Legalitas. Jika menggunakan KPR Bank, maka seluruh risiko akan ditanggung Bank. Inilah alasan mengapa KPR Bank terkesan lebih rumit, karena Bank sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Mulai dari harga rumah yang dinilai secara independen oleh appraiser untuk menghindari mark up harga yang tidak masuk akal, pengecekan legalitas tanah dan bangunan oleh notaris termasuk pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional, pengalihan risiko gagal bayar akibat kematian serta pengalihan risiko bangunan rusak akibat terbakar ke pihak asuransi. Hal semacam ini belum tentu Anda dapatkan saat membeli rumah dengan KPR Syariah Non Bank.
- Kredibilitas Developer. Perumahan yang dibangun dengan skema KPR Non Bank umumnya dilakukan oleh developer kecil. Modal yang dimiliki oleh perusahaan ini sangat terbatas. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa saja rumah Anda terancam gagal dibangun. Seandainya dibangun, prosesnya akan sangat lamban karena developer membangun bertahap memanfaatkan cicilan yang dibayar konsumen.
- Penyimpanan Sertifikat. KPR merupakan kredit jangka panjang, dimana saat ini rata-rata pengajuan KPR menggunakan tenor 10-15 tahun. Dengan jangka waktu selama itu, siapa pihak yang amanah menjaga sertifikat agar tidak hilang dan disalahgunakan. Jangan sampai sertifikat tanah dan bangunan yang Anda beli diagunkan kembali oleh developer ke Bank.
- Fleksibilitas pelunasan. Karena KPR Non Bank menggunakan akad jual beli yang harganya sudah ditentukan di awal, maka jika ingin melakukan pelunasan dipercepat, Anda harus melunasi seluruhnya, baik pokok maupun margin. Berbeda dengan KPR Bank yang bisa dengan jelas Anda ketahui sisa pokok hutangnya, sehingga jika ingin lunas sipercepat, cukup membayar sisa pokok utang + denda yang nominalnya relatif kecil
- Dokumentasikan seluruh tahapan kredit yang dilakukan. Tidak perlu ragu untuk memfoto dan memvideokan seluruh kegiatan yang terkait kredit Anda, mulai dari kegiatan PPJB, serah terima rumah, akad kredit, dan sebagainya. Termasuk menyimpan segala bukti pembayaran yang sudah Anda lakukan.
- Hanya bertransaksi menggunakan rekening milik developer atau Rekening PT, bukan pribadi. Bank selalu melakukan verifikasi terhadap akta pendirian suatu PT. Bertransaksi melalui rekening PT sudah meminimalisir penyalahgunaan dana oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Selain itu, hal ini juga memastikan perusahaan developer yang Anda pilih memang valid dan tidak fiktif.
- Tanyakan siapa pihak yang menyimpan dokumen berharga seperti sertifikat rumah. Meskipun ini KPR Non Bank, tidak ada salahnya khusus penyimpanan sertifikat tetap bekerjasama dengan Bank di safe deposit box dan dilakukan monitoring secara rutin keberadaannya. Bermusyawarahlah dengan seluruh debitur dan meminta developer menyimpan sertifikat di bank yang terpercaya agar tidak hilang dan disalahgunakan.
- Sebisa mungkin libatkan notaris dalam setiap kegiatan, mulai dari PPJB, AJB, dan sebagainya. Pemilihan notaris bisa didiskusikan dengan developer. Termasuk jika ada perjanjian yang dilanggar, konsultasikan kembali dengan notaris apakah perlu dibuatkan addendum atau tidak. Diskusikan juga siapa pihak yang akan menanggung biaya notaris.
- Segera tempati rumah ataupun kuasai fisiknya dengan menyewakan ke pihak lain, jangan sampai kosong. Sudah bukan rahasia umum, penyerahan sertifikat hak milik oleh developer perumahan syariah non bank biasanya memakan waktu yang lama bahkan hingga bertahun-tahun. Pada saat itu, Anda belum memegang sertifikat apapun selain PPJB. Kuasai fisik rumah dengan menempati-nya atau menyewakan ke pihak lain, agar lingkungan menjadi hidup. Sebisa mungkin warga aktif melakukan berbagai kegiatan di dalam lingkungan perumahan, libatkan juga developer. Sehingga jika dikemudian hari terdapat wan prestasi, warga memiliki bukti yang kuat atas kepemilikan rumah.
- Kenali developer. Berbeda dengan KPR Bank, perjanjian Anda saat ini hanya melibatkan Anda sebagai pembeli dan developer selaku penjual. Cari tahu kredibilitas developer Anda, termasuk individu-individu penyusun organisasinya. Jalin silaturahmi secara rutin dan komunikasikan setiap masalah yang ada.
Thursday, August 27, 2015
Jalan-Jalan Bermotifkan Kuliah Kerja Lapang
Setelah kunjungan ke Desa Sade selesai kami segera ke Asrama Haji Kota Mataram buat istirahat dan beres-beres sebentar sebelum lanjut jalan lagi. Yup, kami semua bakal stay disini. Tempatnya standar sih, tapi lumayan bersih. Semua temen bisa tidur di kasur tanpa harus pasang posisi ikan sarden. Selain itu tiap kamar punya dua kamar mandi. Lumayan lah bisa menekan antrian. Selanjutnya kami langsung segera menuju Pantai Krandangan dekat sama Pantai Senggigi. Pantainya sih jujur aja gak bagus haha. Kita sengaja kesini kata sopir busnya biar gratis aja gitu. Trus salah satu dosen saya menjelaskan kalau karakteristik pantai yang ada kurang cocok untuk dijadikan objek wisata air. Walaupun begitu, suasana sore menjelang sunset membuat saya dan rekan-rekan tetap senang buat foto-foto disana. Hitung-hitung pemanasan buat destinasi selanjutnya.
Hari kedua di Lombok, agenda kami adalah kunjungan ke Kantor Gubernur NTB untuk menghadiri seminar dan ramah tamah. Biasa lah, acara di kantor pemerintahan gak lengkap rasanya kalau gak ngaret hehe. Tapi kami senang, soalnya disambut baik oleh bapak-bapak dan ibu-ibu dari pemerintahan. Mereka kasih kami banyak informasi yang berkaitan dengan penelitian kami. Kegiatan cuma berlangsung beberapa jam. Daripada nganggur dan tidur-tiduran di asrama, saya memutuskan untuk segera ke Kantor BPS Kabupaten Lombok Barat yang ada di Kecamatan Gerung buat ambil data sekunder. Saya patungan sewa angkot buat ke Kantor Bupati Lombok Barat sama 6 orang teman lainnya. Berhubung tujuan kita berbeda-beda tapi masih di satu areal yang sama, maka angkot bakal anterin satu-satu ke SKPD-SKPD yang sudah kita tentuin sebelumnya. Sampai kantor BPS saya langsung mohon izin minta data yang saya butuhkan buat penelitian saya. Bapak pegawai BPSnya lumayan baik dan mau repot, buktinya semua data yang saya mau dikasih tanpa ragu-ragu (kalau ga salah saya pinjem sampai belasan buku). Yang ada di pikiran saya saat itu besok saya cuma mau jalan-jalan. Alhasil hari itu juga saya rapiin semua data di kantor BPS. Belum rapih juga sih, baru saya salin aja dan fotoin satu-satu. Pokoknya nanti tinggal diberesin sebentar dan diolah. Saya pun pamit dan main-main sebentar di Taman Kota Giri Menang, Gerung. Lalu pulang dan mampir sebentar di pasar buat makan Ayam Taliwang yang tersohor itu.
Hari ketiga saya memutuskan untuk melakukan observasi lapang di kawasan Lombok Barat, khususnya mengenai kondisi perekonomian. Supaya nggak bete dan ada temennya saya putuskan untuk ikut teman yang akan melakukan telusur pantai sepanjang pantai barat. Dimulai dari kawasan Batulayar yang memang menurut data merupakan salah satu wilayah dengan tingkat perekonomian tertinggi dari sektor pariwisata. Dari Batulayar kami berdua terus jalan kaki ke arah utara (entah berapa kilometer panjangnya, dan entah pula apa saja nama pantainya). Lalu kamin tiba di Pantai Batubolong. Terus melakukan pengamatan. Mulai dari panas terik sampai hujan deras. Pokoknya kami jalan terus ke utara hingga akhirnya berakhir di Pantai Mangsit. Lumayan terhibur karena pantainya lumayan bagus warnanya hijau tosca. Tapi agak takut juga disana cuman ada kami berdua dan ombaknya lumayan besar dengan garis pantai yang kecil. Pokoknya hari itu bener-bener get lost aja. Cari mesjid dan cari makan lagi ke arah Senggigi. Lalu akhirnya memutuskan untuk menikmati angin sore di Dermaga Cicak, Pantai Senggigi. Serunya disana kami bertemu sama beberapa teman juga.
Hari keempat dan seterusnya saya habiskan untuk LIBURAN. Yeah. Prinsipnya selama ada waktu kosong di asrama langsung saya gunakan untuk mengolah data. Sisanya ya jalan-jalan sama teman-teman. Mulai dari Pantai Kuta, Pantai Tanjung Aan, Pantai Pink, dan lain sebagainya. Ini baru Lombok. Pantainya indah-indah banget. Selain itu juga terasa milik sendiri karena sepi. Perjalanan yang dilakukan juga lumayan berat, selain membutuhkan waktu yang lama kondisi jalan juga rusak parah di beberapa titik. Saya memutuskan untuk tidak ke Gili (Trawangan, Meno, Air) karena selain sudah capek, dana terbatas, juga beberapa teman tidak merekomendasikan. Katanya lebih baik saya puas-puasin menikmati Pantai di Lombok Tengah yang memang bagus-bagus.
Hari terakhir sebelum pulang saya gak mau terlalu capek. Akhirnya memutuskan untuk muter-muter Kota Mataram sambil belanja oleh-oleh. Persiapan besok harus berangkat jam 3 pagi lagi dari asrama ke Bandara soalnya kita ambil penerbangan pertama Garuda.
Pokoknya KKL 3 ini seru banget, mulai dari perjuangan sebelum berangkat sampai kembali lagi ke rumah dan kampus semuanya asyik. Ini akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan buat kami semua, khususnya mahasiswa Geografi UI angkatan 2012. Yeah
Tuesday, March 3, 2015
Belajar Sejarah ke Lubang Mbah Soero
Sunday, March 1, 2015
Terimakasih Atas Dukungannya!
Saturday, February 28, 2015
Apa Jadinya Kalau Bertemu Sesama Alumni SMA 3?
Friday, January 23, 2015
Nostalgia di Kampung Baru, Pariaman
Saturday, January 17, 2015
Sendiri dan Bersama
Kisah Pagi Itu
Pagi itu saya benar-benar semangat memulai hari. Saya coba berpikir positif saja. Sesekali saya bertingkah seperti orang gila, senyum-senyum kegirangan membayangkan semuanya menjadi lebih indah dan mudah jika saya melewati hari ini. Saya berjalan ke sebuah tempat.
Tidak terasa saya sudah berada persis di tempat itu. Lalu, rasa cemas dan gelisah itu mulai muncul. Keringat dingin mulai bergulir perlahan. Ah, apa yang saya lakukan. Kenapa hal ini menjadi seserius ini. Sudah terlanjur, saya tepis semua keraguan itu.
Tidak seburuk yang saya bayangkan. Itulah yang langsung muncul dipikiran saya. Setidaknya saya sudah sedikit lega sekarang. Ya, tidak selamanya yang serius selalu membuat kita depresi. Contohnya pagi itu, ternyata semua berlangsung dengan baik-baik saja. Saya harap akan terus begini, sampai kapanpun begini.
Tapi saya tidak akan memaksa. Biar waktu yang menjawab. Saya cuma bisa lakukan ini. Kalau memang tidak berhasil, ada dua kemungkinan. Saya akan tetap menerima dan mensyukuri ini semua, atau saya akan menghilang. Itu saja.
Monday, December 22, 2014
2015
Sunday, December 21, 2014
Keluarga Baru
Selesai mengikuti Pendidikan Latihan Dasar, saya bertemu dan berkenalan dengan ketua bidang serta anggota PSDM lainnya. Saat itu anggota baru PSDM hanya tiga orang. Bayangkan, TIGA ORANG! hahaha. Semuanya angkatan 2012. Ada saya, Nana, dan Ismail. Kebetulan Nana adalah teman sejurusan saya. Lumayanlah, saya jadi ada teman ngobrol. Sisanya adalah anggota PSDM yang berasal dari PLD sebelumnya (semacam angkatan di KSM EP UI). Satu-satunya yang saya kenal cuma Anshol, dia anak Biologi. Sisanya saya tidak kenal sama sekali. Usut punya usut, anggota PSDM lainnya ada si Nicko dan dua orang mahasiswa lain (duh saya lupa namanya parah). Kenapa saya bisa lupa sama nama dua anggota lain itu? soalnya mereka mengundurkan diri jauh sebelum saya benar-benar mengenal mereka. Terakhir, ada si Ketua Bidang PSDM, Sarah. Alhasil, kami satu tim cuma punya enam anggota. Tiga laki-laki, tiga perempuan, hahahah. Bagi saya, bekerja bersama mereka selama satu tahun merupakan sebuah hal yang luar biasa. Banyak ujian dan konflik kami hadapi, tapi syukurlah semua selalu berakhir dengan bahagia. Lalu, bagaimana sebenarnya sosok pribadi dibalik "Geng PSDM" ini? Berikut penjabarannya...
1. Sarah (Kesos, FISIP UI)
Ketua bidang kami. Ceria dan tidak pernah lelah. Selalu memberi semangat kepada kami, anak-anak buahnya di PSDM. Tidak pernah mau menyusahkan staff PSDM. Pokoknya kontribusinya sebagai ketua bidang sangat besar dan nyata. Sarah berhasil membuat PSDM menjadi sebuah keluarga. Kita saling berbagi tugas dan mengeksekusinya bersama-sama. Walaupun ya, ujung-ujungnya Sarah yang paling banyak kerjanya hehe. Rese-nya Sarah itu kalau sudah ngambekkan, kadang chatnya dia di whatsapp atau line suka jadi ngalor ngidul. Tapi besoknya pasti sudah kembali normal. Mahasiswi yang satu ini orangnya cukup well planning dan sigap, berbagai program kerja PSDM disusun dengan rapih dan sebagian besar terlaksana dengan baik. Hebat deh pokoknya!
2. Anshol (Biologi, FMIPA UI)
Satu-satunya harapan kami ketika acara PSDM berlangsung dengan krik-krik. Tau kenapa? Ya, Anshol jago sekali dalam bernyanyi. Dia sering dijuluki sebagai Raisa-nya KSM. Jadi, kalau acara mulai membosankan, kami tinggal tampilkan Anshol buat bernyanyi, beberapa menit kemudian suasana kembali heboh hehe. Sosok yang lumayan sibuk sebagai asisten lab di jurusannya ini terlihat lebih dewasa dibanding anak PSDM yang lain. Anshol banyak memberi masukkan demi kemajuan bidang kami. Dia berhasil mengungkapkan sebuah permasalahan krusial di PSDM tanpa menyinggung teman-teman yang lain, dan kita berhasil menyelesaikannya.
3. Nicko (Kapal, FTUI)
Salah seorang aktivis ODOJ hehehe. Akhir-akhir ini Nicko memang sangat sibuk dengan berbagai aktivitas lainnya. Walaupun demikian, Nicko selalu memberikan perhatian buat PSDM ini. Dia cenderung lebih nerimo dalam setiap keputusan yang kami ambil, dan langsung menjalankannya dengan baik. Nicko anaknya tidak banyak omong dan protes (beda banget ama saya), dia melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik tanpa ada kekurangan. Sebagai salah satu PSDM Boys, Nicko memang harapan saya dan mail buat menemani kami dalam mengimbangi kontribusi PSDM Girls hahaha.
4. Nana (Geografi, FMIPA UI)
Salah satu yang paling ceria juga, gampang sekali akrab dengan anggota KSM yang lain. Suka sekali menjadi bahan perbincangan geng PSDM kami dari segi percintaannya dengan pacar-pacarnya haha (peace nana :v). Walau dia suka angot-angotan juga buat datang krida, tapi tiap rapat PSDM Nana sering hadir dan mencurahkan ide-ide segarnya. Nana juga tidak pernah mengeluh ketika diberi tugas, semuanya diterima dengan baik. Orangnya fleksibel sekali, tiap ada tugas baru dilaksanakan dengan santai, dan ujung-ujungnya selalu terlaksana dengan kece. Menjadi sosok yang netral, tidak pernah memihak kepada salah satu diantara kami kalau ada yang salah.
5. Mail (Sipil, FTUI)
Seorang pemuda yang rendah hati serta memiliki hati yang sangat halus. Bikin saya tidak tega sendiri kalau mau protes sama dia. Mail sosok yang sulit ditebak, kadang mellow dan tidak banyak omong, kadang meledak-ledak dan heboh haha. Tapi... dia termasuk yang paling banyak dan berkelanjutan loh kerjaannya, setiap ada yang ulang tahun mail lah yang bertugas membuat kartu ucapan selamat. Sangat kritis terhadap berbagai fenomena yang ada, seru untuk diajak diskusi. Satu hal lagi yang tidak bisa dilepaskan dari seorang Mail, dia adalah pribadi yang sangat unik.
6. Saya (Geografi, FMIPA UI)
Dah aku mah apa atuh wkwkwk.
Jadi, itu dia keluarga saya dari PSDM KSM EP UI 2014. Tidak terasa masa kepengurusan kami akan segera berakhir. Suka duka yang telah kita lewati, kini siap-siap kami simpan menjadi sebuah arsip yang sangat berharga dimasa depan. Menjadi sebuah cerita, mengingat perjuangan kami di masa lalu. Saya sangat senang bisa bergabung menjadi anggota PSDM, benar-benar pengalaman yang mengasyikkan. Terimakasih ya Sarah, Anshol, Nicko, Nana, dan Mail. Kalian baik-baik sekali, mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan. Semoga kita tetap dapat saling bersilaturahmi, walau bukan lagi sebagai PSDM KSM EP UI 2012. Cheers!
Monday, December 15, 2014
Apakah semua orang punya sahabat?
Sunday, December 14, 2014
Jadi Fasilitator Bidikmisi UI
Maaf
Thursday, August 28, 2014
Jalan-jalan Ke Sumatera Utara!
Hari ke-1
Saya sampe di Bandara Soetta jam sembilan pagi, diantar Ummi dan Ayah naik taksi. Langsung menuju terminal tiga dan naro bagasi. Kebetulan saya udah mobile check-in di rumah. Lalu duduk-duduk sebentar sebelum masuk boarding room. Jam 10.10 saya boarding, dan jam 10.40 pesawat take-off. Dua jam lima belas menit kemudian pesawat landing di Kualanamu International Airport. Selesai ambil bagasi saya keluar dari bangunan bandara yang megah tersebut. Mata saya pun tertuju pada plang penunjuk jalan ke stasiun kereta api bandara kualanamu. Ya, satu-satunya bandara yang punya kereta di Indonesia ya kualanamu ini. Kebetulan pesawat saya untuk balik ke Jakarta lumayan pagi, jam 7.40. Makannya, untuk cari aman sekaligus penasaran saya beli lah tiket kereta untuk perjalanan pulang dari Medan ke Kualanamu. Ternyata lagi ada promo bulan kemerdekaan. Tiket yang awalnya Rp 80.000 diskon jadi cuma Rp 60.000, lumayan lah ya. Saya pun mendapatkan struk bukti pembayaran yang dapat ditukar dengan tiket saat hari keberangkatan. Selanjutnya saya keluar lagi dari bangunan stasiun dan mencari bus damri ke terminal amplas. As always, calo bertebaran dimana-mana. Tapi untungnya tujuan dan bus yang ingin saya naiki jelas, sehingga tidak berhasil menarik para calo. Bis damri ukuran 3/4 sudah menunggu. Lumayan juga bisnya, gak kalah dengan damri di Cengkareng. Tapi... ini bis ngetemnya lama juga. Udah hampir setengah jam baru dia jalan. Tarifnya cuma Rp 10.000 loh. Sekitar satu jam perjalanan bis sampe juga di Amplas. Saya sudah ditungguin sama sodara saya, Tek Dar dan Pak Zul. Kurang tau sebenernya hubungan sodaranya apa, yang jelas mereka berdua dijodohin ama Ayah saya dan nikah di rumah nenek saya di Jakarta hihi, jadi wajar aja kalo saya disambut dengan hangat oleh mereka. Kami pun menuju rumah tempat saya menginap di sekitar jalan bromo menggunakan angkot. Hari pertama saya habiskan dengan istirahat dan ngobrol-ngobrol dengan keluarga Tek Dar.
Hari ke-2 (Go to Samosir)
Pagi-pagi saya udah bangun. Hari ini saya mau pergi ke Samosir. Berhubung saya masih belum berani naik angkot sendirian ngeteng dari Kota Medan ke Parapat maka saya putuskan untuk naik travel. Setelah baca-baca review orang di internet, saya memilih untuk menggunakan jasa Nice Trans Taxi. Loketnya tersebar di beberapa penjuru sumatera utara, ada yang di bandara, ada pula yang di Jalan Stasiun Besar Kota Medan seberang lapangan merdeka. Saya diantar naik bentor oleh Pak Zul ke loket yang di seberang lapangan merdeka. Tiba di loket langsung disambut oleh petugasnya yang berseragam rapih. Saya masih harus menunggu penumpang lain. Setelah cukup lama menunggu ternyata belum ada juga penumpangnya, saya pun diantar ke bandara untuk bergabung dengan penumpang yang menunggu di bandara. Tiba disana sudah ada seorang ibu dengan seorang anak gadisnya ditambah seorang perempuan bule. Nah, ongkosnya sebenarnya Rp 75.000, tapi berhubung baru ada 4 orang kami ditawari untuk bayar Rp 100.000 dan mobil akan segera berangkat. Saya tanya ke ibu-ibu dan bule tersebut, mau gak mereka nambah bayarannya supaya cepet berangkat? ternyata mereka mau. Yaudah saya pun ngikut aja. Setelah sekitar satu setengah jam perjalanan kita istirahat makan siang. Saya ngobrol-ngobrol dengan penumpang lain. Ternyata si ibu-ibu itu asli orang samosir, tapi dia tinggal di surabaya, nah ceritanya dia sama anaknya mau pulang kampung. Sedangkan si bule perempuan ternyata berasal dari perancis, namanya Mehena, dia lagi backpackeran sendirian. Mereka ramah-ramah. Saya pun asyik ngobrol sama Mehena. Kita sharing mengenai banyak hal. Si sopir travel malah ketiduran. Si Mehena ampe bete haha. Untunglah si sopir dibangunin sama yang punya warung makan. Perjalanan pun berlanjut. Beberapa jam kemudian kami tiba di parapat. Kami langsung diantar ke dermaga Tigaraja untuk menyeberang ke Tuk-tuk di Pulau Samosir. Saya naik kapal yang masih kosong bareng Mehena. Pas lagi nunggu naiklah seorang kakak-kakak, dia kayanya warga sana. Saya pun nanya-nanya banyak hal sama dia. Dia merekomendasikan saya buat nginep di Carolina Cottages. Saya udah sering denger nama penginapan tersebut, tapi saya takut penuh, soalnya belum booking kamar. Tapi si kakak meyakinkan kalo pasti ada kamar kosong, soalnya ini bukan musim liburan. Oke, saya batalkan rencana menginap di Bagus Bay, saya ganti haluan ke Carolina. Oh iya, kapalnya ini bakal nganterin kita ke dermaga penginapan langsung loh. Saya menikmati suasana Danau Toba yang tenang dan sejuk. Tidak sampai 30 menit kapal tiba di Tuk-tuk. Si Mehena pamit duluan, dia mau nginep di Liberta. Saya pun tiba juga di Carolina. Langsung ke resepsionis nanyain kamar kosong. Yahhh, ternyata kamar yang harga Rp 75.000 ama Rp 90.000 udah penuh, alhasil saya pilih yang harganya Rp 140.000 per malam. Hmmm, tapi kamarnya gede banget, kasurnya pun ada dua (padahal saya sendiri haha). Dan langsung menghadap danau. Bener-bener indah... saya pun puas bisa leyeh-leyeh disana. Kerjaannya cuma tidur-tiduran haha.
Hari ke-3 (Go to Berastagi!)
Pagi pagi banget saya bangun, solat subuh, dan langsung mandi brrr kebayang gak airnya sedingin apa. Saya pun bayar biaya nginep dan check-out. Saya nunggu kapal yang mau ke parapat di depan dermaga cottage. Gak berapa lama kapalnya dateng. Sebagian besar penumpangnya adalah bule-bule (orang Indonesianya mana??). 25 menit kemudian kapal kembali merapat ke dermaga Tigaraja di Parapat. Hmm, saya tergoda untuk ke sipiso-piso dan mendatangi sebuah travel. Ternyata dia minta biaya yang sama buat ke sipiso-piso ama Berastagi. Yaudah kalo gitu mending saya ke brastagi dulu aja sekalian. Hmm biayanya mahal aja Rp 120.000. Oh iya namanya Bagus Taxi, loketnya persis di deket dermaga. Sumpah tapi pelayanannya jauh lebih buruk dibanding nice trans taxi. Mobilnya plat hitam, sopir ama petugasnya kagak pake seragam. Tapi mau gimana lagi, saya taunya cuma ini travel yang langsung ke Brastagi dari Parapat. Mobil terisi penuh sama 7 penumpang. Dan saya satu-satunya orang lokal disana (selain supir). Enam orangnya lagi bule semua. Saya duduk disamping sopir laknat yang bawa mobilnya gila. Mana tuh sopir kagak ngerti bahasa inggris, alhasil saya jadi petugas translate para bule. Ditengah perjalanan ada bule yang mual dan minta berenti. Bener aja, pas turun si bule langsung muntah-muntah. Huahahaha baru tau dia sopir Medan kek gitu. Saya tawarin tukeran tempat duduk dia gamau. Yaudah, mobil jalan lagi dan sampe Brastagi. Saya masih belom tau nginep dimana. Bule-bule itu minta dianter ke Wisma Sibayak. Saya bilang ke sopir mau ke daerah yang banyak penginapan murah yang harganya Rp 100.000, trus si sopir bilang," Bah... mana ada pulak". Tapi saya bilang aja pasti ada haha. Pas nurunin bule-bule di wisma sibayak si sopir ternyata nanyain ke resepsionis dan ternyata ada yang cuma Rp 100.000 per malam. Ah, mana ada yang gratis di Indonesia. Si sopir tadi minta duit pula ke saya sebagai ucapan terimakasih buat minum-minum katanya. Saya kasih aja Rp 10.000, kampretnya dia minta tambah jadi Rp 20.000. Hmmm, saya keluarkan kata-kata pamungkas dengan muka melas,"Gak ada bang, saya kan mahasiswa... :')". Wkwkwk dan berhasil dia nerima ceban aja. Oke, saya langsung ke kamar dan tidur. Menjelang magrib saya denger suara orang ngaji-ngaji gitu dari mesjid. Ahh saya kangen mesjid. Saya pun ke resepsionis dan nanyain mesjid. Si ibu pemilik penginapan pun ngasih saya peta. Yuhuu saya pun jalan-jalan sore sembari nyari mesjid. Pas udah nyampe mesjid ternyata mesjidnya masih kosong. Saya lupa kalo disini magribnya udah hampir jam 7 malem. Saya pun keliling lagi nyari makan. Niat nyari rumah makan Padang tapi belom nemu juga (terjamin kehalalannya). Saya pun melihat tenda kaki lima bertuliskan Ayam Bakar Sragen. Penasaran, ngintip sedikit dan penjualnya seorang ibu-ibu berjilbab. Tanpa pikir panjang langsung saya putuskan makan disana. Dan.... makanannya enaaaak banget + porsinya banyak banget (dapet ayam bakar, lalapan, sambel, nasi langsung dua piring, sop semangkok, air minum segelas). Saya ampe ga sanggup ngabisin sopnya. Pulang darisana saya langsung ke mesjid. Pulang dari mesjid tiduran lagi deh dikamar haha.
Hari ke-4 (Sipiso-piso, TAL, dan dipalakin preman!!!)
Seperti biasa, pagi-pagi abis solat subuh langsung mandi dan check-out. Oke, destinasi pertama adalah Air Terjun Sipiso-piso. Kali ini ceritanya saya mau ngeteng naek angkot. Nah, dari wisma sibayak jalan kaki ke terminal pasar berastagi. Dari depan pasar naik angkot kuning Karya Transport (KT) ke Kabanjahe. Bisa juga naek angkot Sigantang Sura. Pokoknya tujuan Kabanjahe. Minta diturunin di Terminal Bus Sinar Sepadan. Ongkosnya Rp 3000 aja. Langsung naik bis sinar sepadan dan minta turunin di Simpang Situnggaling (ciri-ciri: ada gapura tulisan desa tongging). Ongkosnya Rp 6000. Dari simpang situnggaling naik ojek bentor ke sipiso-piso, ongkosnya Rp 5000 aja sekali jalan, jangan lupa minta no hape abangnya biar bisa dijemput lagi pas pulang. Oh iya biaya masuk sipiso-piso Rp 4000. Nyampe di parkiran saya langsung ke salah satu rumah makan padang buat sarapan. Makan nasi goreng + diseduhin luwak white coffe + aer putih totalnya Rp 17.000. Nah, jangan lupa titipin tas disini. Soalnya gempor kalo dibawa naek turun tangga. Pas turunnya sih saya happy-happy aja, pas naeknya napas saya udah senen kamis ga kuat. Huhu terbayarkan juga penasaran melihat sipiso-piso. Nyampe atas saya langsung beli minuman dingin dan izin pamit ke uni penjaga rumah makan. Nelpon tukang ojek bentor dan nunggu untuk dianter kembali ke simpang situnggaling. Oh iya kata Uda di RM Padang kalo mau ke Pagoda naik angkot sigantang sura aja, dia langsung sampe simpang pagoda. Finally, setelah naik sinar sipadan saya lanjut naik angkot sigantang. Diturunin di simpang pagoda dan jalan kaki masuk ke dalamnya. Sebelum masuk saya cari warung dulu buat nitip tas, tapi sepik dikit lah saya pura-pura beli minum hehe. Isi buku tamu dan masuk Pagoda, gratis!! Pagoda ini replikanya Pagoda Swedagon di Myanmar. Bisa disebut juga dengan Taman Alam Lumbini atau International Buddhist Center. Lumayan bisa lihat-lihat pagoda dan tamannya yang indah disini. Pulang dari pagoda saya naik angkot sigantang lagi ke tugu jeruk. Ongkosnya cuma Rp 2000. Dari situ saya naik elf menuju medan. Tujuan akhir bis ini adalah Terminal Pinang Baris, Kota Medan. Ahhh sial terminalnya sepi banget, cuma banyak ama angkot parkir. Saya yang menunggu angkot nomor 124 pun menjadi santapan nikmat preman terminal. Saya digiring ke bagian dalam yang sepi dan dimintain duit buat dia mabok. Duit Rp 35.000 saya pun melayang. Mau gimana lagi, mau ngelawan juga susah. Kayanya orang-orang sana emang udah biasa liat orang dipalakin (apalagi saya bawa tas gede). Saran saya, kalo turun disana turun aja diluar terminal dan tunggu diluar, lalu jangan berdiri sendirian, coba cari teman ngobrol di warung yang ada ibu-ibu penjaganya. Miris banget pokoknya. Sial banget kayanya saya. Mana angkot di medan muter-muter gak karuan, hampir dua jam saya dari sana ke jalan bromo.
Hari ke-5 (Keliling Medan dan beli oleh-oleh)
Hari terakhir di medan saya habiskan dengan menikmati kota medan. Keliling-keliling dan melewati beberapa tempat terkenal. Lalu solat dzuhur di Mesjid Raya Al-Mashun Kota Medan. Dilanjutkan dengan berjalan kaki ke Istana Maimoon. Untuk masuk istana maimun dikenakan biaya Rp 5000 per orang. Puas berkeliling-keliling saya pun naik bentor menuju toko oleh-oleh Bolu Meranti yang ada di seberang hotel garuda plaza. Selesai darisana langsung kembali lagi ke rumah untuk packing dan beristirahat.
Hari ke-6 (Nyobain kereta bandara)
Jam empat pagi saya udah bangun buat mandi dan sarapan. Jam lima pagi saya berangkat menuju stasiun besar kota medan dengan bentor pesanan Pak Zul. Jalanan masih sangat sepi. Tidak sampai 20 menit saya sudah tiba di stasiun. Saya langsung menuju loket penukaran tiket. Setelah mendapat tiket saya pu solat subuh dulu di stasiun. Selesai solat subuh saya duduk-duduk manis menunggu kereta datang. Stasiun kereta bandara ini sangat nyaman. Salah satu stasiun ternyaman yang pernah saya rasakan. Bahkan suasananya sudah seperti di bandara. Jam 5.40 saya mulai memasuki kereta. Dan duduk manis. Bangkunya empuk dan nyaman dengan ruang kaki yang besar bisa untuk selonjoran, sandaran kursi juga bisa diatur hingga sangat rendah dan benar-benar nyaman. Tiga puluh menit perjalanan pun menjadi sangat singkat. Tiba di stasiun bandara kualanamu saya langsung menaiki skybridge menuju bangunan bandara dan bisa ke loket menaruh bagasi. Fyi, airport tax bandara kualanamu lebih mahal dari soekarno-hatta loh, yaitu Rp 60.000 untuk penerbangan domestik. Sebelum masuk boarding room saya sempatkan beli tambahan oleh-oleh sirop markisa dan terong belanda. Canggih, untuk menuju boarding room kita tinggal menempelkan boarding pass pada e-gate yang tersedia, semuanya self-service alias tanpa bantuan petugas. Tapi dari segi toilet, bandara ini masih kotor. Bahkan masih lebih bersih bandara Minangkabau menurut saya. Boarding room sangat nyaman dan luas. Beberapa menit kemudian saya pun masuk ke pesawat yang akan mengantarkan saya ke Jakarta. Terimakasih Sumatera Utara, semoga kita bisa berjumpa kembali!





















































